HomeBeritaIran Desak Kebangkitan Dialog Negara-negara Teluk

Iran Desak Kebangkitan Dialog Negara-negara Teluk

Teheran, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan dialog antarnegara di kawasan Teluk berpeluang dilanjutkan apabila perdamaian dan stabilitas kembali terwujud.Menurutnya, perkembangan terbaru telah menyadarkan negara-negara Teluk bahwa keamanan kawasan harus dijaga oleh negara-negara di kawasan itu sendiri, demikian wawancara dengan kantor berita resmi Iran, IRNA, pada Jumat (7/8).

Teheran, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan dialog antarnegara di kawasan Teluk berpeluang dilanjutkan apabila perdamaian dan stabilitas kembali terwujud.

Menurutnya, perkembangan terbaru telah menyadarkan negara-negara Teluk bahwa keamanan kawasan harus dijaga oleh negara-negara di kawasan itu sendiri, demikian wawancara dengan kantor berita resmi Iran, IRNA, pada Jumat (7/8).

Gharibabadi juga mengatakan, para pemimpin negara-negara Teluk telah menunjukkan kemauan politik untuk memulai kembali proses dialog regional, termasuk melalui usulan pertemuan para menteri luar negeri negara-negara Teluk.

Ia menyebut inisiatif tersebut dapat dihidupkan kembali setelah situasi keamanan di kawasan membaik.

“Keamanan adalah sesuatu yang harus dibangun dari dalam kawasan, dan seluruh negara di kawasan harus berpartisipasi dalam menjaganya,” ujar Gharibabadi.

Menurutnya, berdasarkan komunikasi yang terus dilakukan dengan para pejabat negara-negara Teluk, Iran menilai negara-negara tetangganya menyadari bahwa meluas atau berlarut-larutnya konflik akan menimbulkan ancaman serius terhadap keamanan dan pembangunan ekonomi mereka.

Kesadaran itu, kata dia, mendorong para pemimpin kawasan untuk mengakhiri operasi militer dan mendukung upaya melanjutkan kembali proses perundingan.

Gharibabadi juga menuduh beberapa negara Teluk mengizinkan Amerika Serikat menggunakan wilayah mereka selama perang yang ia sebut berlangsung selama 40 hari melawan Iran.

Ia mengatakan Teheran telah mendokumentasikan penerbangan pesawat dan peluncuran rudal yang berasal dari negara-negara tetangga, kemudian menyerahkan bukti tersebut kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Ia mengklaim bahwa militer Iran menyimpulkan terdapat dua hingga tiga serangan yang dilakukan secara langsung oleh negara-negara tetangga, terpisah dari serangan yang dilancarkan pasukan Amerika Serikat. Hal itu, menurutnya, memicu respons Iran yang lebih keras.

Meski mengakui konflik tersebut menimbulkan keretakan hubungan antara Iran dan beberapa negara Teluk, Gharibabadi mengatakan Teheran kini melihat adanya tanda-tanda bahwa pemerintah di kawasan telah meninjau kembali prioritas keamanan mereka.

Ketegangan di kawasan meningkat pada 28 Februari, ketika Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan terkoordinasi terhadap fasilitas militer, nuklir, dan infrastruktur energi Iran. Teheran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone yang menyasar target-target Israel dan Amerika Serikat di berbagai wilayah.

Iran dan Amerika Serikat menandatangani nota kesepahaman pada 18 Juni melalui mediasi Pakistan dan Qatar yang mengakhiri permusuhan terbuka sekaligus membuka jalan bagi perundingan menuju kesepakatan final. Namun, pembicaraan tersebut kembali mengalami kebuntuan akibat perbedaan pandangan mengenai keamanan maritim dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

 

ARTIKEL TERKAIT

Terkini