HomeSejarah Indonesia-PalestinaDari Kapal Bedah Darurat ke Reruntuhan: Sejarah Kontribusi NGO Indonesia di Gaza

Dari Kapal Bedah Darurat ke Reruntuhan: Sejarah Kontribusi NGO Indonesia di Gaza

GAZA CITY — Pada 1 Januari 2009, empat hari setelah Israel memulai serangan udara besar-besaran ke Jalur Gaza, sebuah tim medis dari Indonesia berangkat menuju wilayah itu bersama delegasi Pemerintah RI. Tim ini, dikirim oleh Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), bertugas selama sepekan di RS Asy-Syifa, Gaza City — dan menjadi titik awal dari salah satu jalur kontribusi masyarakat sipil Indonesia yang paling berkelanjutan terhadap Gaza selama hampir dua dekade berikutnya.

Sejak titik itu, jaringan lembaga swadaya masyarakat (NGO) Indonesia — dari organisasi medis, palang merah, lembaga filantropi Islam, hingga inisiatif independen yang lahir langsung dari warga Indonesia yang menetap di Gaza — membangun jejak kontribusi yang mencakup pembangunan rumah sakit permanen, pengiriman relawan medis bergilir, pendirian kamp tenda pengungsi, dan penggalangan dana publik dalam skala miliaran rupiah. Jejak ini juga diwarnai satu skandal penyelewengan dana pada 2022 yang mengguncang kepercayaan publik terhadap sektor filantropi kemanusiaan itu sendiri.

Titik Awal: Respons Darurat 2008–2009

MER-C, organisasi kemanusiaan yang berdiri sejak 14 Agustus 1999, sebelumnya sudah aktif di sejumlah daerah konflik seperti Afghanistan, Sudan, dan Lebanon. Serangan Israel ke Gaza yang dimulai 27 Desember 2008 — dikenal sebagai Operasi Cast Lead — mendorong tim MER-C bersama tim Pemerintah RI berangkat ke Gaza pada awal Januari 2009.

Dari misi itu, tim melihat fasilitas kesehatan Gaza, termasuk RS Asy-Syifa, kewalahan menampung korban. Dari pengamatan itulah muncul gagasan membangun rumah sakit permanen berbasis donasi masyarakat Indonesia. Palang Merah Indonesia (PMI), berdiri sejak 17 September 1945, turut menggalang dana kemanusiaan pada periode yang sama — salah satu dokumen PMI Batam mencatat penggalangan sekitar Rp288 juta pada akhir Januari 2009, direncanakan disalurkan melalui Bulan Sabit Merah Palestina bekerja sama dengan Komite Palang Merah Internasional (ICRC).

Dari Bantuan Darurat ke Rumah Sakit Permanen

Rencana pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) disampaikan MER-C kepada Menteri Kesehatan Palestina saat itu, Bassim Naim, pada 23 Januari 2009. Konstruksi dimulai 14 Mei 2011 di atas lahan seluas 16.261 meter persegi di Bayt Lahiya, Gaza Utara. Tahap pertama rampung April 2012, tahap kedua — dikerjakan langsung oleh relawan teknis Divisi Konstruksi MER-C — selesai Februari 2014.

Sumber mengenai asal lahan sedikit berbeda: sebagian besar laman resmi MER-C dan pemberitaan menyebutnya sebagai tanah wakaf dari Pemerintah Palestina di Gaza, sementara satu laporan Tempo menyebutnya sebagai wakaf pribadi dari Ismail Haniyeh — perbedaan ini belum dapat diverifikasi silang secara pasti. Yang lebih konsisten adalah soal pendanaan: seluruh biaya pembangunan RSI berasal dari donasi masyarakat Indonesia tanpa dana bantuan asing. Rumah sakit ini resmi beroperasi pada 27 Desember 2015 dengan 100 tempat tidur, empat ruang operasi, dan 10 ranjang ICU — menjadikannya salah satu rumah sakit terbesar di Jalur Gaza.

Salah satu relawan konstruksi RSI adalah Muhammad Husein, warga negara Indonesia kelahiran Bogor pada 7 April 1988, yang pada 2011 di usia 20 tahun meminta izin kepada ayahnya untuk mengabdi sebagai relawan pembangunan RSI — dan kemudian menetap di Gaza. Dari jalur inilah lahir salah satu NGO Indonesia lain yang aktif di Gaza satu dekade kemudian.

INH: Dari Relawan Individu ke Jaringan Kemanusiaan

International Networking for Humanitarian (INH) didirikan secara resmi pada 6 Juni 2018 oleh Muhammad Husein bersama sejumlah aktivis kemanusiaan yang direkrutnya, sebagai respons atas banyaknya masyarakat Indonesia yang ingin menyalurkan bantuan langsung ke Gaza melaluinya. Berbeda dari MER-C yang lahir dari komunitas medis di Jakarta, INH tumbuh dari basis operasi lokal di Gaza sendiri, dengan Husein — yang menikah dengan warga Palestina, Jinan — sebagai penghubung utama di lapangan.

Setelah eskalasi 7 Oktober 2023, INH mencatatkan sejumlah program darurat yang terdokumentasi media nasional. Pada 19 Oktober 2023, INH menyalurkan bantuan senilai Rp1,2 miliar berupa kupon belanja bagi pengungsi di Khan Younis, Gaza Selatan — disebut sebagai tahap awal dari penggalangan dana berkelanjutan oleh Manajer Program INH saat itu, Ibnu Hafidz. Pada 13 Januari 2025, INH mendirikan ratusan tenda pengungsi berbahan poliester-katun-kanvas berukuran 4×6 meter di Kamp Al-Mawasi, Khan Younis, dengan kapasitas sekitar 250 kepala keluarga atau 1.500 jiwa — tenda-tenda tersebut diproduksi di Mesir.

Husein sendiri dievakuasi dari Gaza oleh Pemerintah Indonesia pada 12 November 2023 seiring eskalasi serangan Israel. INH kemudian melanjutkan operasinya lewat jaringan relawan lokal di Gaza serta program dalam negeri di Indonesia — termasuk respons bencana Lombok dan Palu — melalui komunitas relawan bernama Sahabat Relawan (SHARE). Di luar kerja kemanusiaan, Husein juga dikenal sebagai pendiri portal berita trilingual gazamedia.net, tempat kolom ini diterbitkan — sebuah fakta yang relevan dicatat demi transparansi keterkaitan antara aktor kemanusiaan dan jalur informasi Gaza di Indonesia.

Skandal ACT dan Krisis Kepercayaan

Aksi Cepat Tanggap (ACT) sempat menjadi salah satu lembaga filantropi terbesar di Indonesia, dengan penghimpunan dana masyarakat sekitar Rp500 miliar pada 2018–2020, termasuk untuk program kemanusiaan Palestina. Investigasi Majalah Tempo yang terbit awal Juli 2022 mengungkap dugaan penyelewengan dana oleh sejumlah petinggi ACT untuk kepentingan pribadi.

Bareskrim Polri kemudian menetapkan empat tersangka, termasuk pendiri sekaligus mantan presiden ACT, Ahyudin, dan Presiden ACT saat itu, Ibnu Khajar. Jaksa menuntut mereka empat tahun penjara atas dugaan penggelapan dana, termasuk dana CSR senilai Rp117 miliar dari Boeing untuk korban kecelakaan Lion Air JT-610. ACT membantah adanya penyelewengan dan menunjuk hasil audit predikat Wajar Tanpa Pengecualian sebagai bukti pengelolaan yang baik. Skandal ini tidak melibatkan program Gaza ACT secara langsung, tetapi berdampak luas pada kepercayaan publik terhadap sektor filantropi kemanusiaan Indonesia secara umum.

Dari Perang 2023 hingga Gencatan Senjata 2025

RSI berulang kali menjadi target serangan sejak 2023: bangsal operasi rusak November 2023, serangan udara kembali terjadi Oktober 2024, dan pada Mei–Juni 2025 Israel mengepung serta memaksa pengosongan total RSI, dengan kerusakan struktural parah termasuk lantai pertama yang hancur akibat serangan tank. MER-C tetap mengirim tim medis darurat (Emergency Medical Team) secara bergilir sejak Maret 2024 ke sejumlah fasilitas Gaza Selatan seperti RS Nasser dan RS Al Shifa, sementara Dompet Dhuafa melaporkan penyaluran bantuan lebih dari Rp40,6 miliar untuk Palestina sejak akhir 2023 hingga awal 2026.

Gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025 tidak sepenuhnya menghentikan korban jiwa. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat total korban tewas sejak Oktober 2023 mencapai setidaknya 73.783 jiwa dengan 174.738 luka-luka per pertengahan September 2026, termasuk korban yang jatuh setelah gencatan senjata diberlakukan.

Bagi jaringan NGO Indonesia — dari MER-C dan PMI yang lahir dari respons darurat 2009, hingga INH yang tumbuh dari relawan perorangan yang menetap langsung di Gaza — fase pascagencatan senjata membuka babak baru: dari respons darurat menuju rekonstruksi jangka panjang, termasuk rencana perbaikan RS Indonesia yang sejak 2011 dibangun sepenuhnya dari donasi rakyat, dan kamp-kamp tenda yang kini perlu digantikan hunian permanen di atas kota yang sebagian besar rata dengan tanah.

ARTIKEL TERKAIT

Terkini