Iran

Hubungan Saudi-Iran dan Hubungan Hamas-Iran

Betulkah Hamas itu Syiah?

Pizaro Gozali Idrus

Gaza Media, Palestina – Setiap kali Zionis Israel melakukan serangan kepada Gaza, tuduhan bahwa gerakan perlawanan Palestina Hamas sebagai kelompok Syiah kerap mencuat. Sematan Hamas sebagai Syiah umumnya terjadi karena hubungannya dengan Iran atau karena adanya kerja sama dengan Iran.

Untuk menjawab isu ini, ada berbagai variable yang bisa kita nilai untuk mengukur apakah Hamas dapat dikategorikan kelompok Syiah. Ketiganya, antara lain dari akar gerakan atau sejarah kemunculan Hamas, manhaj gerakannya, dan politiknya.

Untuk membaca lebih jauh apakah benar Hamas adalah gerakan Syiah, pertama-pertama kita bisa melacak dari sejarah gerakan Hamas itu sendiri. Zayd Abu Amar, peneliti gerakan Palestina, dalam Hamas: A Historical and Political Background (1993), mengatakan akar sejarah dan background berdirinya Hamas tidak lepas dari berdirinya Ikhwanul Muslimin (IM) di Palestina dan jihad ulama Sunni Syekh Izzuddin Al Qassam yang melawan penjajahan Inggris dan gerakan Zionisme hingga gugur pada tahun 1935.

Hubungan IM dengan Palestina sendiri dimulai pada tahun 1935, ketika pendiri IM Hasan al-Banna mengutus saudaranya ‘Abd al-Rahman al-Banna, untuk menjalin hubungan dengan ulama-ulama Palestina. Pada tahun 1945, IM meresmikan cabang pertamanya di Baitul Maqdis. Dengan bantuan pusat IM di Mesir, Ikhwanul Muslimin melahirkan pelbagai cabang di kota-kota Palestina lainnya.

Pada tahun 1947, cabang IM di Palestina bahkan telah berhasil menembus 25 buah. Cabang-cabang Ikhwanul Muslimin di Palestina memiliki anggota sekitar 12.000 hingga 20.000, dan terpusat pada komando pusat IM di Kairo.

Syeikh Amin Al Husaini, ulama Sunni popular sekaligus mufti Baitul Maqdis, merupakan pemimpin IM Palestina yang membantu menyebarkan pengaruh IM di Palestina. Philip Mattar dalam The Mufti of Jerusalem: Al-Hajj Amin al-Husayni and the Palestinian National Movement (1988), mengatakan Syekh Husaini memang memiliki pengaruh kuat di Palestina karena keluarganya sudah memiliki kendali atas pos-pos politik dan agama di kota Baitul sebelumnya. Syekh merupakan produk dari lingkungan politik dan ekonomi kekuasaan tradisional di Baitul Maqdis.

Ibrahim Al Khatib dalam The Muslim Brotherhood and Palestine (2012) menerangkan Hasan al-Banna menggambarkan Palestina bagi IM bukan sekadar sebuah rumah bagi dunia Islam, melainkan situs spiritual dan tempat istimewa. Selain itu, Palestina juga bagian dari tubuh umat Islam dan sebuah batu bata yang berharga dalam bangunan umat.

Di sisi lain, IM berpendapat bahwa berdirinya negara Zionis di Palestina akan menjadi basis penjajahan Barat dan menjadi duri beracun bagi negara-negara Arab. Oleh karena itu, Hasan al-Banna memperingatkan negara-negara Muslim dan Arab akan berada dalam bahaya dengan berdirinya negara Zionis.

Pada tahun 1954, Syekh Yassin resmi menjadi anggota IM. Ia fokus pada pembinaan masyarakat dan generasi muda Muslim Palestina Syekh Yassin mendirikan al-Mujamma’ al-Islami (Pusat Islam) dan Universitas Islam Gaza sebagai wadah pengajaran Islam berpengaruh di Jalur Gaza. Hingga kemudian ia membidani lahirnya Hamas pada tahun 1987.

Dari sejarah di atas, literatur-literatur ilmiah yang ada tidak ada yang menyebut akar sejarah Hamas dari kelompok Syiah atau diwarnai gerakan Syiah.Yang terjadi adalah cikal bakal Hamas tidak lepas dari gerakan-gerakan Sunni dan ulama Ahlussunah di Tanah Palestina.

Manhaj Hamas

Kedua, tinjauan Manhaj. Hamas adalah gerakan yang bersandarkan Ahlussunah wal Jamaah. Para ulama-ulama Hamas adalah ulama bermazhab Syafii. Ini berbeda dengan Hezbollah Lebanon yang berdiri atas pilar keyakinan Syiah dan konsep wilayat al-faqih. Khomeini mendakwahkan teori wilayat alfaqih, sebuah konsep elitis yang terkait dengan supremasi tokoh senior Syiah.

Sedangkah Hamas tidak menganut ideologi ini. Hamas menolak gagasan wilayatul faqih ala Iran. Dalam piagamnya, Hamas mengidentifikasi dirinya sebagai sayap Ikhwanul Muslimin di Palestina. (Lihat: Joshua L. Gleis and Benedetta Bert. Hezbollah and Hamas: A Comparative Study, 2012).

Hal ini juga bisa dilihat dalam perselisihan antara IM di Palestina dan kelompok Jihad Islam terhadap revolusi Iran, yang mulai dikritik oleh IM setelah pecahnya perang Iran-Irak. Sebaliknya, Jihad Islam menganggap Ayatollah Khomeini sebagai sumber inspirasi ideologis yang penting (Ziad Abu Amr, 1993). Meski begitu Jihad Islam pun tetap tidak bisa dianggap kelompok Syiah, karena mazhab mereka tetap Ahlussunah wal Jamaah. Adapun kedekatannya kepada Iran hanyalah pada aspek politis.

Jika memang Hamas itu Syiah, maka seharusnya publik secara luas mendapati pemandangan mayoritas ritual Syiah di Gaza atau berdirinya menjamurnya husainiyat-husainiyat di Gaza layaknya di Iran. Namun, yang terjadi adalah masyarakat Gaza mayoritas bermanhaj Ahlussunah wal Jamaah dengan amalan Mazhab Syafii. Tidak ada juga perayaan-perayaan Syiah tiap tahun di Gaza. Amalan-amalan ibadah masyarakat Gaza sama seperti warga Indonesia pada umumnya yang bermazhab Syafii. Bahkan, kediaman Kepala Biro Politik Hamas di Jalur Gaza, rutin menjadi tempat kegiatan sholawatan masyarakat Gaza.

Kritik Hamas kepada Rezim Assad

Ketiga, sikap politik Hamas. Hamas tidak melulu satu suara dengan Iran. Hal ini bisa dilihat dari sikap Hamas terhadap Revolusi Suriah. Alih-alih bergabung dengan koalisi Syiah global untuk mendukung Assad, Hamas sangat tegas melakukan kritik terhadap Rezim Assad. Bahkan dalam pidatonya di Kairo pada 2012, Perdana Menteri Hamas Ismail Haniyah menyampaikan rasa salutnya kepada rakyat Suriah yang heroik yang memperjuangkan kebebasan, demokrasi, dan reformasi.

Wakil Kepala Biro Politik Hamas Mousa Abu Marzouq juga mengatakan posisi Hamas tidak mendukung rezim Assad dalam tindak-tanduk menghadapi demonstrasi warga Suriah. Abu Marzouq mengatakan Hamas menghormati keinginan rakyat Suriah. Pernyataan tersebut mencerminkan perpecahan yang semakin mendalam antara Hamas dan Assad hingga akhirnya Hamas ditendang keluar dari Damaskus.

Syaikh Dr. Abdurrahman Yusuf al-Jamal, Rois Ma’had Darul Quranul Karim was Sunnah Gaza, mengatakan dulu Hamas memang didukung oleh Assad. Sebab saat itu tidak ada negara Arab yang mau menerima perjungan Hamas. Tapi sekarang rezim Assad membantai rakyatnya sendiri, maka bangsa Palestina tidak bisa bekerjasama dalam kebatilan. “Sikap kami sekarang jelas mendukung jihad melawan rezim Syiah Nushairiyah, Bashar Assad. Di Palestina, khususnya setiap Jumat kami menggalang dana untuk rakyat Suriah dan perjuangan mereka,” jelasnya saat diwawancara Jurnalis Islam Bersatu (Lihat: Bashar Assad Lebih Kejam Dari Zionis Israel, Hidayatullah.com, 2013).

Syekh Jamil juga menuturkan sebelum revolusi, Pemimpin Hamas Khalid Misy’al telah menyampaikan nasihatnya kepada Bashar Assad untuk memberikan kebebasan dan perubahan kepada rakyat Suriah. Karena waktu itu rakyat Suriah tidak meminta Bashar turun dari jabatan, mereka hanya ingin kebebasan dan keadilan.

Bahkan komentar terbaru juru bicara Brigade Izzudin Al Qassam, Abu Ubaidah, secara tegas menolak klaim Iran bahwa Operasi Taufan Al Aqsha adalah balas dendam atas tewasnya Jendral Iran Qassem Solemaini yang semakin menegaskan bahwa Hamas bukanlah proksi Iran.

Oleh karena itu, tuduhan bahwa Hamas itu Syiah sebenarnya terjadi secara intens hanya dalam bebera tahun terakhir karena semakin populernya Hamas mengalahkan negara-negara Arab yang seharusnya lebih banyak berbuat menghentikan genosida penjajah Israel.

Kalau tuduhan Hamas itu Syiah itu dilandasi karena mereka punya hubungan dengan Iran, itu tidak bisa dijadikan hujjah untuk menuding Hamas itu Syiah karena Hamas itu menerima bantuan manapun tanpa syarat.

Dalam hubungan internasioal, hubungan sebuah kelompok dengan negara lain, tidak otomatis maka dia menjadi kaki tangan negara tersebut. Kita harus melihat apakah itu aliansi ideologis atau aliansi taktis. Yang terjadi adalah aliansi taktis, karena negara-negara Arab sendiri enggan membantu Hamas secara strategis dan lebih suka menjalin aliansi dengan AS dan Israel yang menjajah Palestina.

Hubungan Saudi, Iran, dan Rezim Assad

Kalau berhubungan dengan Iran, maka Hamas dapat dikategorikan Syiah, maka bagaimana dengan hubngan Saudi dan Iran yang semakin intim dalam stahun terakhir. Bahkan Pangeran Bin Salman menjamu khusus presiden Iran Ibrahim Raisi di Riyadh, di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi soal Palestina. Dalam pertemuan itu, Mohammad Bin Salman mengatakan ingin memperkuat hubungan dengan Iran dalam bidang ekonomi dan pertahanan.

Tahun lalu, Rohullah Latifi, juru bicara Kementerian Perdagangan dan Industri Iran, mengatakan kedua negara telah mempersiapkan landasan bagi hubungan ekonomi yang baik antara Teheran dan Riyadh. Selama tiga tahun terakhir ekspor baja Iran ke Saudi menyentuh angka $14 juta.

Farzad Piltan, direktur Asia Barat di Organisasi Promosi Perdagangan Iran, mengatakan Teheran mengincar perdagangan senilai $1 miliar dengan Arab Saudi, yang menurutnya dapat diperluas hingga $2 miliar dengan fokus pada baja, kunyit, karpet, semen, dan buah-buahan kering (Lihat: Iran, Saudi Arabia resume bilateral trade as part of rapprochement, Anadolu Agency, 2023)

Menariknya pada April 2023, Arab Saudi memulai upaya di Timur Tengah untuk menormalisasi rezim Suriah di Timur Tengah yang berlumuran atas pembunuhan warga Sunni di Suriah. Menteri Luar Negeri Saudi Faisal bin Farhan bertemu dengan Bashar al-Assad di ibu kota Suriah, Damaskus.

Hanya satu bulan kemudian, Liga Arab menerima kembali salah satu penjahat perang paling terkenal di dunia untuk pertama kalinya sejak tahun 2012. Anehnya, yang mengkritik Assad kembali ke Liga Arab justru Qatar, yang diblokade Saudi selama empat tahun dengan dalih dekat dengan Iran. Qatar mengatakan Assad belum memenuhi syarat untuk kembali ke Liga Arab dan mengeaskan Doha tidak bisa mentolerir penjahat perang dan tidak bisa melihat rakyat Suriah yang masih menderita (Lihat: Middle East Monitor, Qatar: ‘Our stance on Assad regime has not changed’, 2023).

Berkat restu Saudi, Assad justru diberikan karpet merah oleh Saudi untuk hadir dalam KTT Arab China pada Mei Lalu di Riyadh dan rezim Assad pada Desember 2023 resmi menunjuk duta besarnya untuk Saudi.

Pertanyaannya kemudian: apakah Saudi juga bisa kita identifikasi sebagai Syiah?

Penulis adalah Direktur Eksekutif Baitul Maqdis Institute. Kandidat Doktor bidang HI di USM, Malaysia

Sumber : Hidayatullah.com

Betulkah Hamas itu Syiah? Read More »

Iran-Uni Eropa Sepakat Lanjutkan Negosiasi Perjanjian Nuklir

GAZAMEDIA, TEHERAN – Iran dan Uni Eropa sepakat untuk melanjutkan negosiasi yang bertujuan menghidupkan kembali perjanjian nuklir 2015 dalam beberapa hari mendatang, Sabtu (25/6/2022)

Menteri Luar Negeri Iran Hossein, Amir Abdollahian mengatakan, “Tehran siap melanjutkan pembicaraan nuklir, hal yang penting bagi kami adalah mengambil keuntungan ekonomi penuh antar keduabelah pihak dari perjanjian 2015 ini.”

Sementara itu, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Josep Borrell menyatakan optimismenya tentang masa depan negosiasi, mencatat bahwa ia telah mengadakan pertemuan “positif” dengan menteri Iran. [ml/ofr]

Iran-Uni Eropa Sepakat Lanjutkan Negosiasi Perjanjian Nuklir Read More »

Iran Umumkan Penangkapan Jaringan Agen Mata-mata Mossad “Israel”

GAZAMEDIA, IRAN – Dinas keamanan Iran menangkap jaringan mata-mata yang beroperasi di berbagai kegubernuran negara untuk Mossad ‘Israel’, mencatat bahwa jaringan itu berencana untuk membunuh ilmuwan nuklir Iran. Selasa (21/6/2022).

Pengadilan Iran mengatakan, “Jaringan yang beroperasi untuk Mossad terdiri dari 3 agen, dan mereka ditangkap setelah 8 bulan pemantauan dan tindak lanjut keamanan.”

Sementara itu, Kantor Berita Republik Islam Iran mengutip pejabat pengadilan, Mahdi Shams Ebadi yang membenarkan bahwa Iran akan segera mengadili mereka yang dikatakan sebagai 3 agen yang terkait dengan intelijen ‘Israel’ yang ditangkap April lalu.

Di sisi lain, ‘Israel’ mengklaim bahwa bulan lalu mereka menggagalkan upaya untuk meluncurkan serangan terhadap target ‘Israel’ di dalam wilayah Turki, yang direncanakan oleh pihak Iran.

Pengumuman penangkapan jaringan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan ‘Israel’, ketika negosiasi Wina tersendat dan penandatanganan perjanjian nuklir baru ditunda tanpa batas waktu. [as/nb]

Iran Umumkan Penangkapan Jaringan Agen Mata-mata Mossad “Israel” Read More »

Menlu Iran: Kehadiran “Israel” Ganggu Stabilitas Kemanan Wilayah Teluk

GAZAMEDIA, TEHERAN – Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir Abdollahian peringatkan bahaya kehadiran “Israel” yang mengganggu stabilitas keamanan di wilayah Arab Teluk, Sabtu (18/6/2022).

Selama pertemuan dengan mitranya dari Emirat, Abdollahian mewakili Iran menginginkan keamanan dan pembangunan di kawasan itu murni tanpa campur tangan pihak asing (“Israel”) yang beresiko jadikan perekonomian tidak stabil.

Pada gilirannya, Menteri Luar Negeri UEA, Abdullah bin Zayed menekankan UEA tidak akan mengizinkan pihak mana pun untuk melakukan tindakan sabotase dari UEA terhadap negara-negara tetangga.”

Patut dicatat bahwa nada ancaman timbal balik antara “Israel” dan Iran meningkat dalam beberapa pekan terakhir setelah pembunuhan perwira Pasukan Quds dari Pengawal Revolusi Iran, Hassan Sayyad Khodayi di Teheran pada 22 Mei lalu. Iran menuduh “Tel Aviv” lab sebagai pelaku pembunuhan. Demikian pula dengan pemboman yang dilakukan “Israel” target Bandara Internasional Damaskus pada 10 Juni. [ml/ofr]

Menlu Iran: Kehadiran “Israel” Ganggu Stabilitas Kemanan Wilayah Teluk Read More »

Redam Konflik Arab Teluk, Amerika Harapkan Iran Bijak Produksi Bom Nuklir

GAZAMEDIA, WASHINGTON – Kepala Departemen Luar Negeri AS, Antony Blinken memperkirakan Iran dapat memperoleh bom nuklir dalam beberapa minggu dengan memperingatkan Pengawal Revolusi Iran agar tidak membuat negara kawasan Arab Teluk menjadi tidak stabil, Selasa (14/6/2022).

Kementerian Luar Negeri mengatakan dalam sebuah pernyataan pers: “Iran dapat memperoleh bom nuklir dalam beberapa minggu, jadi kami ingin saling kembali ke perjanjian nuklir.”

Amerika Serikat sedang menunggu tanggapan konstruktif dari Iran terkait kebangkitan kembali perjanjian nuklir 2015.

Washington menekankan bahwa “langkah-langkah kami dalam membela diri terhadap eskalasi Iran adalah bijaksana, dan kami tidak berusaha untuk meningkatkan ketegangan di wilayah kawasan Timur Tengah.” [ml/ofr]

Redam Konflik Arab Teluk, Amerika Harapkan Iran Bijak Produksi Bom Nuklir Read More »

Dua Ilmuwan Nuklir Iran Tewas Diracun, “Israel” Dalang Dibalik Pembunuhan

GAZAMEDIA, TEHERAN – Dikuip dari The New York Times, Teheran percaya bahwa “Israel” telah melikuidasi dua ilmuwan Iran dengan meracuni makanan mereka pada Mei lalu.

Sumber mengatakan bahwa kedua korban adalah Ayoub Taziri, seorang insinyur penerbangan yang bekerja di pusat penelitian militer, dan Kamran Aghmlai seorang ahli geologi.

Salah satu sumber media Iran menyatakan , gejala keracunan mulai muncul pada ilmuwan setelah menghadiri undangan makan malam di Kota Yazd, Iran Tengah.

2 ilmuwan itu menghilang setelah undangan makan malam, pihak berwenang Iran mulai mencarinya.

Diketahui, Waiti mengerjakan proyek yang berkaitan dengan rudal dan mesin pesawat di pusat ruang angkasa pemerintah Yazd.

Berkenaan dengan Aghlami, surat kabar itu menunjuk pada laporan-laporan yang diedarkan oleh media “Israel” dan Iran di luar negeri di mana Aghlami bekerja di fasilitas nuklir “Natanz”, tetapi teman-teman korban membantahnya, menekankan bahwa dia bekerja di sebuah perusahaan riset geologi swasta.

The New York Times mengutip seorang teman ahli geologi Kamran Aghmalai menyebutkan, bahwa dia mengalami gejala keracunan yang parah setelah kembali ke Teheran dari perjalanan bisnis ke kota Tabriz (barat laut Iran).

Selama dekade terakhir, Iran menyaksikan serangkaian pembunuhan dan serangan yang menargetkan sejumlah ilmuwan dan personel militer mereka di samping kemajuan fasilitas nuklir. Iran menuduh “Israel” sebagai dalang di balik pembunhan tersebut. [ml/ofr]

Dua Ilmuwan Nuklir Iran Tewas Diracun, “Israel” Dalang Dibalik Pembunuhan Read More »

“Israel” Klaim Berhasil Gagalkan Rencana Serangan Iran ke Agen Intel Mereka di Turki

GAZAMEDIA, AL-QUDS – Media “Israel Hayom” memberitakan laporan penggagalan serangan yang disiapkan Iran terhadap anggota intelijen “Israel” di dalam wilayah Turki, Ahad (12/6/2022).

Bulan lalu, pasukan penjajah menerbitkan peringatan yang menyerukan “Israel” untuk tidak melakukan perjalanan ke Turki.

Situs web “Mako Israel” juga melaporkan bahwa intelijen Turki turut membantu menemukan jaringan agen Iran yang diduga menyerang sasaran “Israel” di wilayah Turki.

Diketahui, pihak “Israel” telah mengingatkan pada sepekan lalu kepada anggota mereka untuk tidak berkunjung ke Turki, menyusul pembunuhan perwira Pengawal Revolusi Iran, Hassan Sayyad Khadayi pada 25 Mei oleh “Israel” di Teheran.

Saluran TV 12 “Israel” mengatakan: “100 orang pemukim ilegal “Israel” di Turki diberitahu tentang kemungkinan penangkapan mereka oleh intel Iran. Teheran menuduh Tel Aviv berada di balik pembunuhan komandan Revolusinya tersebur yang bernama Kolonel Khodaye. [ml/ofr]

“Israel” Klaim Berhasil Gagalkan Rencana Serangan Iran ke Agen Intel Mereka di Turki Read More »

Iran Ultimatum Keberadaan “Israel” di Kawasan Teluk: Ancaman Nyata bagi Rakyat Arab

GAZAMEDIA, TEHERAN – Komandan angkatan laut Garda Revolusi Iran, Ali Reza Tangsiri menekankan bahwa kehadiran “Israel” di wilayah negara tetangga Teluk mengancam keamanan rakyat Arab di wilayah tersebut, Sabtu (11/6/2022).

Tansiri kini memeriksa kesiapan tempur Angkatan Laut Iran di Pulau Greater Tunb setelah media “Israel” mengklaim mereka sudah menyebarkan sistem radar Iron Dome di beberapa wilayah kawasan tersebut.

Dalam pidatonya, Transiri tegas menyindir: “Mengizinkan kehadiran penjajah di tanah negara tetangga merupakan ancaman bagi keamanan kawasan, ini peringatan nyata beberapa negara “saudara” yang mesra jalin ubungan dengan “Israel”.

Diketahui, setelah kunjungan Perdana Menteri Zionist, Naftali Bennett ke UEA dua hari lalu, Saluran 12 “Israel” mengungkapkan bahwa sistem radar “Israel” telah dikerahkan di beberapa negara di Timur Tengah dan Teluk, tanpa memberikan rincian tanggal publikasinya. [ml/ofr]

Iran Ultimatum Keberadaan “Israel” di Kawasan Teluk: Ancaman Nyata bagi Rakyat Arab Read More »

Amerika Ambil Langkah Kerja Sama dengan Teluk dan ‘Israel’, Perkuat Pertahanan Udara Lawan Iran

GAZAMEDIA, AL-QUDS – Channel 12 TV Ibrani mengungkapkan bahwa pasukan ‘Israel’ mengerahkan sistem radar di wilayah di Timur Tengah, termasuk UEA dan Bahrain, sebagai bagian dari visi kerja sama bersama dalam menghadapi ancaman rudal Iran dan menciptakan sistem peringatan dini. Kamis (9/6/2022).

Anggota Kongres AS mengajukan RUU yang mewajibkan Departemen Pertahanan AS (Pentagon) untuk berupaya mengintegrasikan pertahanan udara ‘Israel’ dan negara-negara Arab.

Saluran tersebut menyatakan bahwa sistem radar ‘Israel’ “berhasil memberikan peringatan dini beberapa bulan lalu, ketika Iran meluncurkan pesawat tak berawak yang dibom menuju Palestina yang terjajah, di mana mereka ditembak jatuh di atas Irak.”

Dia berkata: “Pemerintah AS sedang berusaha untuk membangun aliansi keamanan yang mencakup ‘Israel’ dan sejumlah negara Teluk, termasuk negara-negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan ‘Israel’.” [as/nb]

Amerika Ambil Langkah Kerja Sama dengan Teluk dan ‘Israel’, Perkuat Pertahanan Udara Lawan Iran Read More »

Anggota Dewan Atom Internasional Tuduh Iran Sembunyikan Situs Uranium Rahasia

GAZAMEDIA, VIENNA – Dewan Gubernur Badan Tenaga Atom Internasional keluarkan pernyataan resmi kritik Iran karena kurangnya kerjasama dan kegagalan untuk berikan penjelasan mengenai keberadaan jejak uranium rahasia yang tidak diletahui publik, Rabu (8/6/2022).

Teks resolusi tersebut menyatakan bahwa anggota Dewan Gubernur Atom yang terdiri dari 35 negara sepakat menyatakan “keprihatinan mendalam” atas ketidak jelasan mengapa sikap Iran seperti itu menambah penundaan kerjasama yang memadai antara Teheran dengan Badan Tenaga Atom Internasional.

Resolusi tersebut meminta Iran mengadakan pembicaraan lebih lanjut “tanpa ada penundaan atau dalih apapun”.

Hanya Rusia dan China yang menentang resolusi tersebut, sementara 30 negara memberikan suara mendukung, dan 3 negara abstain, yaitu Libya, India, dan Pakistan dalam rapat tertutup Dewan Gubernur di Wina.

“Israel” menyambut keputusan Badan Energi Atom Internasional mengenai keputusan tersebut

Pada gilirannya, Teheran bersumpah akan memberikan tanggapan yang tepat terhadap kecaman ini. [ml/ofr]

Anggota Dewan Atom Internasional Tuduh Iran Sembunyikan Situs Uranium Rahasia Read More »