GAZA – Dua tahun setelah operasi militer Israel di Kamp Pengungsi Nuseirat yang berhasil membebaskan empat sandera Israel, warga Palestina yang selamat dari peristiwa tersebut mengaku masih hidup dalam trauma, kehilangan, dan penderitaan yang belum berakhir.
Bagi banyak keluarga di Nuseirat, peristiwa yang terjadi pada Juni 2024 bukan sekadar operasi penyelamatan sandera, melainkan tragedi yang meninggalkan luka mendalam. Hingga kini, para penyintas masih berjuang menghadapi dampak fisik, psikologis, dan ekonomi akibat serangan yang menewaskan ratusan warga Palestina dan melukai ratusan lainnya.
Operasi yang dilakukan pasukan Israel saat itu berhasil membebaskan empat sandera yang ditahan di Gaza. Namun menurut data otoritas kesehatan Gaza, sedikitnya 274 warga Palestina tewas dan ratusan lainnya mengalami luka-luka dalam serangan yang berlangsung di kawasan padat penduduk tersebut.
Banyak keluarga Palestina di Nuseirat kehilangan orang-orang tercinta dalam hitungan menit. Sejumlah rumah hancur akibat serangan udara dan tembakan yang menyertai operasi tersebut.
Para penyintas menuturkan bahwa hingga hari ini mereka masih dihantui suara ledakan, teriakan korban, dan pemandangan mayat yang berserakan di jalan-jalan kamp pengungsian. Sebagian besar korban yang selamat mengalami cedera permanen, sementara keluarga lain harus hidup tanpa anggota keluarga yang meninggal dunia dalam serangan itu.
Seorang ayah yang kehilangan dua anak perempuannya dalam operasi tersebut mengaku masih sulit menerima kenyataan bahwa keluarganya hancur dalam peristiwa yang disebut Israel sebagai operasi penyelamatan sandera. Ia mengatakan istrinya mengalami luka berat dan keluarganya hingga kini masih bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup.
Trauma Anak-Anak dan Korban Luka Permanen
Dampak paling berat dirasakan anak-anak yang selamat dari serangan tersebut. Banyak dari mereka mengalami trauma berkepanjangan setelah kehilangan anggota keluarga, rumah, dan rasa aman.
Beberapa korban yang saat itu masih berusia belasan tahun mengalami luka serius di kepala dan anggota tubuh. Sebagian lainnya kehilangan kemampuan bergerak secara normal akibat cedera yang diderita selama serangan berlangsung.
Para tenaga medis di Gaza menyebut banyak korban masih membutuhkan rehabilitasi jangka panjang. Namun keterbatasan fasilitas kesehatan akibat perang membuat proses pemulihan berjalan sangat lambat.
Operasi Nuseirat hingga kini masih menjadi salah satu peristiwa paling kontroversial dalam perang Gaza. Pemerintah Israel menyebut operasi tersebut sebagai keberhasilan besar karena berhasil menyelamatkan empat sandera hidup-hidup.
Namun berbagai organisasi hak asasi manusia dan kelompok kemanusiaan mempertanyakan tingginya jumlah korban sipil yang jatuh selama operasi berlangsung. Banyak pihak menilai harga kemanusiaan yang harus dibayar terlalu mahal dibandingkan hasil yang dicapai.
Bagi warga Nuseirat, perdebatan politik itu terasa jauh dari kenyataan yang mereka hadapi setiap hari. Mereka masih hidup di tengah reruntuhan, kehilangan anggota keluarga, dan menghadapi masa depan yang tidak pasti.
“Darah kami masih mengalir hingga hari ini,” ungkap salah seorang penyintas kepada Al Jazeera, menggambarkan bahwa meski dua tahun telah berlalu, luka yang ditinggalkan peristiwa Nuseirat belum benar-benar sembuh.
Di tengah berbagai upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik Gaza, warga Nuseirat berharap tragedi serupa tidak kembali terulang. Namun bagi mereka yang kehilangan keluarga, rumah, dan masa depan, kenangan kelam hari itu akan terus membekas sebagai salah satu babak paling menyakitkan dalam sejarah perang Gaza. (cky)

