400 tahun adalah waktu yang sangat panjang. Cukup panjang untuk menyaksikan dinasti lokal bangkit dan runtuh, wabah datang dan pergi, pasar-pasar ramai lalu sepi, dan sebuah kota berubah dari ibu kota tidak resmi Palestina menjadi kota yang hampir terlupakan — sebelum abad ke-20 memulai babnya sendiri yang jauh lebih kelam.
GAZA CITY — Ketika pasukan Ottoman Sultan Selim I memasuki Gaza pada 1516, mereka tidak menemukan kota yang kosong atau lemah. Gaza pada awal abad ke-16 adalah kota dengan populasi sekitar 5.000 hingga 6.000 jiwa — salah satu kota terbesar di Palestina bersama Safad dan Jerusalem — dengan pasar yang sibuk, masjid-masjid tua, dan tradisi perdagangan yang sudah berjalan ribuan tahun.
Selama empat abad berikutnya, Gaza hidup di bawah naungan bulan sabit Ottoman. Bukan selalu dalam kedamaian — ada wabah, kekeringan, pemberontakan, dan pergantian kekuasaan yang terkadang brutal. Tapi di antara semua itu, ada kehidupan yang terus berjalan: pasar yang dibuka setiap pagi, anak-anak yang belajar di madrasah, petani yang menggarap ladang gandum, dan tukang sabun yang mencampur minyak zaitun dengan abu alkali di pabrik-pabrik kecil mereka.
Inilah cerita kehidupan warga Gaza di bawah kekuasaan Ottoman — sebuah cerita yang hampir tidak pernah diceritakan.
Struktur Kota: Dua Kawasan, Tujuh Pintu Gerbang
Gaza Ottoman adalah kota yang terbagi menjadi dua kawasan utama. Di utara terdapat Kawasan Daraj — dikenal juga sebagai Kawasan Muslim — tempat bermukim sebagian besar penduduk Arab Muslim. Di selatan terdapat Kawasan Zaytun, yang di dalamnya terdapat permukiman Yahudi dan Kristen.
Kota Lama Gaza dilindungi oleh tujuh pintu gerbang: Bab Asqalan (Gerbang Ascalon) di utara, Bab al-Bahr (Gerbang Laut) di barat, Bab al-Khalil (Gerbang Hebron) yang mengarah ke timur laut, Bab al-Darum menuju selatan, serta Bab Marnas, Bab al-Baladiyah, dan Bab al-Muntar. Setiap pagi gerbang-gerbang itu dibuka, dan dari semua penjuru — dari desa-desa Negev, dari pesisir, dari karavan-karavan yang datang dari Mesir dan Suriah — orang-orang berdatangan membawa barang dagangan mereka.
Di kawasan Daraj, Souk al-Qissariya sudah berdiri sejak berabad-abad sebelum Ottoman datang. Pasar emas dan rempah ini menjadi jantung ekonomi kota. Di sekitarnya, kios-kios pedagang kain, tembaga, dan makanan berjejal dalam gang-gang sempit berbatu.
Bangunan-bangunan tua di Kota Lama Gaza banyak yang menggunakan gaya ablaq — teknik dekorasi Mamluk yang menata batu merah dan putih secara bergantian. Ottoman tidak menghancurkan warisan Mamluk ini; mereka membangun di atasnya, menambahkan lapisan baru pada kota yang sudah berlapis-lapis.
Dinasti Ridwan: Ketika Gaza Menjadi “Ibu Kota Palestina”
Tidak semua era Ottoman di Gaza sama. Ada satu periode yang oleh para sejarawan disebut sebagai zaman keemasan: ketika Dinasti Ridwan berkuasa.
Dinasti Ridwan adalah keluarga paling terkemuka di Palestina, memerintah distrik-distrik barat daya Eyalet Damaskus pada abad ke-16 dan ke-17 di bawah kekuasaan Ottoman. Mereka bukan bangsawan Arab asli — pendiri dinasti ini, Ridwan Pasha ibn Mustafa, adalah mantan prajurit budak kekaisaran yang mengambil alih jabatan gubernur Gaza sekitar tahun 1570 dan mendirikan dinasti yang memanfaatkan posisinya untuk mendorong kemakmuran ekonomi melalui jalur perdagangan yang menghubungkan Mesir, Suriah, dan Hijaz, sekaligus mengelola logistik karavan haji tahunan sebagai amir al-hajj. WikipediaGrokipedia
Jabatan amir al-hajj — komandan karavan haji — bukan sekadar kehormatan. Ia berarti kendali atas salah satu arus pergerakan manusia dan barang terbesar di dunia Islam: ratusan ribu jamaah haji dari Mesir, Afrika Utara, dan Mediterania yang setiap tahun melewati atau singgah di Gaza dalam perjalanan ke Mekkah. Antara akhir abad ke-16 dan awal abad ke-18, jabatan bergengsi amir al-hajj secara bergantian dipegang oleh gubernur Nablus atau Gaza. Wikipedia
Masa puncak Dinasti Ridwan datang di bawah Husayn Pasha yang mulai berkuasa pada 1644. Masa pemerintahan Husayn Pasha ditandai oleh periode kemakmuran yang untuk sementara waktu menjadikan Gaza sebagai ibu kota virtual Palestina. Ia menjaga hubungan baik dengan suku-suku Bedouin di Negev, komunitas Kristen setempat, dan konsul Prancis di Jerusalem. Alchetron
Masjid Agung dipugar, enam masjid lain dibangun, sementara hammam dan kios-kios pasar terus bertambah. Gaza di pertengahan abad ke-17 adalah kota yang hidup, beragam, dan — untuk standar zamannya — relatif makmur. Wikipedia
Namun dinasti ini berakhir tragis. Husayn Pasha digulingkan dan dieksekusi oleh penguasa Ottoman pada 1663, setelah itu saudaranya Musa Pasha diangkat ke jabatan tersebut, menjabat hingga 1679. Dinasti Ridwan akhirnya bubar pada 1690. Setelah keluarga itu tidak lagi berkuasa, kota itu perlahan menurun. Wikipedia
Kehidupan Ekonomi: Dari Ladang Gandum hingga Pabrik Sabun
Apa yang menghidupi warga Gaza sehari-hari selama era Ottoman?
Ekonomi Gaza pada periode Ottoman sebagian besar bersifat agraris. Kawasan ini menghasilkan gandum, jelai, zaitun, buah jeruk, dan wijen. Pedalaman pedesaan yang membentang jauh ke Negev dan Sinai sangat penting bagi produksi ternak dan biji-bijian. Brewminate
Di kota, perdagangan dan kerajinan menjadi tulang punggung ekonomi. Pada abad ke-19, Kota Gaza termasuk dalam enam kota penghasil sabun di Levant, hanya kalah dari Nablus. Pabrik-pabrik sabun Gaza membeli qilw (soda alkali) dari pedagang-pedagang Nablus dan Salt di Yordania. Minyak zaitun yang berlimpah dari kebun-kebun di sekitar Gaza menjadi bahan baku utama. Sabun Gaza — lebih keras dan lebih tahan lama dari sabun biasa — diekspor ke Mesir dan pelabuhan-pelabuhan Mediterania. Wikipedia
Kapas juga menjadi komoditas penting. Para pedagang kapas membeli bahan mentah dari petani-petani desa, lalu menjualnya ke penenun di Gaza dan ke pedagang antarpulau yang berlabuh di pelabuhan kecil di pantai barat. Kota ini juga berfungsi sebagai titik transit barang-barang antara Mesir dan Levant utara — sebuah peran yang sudah dimainkan Gaza selama ribuan tahun dan terus berlanjut di bawah Ottoman.
Kehidupan Sosial: Hammam, Madrasah, dan Waqf
Bagi warga Gaza, kehidupan sosial berputar di sekitar tiga institusi utama: hammam, madrasah, dan waqf.
Hammam — pemandian umum bergaya Turki — bukan sekadar tempat mandi. Di Gaza Ottoman, hammam adalah ruang sosial di mana warga dari berbagai latar belakang bertemu, berbicara, dan bertukar kabar. Di bawah kekuasaan Ottoman, masjid-masjid, hammam-hammam Turki, dan kios-kios pasar Gaza terus bertambah. Hammam yang dibangun di era Ridwan masih berdiri hingga jauh ke abad ke-20. The Times of Israel
Madrasah menjadi pusat pendidikan. Periode Ottoman menyaksikan promosi Islam Sunni, sesuai dengan kebijakan kekaisaran yang lebih luas. Gaza adalah rumah bagi banyak lembaga keagamaan, termasuk madrasah dan pondok Sufi. Masjid seperti Masjid Agung Omari berkembang sebagai pusat pembelajaran keagamaan. Gaza juga menjadi pusat yurisprudensi dan keilmuan Islam, menghasilkan sarjana-sarjana terkemuka seperti Khayr al-Din al-Ramli. Brewminate
Sistem waqf — wakaf — menjadi mekanisme sosial yang menopang semua ini. Keluarga-keluarga kaya dan para gubernur mewakafkan properti mereka — ruko, ladang, rumah sewaan — penghasilannya digunakan untuk membiayai masjid, sekolah, dan fasilitas umum. Dinasti Ridwan tercatat mendirikan berbagai kompleks keagamaan termasuk pondok Sufi (khanqah) dan pusat retreat (khalwa) yang didanai dari surplus perdagangan.
Komunitas yang Hidup Berdampingan
Gaza Ottoman bukan kota yang homogen. Di dalamnya hidup komunitas Muslim Arab, Kristen Ortodoks, dan Yahudi secara berdampingan — tidak selalu tanpa ketegangan, tapi dengan sistem yang memberi setiap komunitas ruang untuk mengurus urusannya sendiri.
Di bawah kekuasaan Ottoman, komunitas Yahudi berkembang dan mendirikan akademi (yeshivah) serta pengadilan rabinik (beit din), dan beberapa cendekiawannya menulis karya-karya ilmiah. Pada periode ini komunitas Yahudi Gaza menarik beberapa sarjana terkemuka yang tinggal di Gaza: Joseph ben Moses di Trani (Maharit) pada 1587; Abraham ben Mordekhai Azulai pada 1619; dan David Conforte sekitar 1645. The Times of Israel
Pada abad ke-18 dan awal abad ke-19, berbagai sumber menyebutkan antara 50 hingga 70 keluarga Yahudi tinggal di Gaza, menyumbang sekitar sepertiga dari total populasi. Penduduk lainnya terdiri dari campuran Muslim Arab lokal, klan Bedouin, dan pemukim asal Mesir yang datang pada abad ke-19. The Times of Israel
Abad Kegelapan: Wabah, Kekeringan, dan Kemunduran
Setelah Dinasti Ridwan bubar pada 1690, Gaza memasuki era yang jauh lebih suram.
Pada abad ke-18, kekaisaran Ottoman mengalami desentralisasi yang semakin besar, dan gubernur-gubernur lokal memiliki otonomi yang lebih besar. Gaza seringkali terdampak oleh ketidakstabilan yang lebih luas di seluruh Palestina. Suku-suku Bedouin, yang kendalinya atas daerah pedesaan tidak pernah sepenuhnya diberantas, secara berkala menantang otoritas Ottoman dan mengganggu perdagangan serta pertanian. Brewminate
Selain ketidakstabilan politik, Gaza juga menderita bencana alam dan kelaparan di abad ke-18. Kekeringan berkala, serangan belalang, dan wabah pes menghancurkan populasi. Brewminate
Wabah pes menjadi ancaman berulang yang paling ditakuti warga. Ketika pes melanda, kehidupan kota berhenti: pasar tutup, orang-orang mengurung diri di rumah, dan yang punya kemampuan melarikan diri ke desa-desa di sekitarnya. Ketika wabah berlalu, hitung-hitungan korban dimulai — dan seringkali angkanya mengerikan.
Wabah pes kembali melanda pada 1839 dan kota itu terhenti, karena kurangnya stabilitas politik dan ekonomi. Lalu pada 1840 datang pertempuran antara pasukan Mesir dan Ottoman di luar Gaza. Pertempuran itu membawa kematian dan kehancuran lebih lanjut, tepat ketika kota baru saja mulai pulih dari wabah. Wikipedia
Warisan yang Masih Terasa
Empat abad Ottoman meninggalkan jejak fisik yang masih bisa dilihat di Gaza Kota Lama — atau yang tersisa darinya. Gaya ablaq Mamluk yang dipertahankan dan dikembangkan di era Ottoman. Masjid Agung yang dipugar di era Ridwan. Masjid Sayyid Hashim dengan makam leluhur Nabi di kawasan Daraj. Lorong-lorong Souk al-Qissariya yang ramai selama berabad-abad.
Dan ada warisan yang tidak kasat mata: cara warga Gaza mengelola keberagaman tanpa menghapusnya, membangun institusi sosial berbasis wakaf, mempertahankan tradisi keilmuan bahkan di tengah kemiskinan, dan terus berdagang bahkan ketika rute-rute besar sudah bergeser.
Gaza adalah simpul penting bagi orang, barang, dan gagasan di Mediterania Timur dari Zaman Kuno hingga abad ke-20 — bukan karena kekuatan militernya, tapi karena kemampuannya beradaptasi. newbooksnetwork
Itulah mungkin warisan Ottoman yang paling bertahan lama di Gaza: bukan bangunan atau perbatasan, tapi kebiasaan sebuah kota yang sudah terbiasa bertahan.

