HomeAnalisis dan OpiniAnalisaAnalisis – Laut Merah yang Kembali Membara: Perang Yaman, Rivalitas Regional, dan...

Analisis – Laut Merah yang Kembali Membara: Perang Yaman, Rivalitas Regional, dan Nasib Solidaritas untuk Gaza

Ketika front di Taiz, Marib, al-Jawf, dan Bab al-Mandeb kembali berkobar, ke mana arah perhatian dunia — dan Gaza — sesungguhnya bergeser?

Kamis, 10 September 2026, kota pelabuhan tua Mocha di pesisir barat Yaman jatuh ke tangan pasukan Houthi, setelah Pasukan Perlawanan Nasional pimpinan Tareq Saleh mundur menjelang fajar dan meninggalkan sejumlah besar kendaraan lapis baja serta tangki bahan bakar yang terekam kamera televisi. Kota yang dahulu masyhur sebagai pusat ekspor kopi dunia itu kini menjadi simbol baru pertaruhan geopolitik di Laut Merah: menurut berbagai laporan lapangan, jaraknya berkisar 60 hingga 80 kilometer dari Selat Bab al-Mandeb, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Dalam dua pekan sebelum jatuhnya Mocha, menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dikutip Al Jazeera, pertempuran di Taiz, pesisir barat, al-Jawf, Marib, dan Dhalea telah menewaskan sekurangnya 194 orang dan melukai 880 lainnya, serta memaksa lebih dari 21.000 warga mengungsi. Pertanyaannya bukan lagi sekadar siapa menguasai Mocha, melainkan ke mana energi, uang, dan perhatian dunia — termasuk perhatian pada Gaza yang masih berdarah di bawah gencatan senjata yang rapuh — sesungguhnya mengalir di tengah eskalasi ini.

Perang saudara Yaman antara pemerintah yang diakui PBB dan gerakan Houthi (Ansar Allah) sempat mereda sejak gencatan senjata yang ditengahi PBB pada 2022. Namun sejak 3 September 2026, pertempuran meletus kembali di lima front sekaligus — eskalasi paling mematikan sejak gencatan itu runtuh. Yang membedakan babak ini dari putaran-putaran sebelumnya adalah konteksnya: ia berlangsung di tengah perang Iran–Israel–Amerika Serikat yang telah berjalan sejak akhir Februari 2026 dan memicu krisis pelayaran di Selat Hormuz, serta di tengah gencatan senjata Gaza yang mulai berlaku 10 Oktober 2025 namun terus-menerus dilanggar.

Artikel ini bersifat analitis, bukan pembenaran moral atas satu pihak dalam perang internal Yaman. Tesisnya: eskalasi di Yaman, sekalipun berakar pada persoalan domestik yang panjang, kini terjalin erat dengan pertarungan regional yang lebih besar — dan salah satu korban tak langsungnya adalah berkurangnya sorotan dunia terhadap penderitaan yang masih berlangsung di Gaza. Ini adalah argumen tentang pergeseran perhatian dan instrumentalisasi, bukan klaim bahwa satu pihak di Yaman “benar” secara moral dan pihak lain “salah”. Angka korban yang masih bergerak — termasuk soal serangan terhadap penjara di al-Hazm — akan disajikan sebagai rentang dengan atribusi sumber, bukan sebagai angka final.

Mocha dan Logika Lima Front

https://images.openai.com/static-rsc-4/EE7Xnb5UpLa5Ga8FVrWbkde3ShfO0mycfsOSnJdvcjHQUjdSzGavMMs7o8d0D2G2Nze18xNhror8av5AXn45iiGCAUzNcjDfVOCFx3iBH30_pQ3rlwL4hGb17RPbkAPtM5APnqiGWNx7S_fe3gKdJ94ZfXg51HCaOwPLeNwZeGSUGhUh9kAAmPyG3BZ2H-cW?purpose=fullsize

Menurut Yazeed al-Jeddawy, manajer riset di Sanaa Center for Strategic Studies, Houthi mengincar dataran tinggi dan jalur yang menghubungkan Taiz dengan Mocha, dengan tujuan memutus jalur pasokan pemerintah dan mencegah pasukan di pesisir barat menyatu dengan poros militer Taiz. Di Marib, komentator politik Yaman Saddam al-Huraibi menyebut wilayah itu sebagai basis pemerintah di utara yang telah lama diincar Houthi karena kekayaan minyak dan gasnya, sementara di al-Jawf pertempuran menentukan apakah tekanan terhadap Marib akan mereda atau justru meningkat.

Namun kemajuan militer Houthi ini tidak bebas dari kritik, bahkan dari sudut pandang yang bersimpati pada narasi perlawanan terhadap koalisi yang didukung Arab Saudi. Operasi di sepanjang pesisir barat berlangsung di kawasan padat penduduk, dan serangan rudal serta drone Houthi terhadap Mocha bulan lalu dilaporkan turut menewaskan dan melukai warga sipil serta merusak fasilitas pelabuhan yang menjadi sumber penghidupan nelayan setempat. Sejak 2014, perang Yaman secara keseluruhan diperkirakan PBB telah menewaskan lebih dari 150.000 orang — sebuah beban kemanusiaan yang jauh lebih besar daripada narasi kepahlawanan mana pun yang melekat pada satu front pertempuran.

Angka yang Masih Bergerak: 194, 880, dan Duka yang Sulit Diverifikasi

Cifra 194 tewas dan 880 luka yang dirujuk di atas berasal dari WHO untuk periode 23 Agustus hingga 5 September 2026, sebelum jatuhnya Mocha — bukan angka final dari keseluruhan eskalasi yang masih berlangsung. Setelahnya, serangan terhadap sebuah penjara di al-Hazm, ibu kota provinsi al-Jawf, dilaporkan menewaskan sedikitnya 23 orang; Houthi menyebutnya sebagai serangan koalisi yang didukung Arab Saudi, sementara pihak lain dalam konflik belum memberikan konfirmasi independen atas siapa yang bertanggung jawab. Demikian pula klaim Houthi bahwa mereka menimbulkan “ratusan” korban pada pasukan pemerintah dalam serangan rudal di Hadramaut dan Marib awal Agustus lalu tidak dapat diverifikasi secara independen, dan pihak militer pemerintah sendiri membingkainya sebagai balasan atas serangan mereka terhadap Houthi.

Pola ini berulang di hampir setiap front: kedua belah pihak cenderung membesar-besarkan kerugian lawan dan mengecilkan kerugian sendiri. Pembaca yang ingin memahami skala sesungguhnya dari tragedi ini perlu menahan diri dari angka tunggal yang terdengar pasti, dan sebaliknya memperhatikan rentang serta sumber atribusinya — sebagaimana yang coba diterapkan artikel ini.

Dari Seruan Solidaritas ke Kartu Tawar Geopolitik

https://images.openai.com/static-rsc-4/G162TCBLlucGEzTsgdOUwE4NAUd8CMMQI4IjRlKsZ43lLg5LIi-mwMcsUgJGgK0RVOl14B16OmIE03w2J2kU9D0vqTk17s0Lt4t3ClHxJFfQhbl_CxG2pHqiB2aYxIA2H-6UCRowUoIMTTdy0b8znC1xYzi0C_9-tFtfL2u1hWPgrbGwfXypJBAwYK7uOfDA?purpose=fullsize

Untuk memahami kaitan front Yaman dengan Gaza, penting menelusuri sejarahnya. Sejak November 2023, Houthi melancarkan serangan rudal dan drone terhadap kapal-kapal di Laut Merah, menyatakan tindakan itu sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Palestina di Gaza. Kampanye itu sempat dihentikan setelah gencatan senjata Gaza mulai berlaku pada Oktober 2025, sebelum diumumkan kembali sebagai larangan terhadap kapal-kapal berafiliasi Israel pada Juni 2026, seiring pecahnya kembali perang Iran–Israel.

Di sinilah letak nuansa yang perlu ditegaskan, sekalipun terhadap aktor yang kerap dipandang simpatik oleh sebagian pendukung Palestina: perang internal Houthi melawan pemerintah Yaman yang tengah berkecamuk saat ini pada dasarnya adalah kelanjutan rivalitas domestik sejak 2014, bukan perpanjangan langsung dari perjuangan Palestina. Fuad Mussed, analis politik Yaman, menilai kedekatan front barat dengan Bab al-Mandeb memberi Iran leverage tambahan atas jalur pelayaran internasional — sebuah kalkulasi geopolitik yang berpusat pada kepentingan Teheran, bukan semata pada nasib anak-anak Palestina di Gaza. Ribuan warga Yaman yang tewas dan terluka dalam dua pekan terakhir adalah korban dari pertarungan kekuasaan regional yang menggunakan kosakata solidaritas Palestina, namun berlangsung jauh dari Gaza dan dengan logikanya sendiri.

Front di Yaman kembali memanas, tetapi sorotan dunia pada Gaza justru meredup — bukan karena penderitaan di sana berkurang, melainkan karena panggung dunia kini terbagi ke banyak arah sekaligus.

Dampak ke Gaza: Panggung yang Terbagi

https://images.openai.com/static-rsc-4/vlXtuUQZN2UAp8__PwLCUY3lNdpwOqYjwfr1jmt1sl5QZ4RKlaH1bK8hRIIsA1hV5vKUXAzNFZz71zVs0_Y0cbNoROOvxFdxROjsYsoYgFIuw_JMyUyrwVmZBRYgVgDX1h-6cZcTgrMzLCbHmUUrxNp_bam8LrN3pRGiAYKRgk8lSLifB7PpoIebi8ZjePrY?purpose=fullsize

Sementara dunia menyorot Mocha dan Selat Hormuz, gencatan senjata di Gaza yang mulai berlaku 10 Oktober 2025 tetap rapuh dan jauh dari damai yang sesungguhnya. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Gaza yang dihimpun lembaga Gisha, sejak gencatan senjata berlaku hingga 11 Agustus 2026, sedikitnya 1.259 warga Palestina tewas dan 4.146 lainnya terluka akibat serangan yang terus dilancarkan rezim Zionis di wilayah pendudukan — dan angka itu kemungkinan besar telah bertambah sejak laporan tersebut disusun. Secara keseluruhan, korban tewas warga Palestina di Gaza sejak Oktober 2023 disebut berbagai lembaga kemanusiaan telah melampaui 73.000 jiwa, mayoritas perempuan dan anak-anak — angka yang terus diperdebatkan namun secara konsisten dianggap sebagai perkiraan minimum oleh banyak peneliti independen.

Garis Kuning yang membelah Jalur Gaza membatasi warga Palestina hanya pada kurang dari separuh wilayah mereka sendiri, sementara klaim otoritas pendudukan bahwa 600 truk bantuan masuk setiap hari, menurut catatan Gisha, tidak mencerminkan terpenuhinya kebutuhan riil penduduk. Di titik inilah eskalasi Yaman punya dampak tidak langsung: setiap hari yang dihabiskan media global untuk front Bab al-Mandeb dan Selat Hormuz adalah hari yang tidak dihabiskan untuk menuntut akuntabilitas atas pelanggaran gencatan senjata di Gaza. Ini bukan klaim konspirasi, melainkan realitas ekonomi perhatian (attention economy) di ruang media internasional yang kapasitasnya terbatas.

Perlu juga dicatat secara jujur bahwa penghentian sementara serangan Houthi terhadap kapal-kapal di Laut Merah setelah Oktober 2025 sempat meringankan biaya logistik pelayaran global, termasuk jalur-jalur yang beririsan dengan pengiriman bantuan kemanusiaan ke kawasan. Eskalasi yang kini berlangsung berisiko membalikkan sebagian perbaikan itu, menambah tekanan pada rantai pasok yang sudah tegang akibat blokade dan serangan di Selat Hormuz sejak akhir Februari 2026.

Bab al-Mandeb: Kepentingan Minyak, Bukan Hanya Kepentingan Moral

Di luar kerangka Israel–Palestina, penting menilai kepentingan atas Bab al-Mandeb secara objektif. Selat ini menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan dilalui sekitar 12 hingga 15 persen perdagangan dunia. Penguasaan Houthi atas Mocha membawa mereka lebih dekat ke Dhubab dan Pulau Perim yang berhadapan langsung dengan selat tersebut, namun sejumlah analis hukum internasional mengingatkan bahwa penguasaan wilayah daratan di sekitar selat tidak serta-merta memberi kendali atas jalur pelayaran internasional itu sendiri, yang di bawah hukum laut internasional tunduk pada rezim lintas transit.

Kepentingan Iran atas kawasan ini, sebagaimana disebut Mussed, adalah menjaga agar Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb sama-sama berada dalam pengaruhnya sebagai alat tawar terhadap kekuatan regional dan internasional — sebuah strategi yang telah berjalan bertahun-tahun dan berpuncak pada blokade Hormuz sejak perang dengan Amerika Serikat dan Israel pecah akhir Februari 2026. Ini adalah kalkulasi kekuasaan negara, bukan gerakan pembebasan, dan patut dinilai dengan kerangka yang sama objektifnya seperti kita menilai kepentingan Arab Saudi maupun Amerika Serikat di kawasan yang sama.

Kepentingan atas Bab al-Mandeb adalah kepentingan minyak dan kapal dagang jauh sebelum ia menjadi kepentingan kemanusiaan — dan itu berlaku untuk semua pihak yang memperebutkannya.

Siapa Diuntungkan, Siapa Dikorbankan

Tidak semua analis sepakat bahwa eskalasi ini murni perpanjangan perang regional. Al-Jeddawy menilai eskalasi “tetap mencerminkan tujuan militer dan politik domestik, namun waktunya tidak bisa dipisahkan dari perang regional” — sebuah formulasi yang mengakui bahwa kedua faktor, domestik dan regional, berjalan beriringan. Sebagian kalangan di kubu pemerintah Yaman disebut memandang tekanan yang dialami Houthi saat ini sebagai peluang untuk melemahkan mereka, sementara Iran punya kepentingan menjaga Yaman dan Laut Merah tetap menjadi sumber tekanan.

Yang jarang dibahas dalam narasi kedua kubu adalah rakyat sipil Yaman sendiri: lebih dari 21.000 orang mengungsi hanya dalam dua pekan terakhir, dan krisis kemanusiaan yang sudah menahun kini berisiko memburuk lagi. Dukungan senjata dan pendanaan dari luar negeri — baik dari koalisi yang didukung Arab Saudi maupun dari Iran kepada Houthi — layak dikritisi dari kedua sisi karena sama-sama memperpanjang penderitaan warga sipil yang tidak memiliki kendali atas keputusan-keputusan geopolitik ini.

Menimbang Ulang Solidaritas dari Indonesia

Bagi gerakan pro-Palestina di Indonesia, kompleksitas ini menuntut kehati-hatian, bukan penyederhanaan. Menyamakan setiap aktor yang mengklaim membela Gaza dengan perjuangan rakyat Palestina itu sendiri berisiko mengaburkan fakta bahwa sebagian aktor tersebut memiliki agenda dan konflik kepentingannya sendiri, termasuk perang saudara di Yaman yang telah merenggut ratusan ribu nyawa jauh sebelum isu Gaza mengemuka. Solidaritas yang matang perlu mampu membedakan antara mendukung hak rakyat Palestina atas kemerdekaan dan keadilan, dengan mendukung tanpa syarat setiap aktor non-Palestina yang menggunakan kosakata Palestina untuk tujuannya sendiri.

Solidaritas yang jujur harus berani menghitung korban di semua front yang relevan, bukan hanya yang sejalan dengan narasi yang paling kita sukai.

Yang Tersisa untuk Kita Lakukan

  1. Salurkan bantuan lewat lembaga kemanusiaan Palestina yang terverifikasi

Dengan sedikitnya 1.259 warga Gaza tewas dan 4.146 terluka sejak gencatan senjata Oktober 2025 menurut data Kementerian Kesehatan Gaza, serta hanya sebagian kecil pasien yang berhasil dievakuasi lewat Penyeberangan Rafah, dukungan lewat INH, MER-C, Sahabat Al-Aqsha, atau Adara Foundation membantu memastikan bantuan sampai ke tangan yang tepat.

  1. Verifikasi angka sebelum membagikannya

Untuk front yang masih bergerak seperti serangan penjara al-Hazm (23 tewas, tanggung jawab masih diperdebatkan) atau klaim korban di kedua kubu Yaman, rujuk pelacak independen seperti laporan WHO, OCHA, atau liputan langsung Al Jazeera sebelum menyebarkan angka tunggal yang belum terkonfirmasi.

  1. Perluas kepedulian zakat dan infak ke krisis kemanusiaan Yaman

Dengan lebih dari 150.000 korban jiwa sejak 2014 dan 21.000 pengungsi baru hanya dalam dua pekan terakhir, penyaluran zakat dan infak lewat BAZNAS, Dompet Dhuafa, atau Rumah Zakat untuk program kemanusiaan Yaman melengkapi, bukan menggantikan, dukungan untuk Gaza.

Penutup: Dua Front, Satu Dunia yang Perhatiannya Terbatas

Di Mocha, kendaraan lapis baja yang ditinggalkan pasukan yang mundur kini menjadi rampasan perang. Di Gaza, garis kuning yang membelah wilayah masih membatasi ke mana warga Palestina boleh melangkah, sementara rumah sakit dan sekolah yang hancur belum juga dibangun ulang secara berarti. Kedua front ini berjalan pada waktu yang sama, disorot oleh media yang sama, namun jarang dibaca sebagai satu kesatuan cerita tentang bagaimana kekuasaan regional bekerja di atas penderitaan warga sipil yang tidak pernah diminta pendapatnya.

Ada godaan untuk membaca eskalasi Yaman semata sebagai front baru perjuangan Palestina yang diperluas. Godaan itu perlu ditolak, bukan karena solidaritas terhadap Gaza tidak penting, melainkan karena mencampuradukkan keduanya berisiko mengaburkan tanggung jawab yang berbeda-beda dari setiap aktor yang terlibat — termasuk tanggung jawab Houthi dan pemerintah Yaman atas keselamatan rakyatnya sendiri.

Yang pasti, selama Bab al-Mandeb dan Selat Hormuz tetap menjadi ajang pertaruhan kekuasaan, kapasitas dunia untuk memberi tekanan yang konsisten demi mengakhiri pelanggaran gencatan senjata di Gaza akan terus terbagi. Pertanyaannya, yang jujur harus diakui belum ada jawaban pastinya: akankah eskalasi regional ini pada akhirnya memperbesar tekanan kolektif terhadap kekuatan-kekuatan yang selama ini mengelola konflik demi kepentingannya sendiri — ataukah ia justru akan menenggelamkan Gaza lebih dalam lagi ke pinggiran perhatian dunia, tepat ketika warganya paling membutuhkan sorotan itu?

 

Artikel ini disusun berdasarkan liputan Al Jazeera (10 September 2026, termasuk “Houthis, Yemeni forces engaged in fierce battles: Why each front matters” dan “Houthis capture Yemeni town of Mocha: Why it’s important”), Reuters dan CNN (10 September 2026), Times of Israel dan Outlook India (10 September 2026), data Organisasi Kesehatan Dunia yang dikutip Al Jazeera (liveblog 8 September 2026), laporan Washington Times (9 September 2026), Global Conflict Tracker/CFR, entri Wikipedia “2026 Yemen campaign”, “2026 Iran war”, dan “2026 Strait of Hormuz crisis” (diakses 11 September 2026), serta data Kementerian Kesehatan Gaza yang dihimpun Gisha (diakses 11 September 2026) dan laporan OHCHR. Seluruh sumber diakses dan diverifikasi silang pada 11 September 2026. Artikel ini didedikasikan untuk warga sipil yang menjadi korban di semua front yang dibahas — di Yaman maupun di Gaza — yang nasibnya jarang ditentukan oleh mereka sendiri.

ARTIKEL TERKAIT

Terkini