HomeAnalisis dan OpiniAnalisaANALISIS - Pentagon Naikkan Ancaman Spionase Israel ke Level Kritis, Ini Penyebabnya

ANALISIS – Pentagon Naikkan Ancaman Spionase Israel ke Level Kritis, Ini Penyebabnya

Oleh: Usaid Siddiqui

Lembaga intelijen dan pertahanan Amerika Serikat memperingatkan bahwa Israel meningkatkan upaya pengumpulan informasi terkait perundingan untuk mengakhiri perang.

Menurut laporan NBC News dan The New York Times, Departemen Pertahanan AS (Pentagon) menaikkan tingkat ancaman spionase Israel ke kategori tertinggi, yaitu “kritis”. Penilaian ini muncul saat Washington berupaya mencapai solusi diplomatik dengan Iran, sementara Israel menentang perundingan tersebut.

Perbedaan sikap antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu semakin terlihat. Trump disebut ingin mengakhiri keterlibatan AS dalam konflik, sedangkan Netanyahu masih berupaya menjatuhkan pemerintahan Iran.

Ini bukan pertama kalinya Israel dituduh memata-matai Amerika Serikat, meski kedua negara memiliki hubungan keamanan dan intelijen yang sangat dekat.

Analis Rob Geist Pinfold dari King’s College London menilai Iran kemungkinan melihat situasi ini sebagai tanda adanya perpecahan di antara lawan-lawannya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kondisi tersebut menunjukkan Israel bisa saja mengambil langkah sepihak tanpa berkoordinasi dengan Washington.

 

Apa yang Dikatakan Pentagon?

Menurut NBC News dan The New York Times, Badan Intelijen Pertahanan Pentagon (DIA) menaikkan status ancaman kontraintelijen Israel dari “tinggi” menjadi “kritis”, level tertinggi dalam sistem penilaiannya.

Keputusan itu didasarkan pada meningkatnya aktivitas intelijen Israel untuk memperoleh informasi tentang personel militer AS, pejabat pemerintah, dan pembahasan kebijakan, terutama yang berkaitan dengan Iran.

Laporan tersebut menyebut sejumlah pejabat AS menilai upaya Israel untuk mengetahui posisi Washington dalam negosiasi dengan Iran sudah melampaui batas yang biasa terjadi di antara negara sekutu.

Target pengawasan disebut mencakup utusan khusus Trump, Steve Witkoff, pejabat kebijakan Pentagon Elbridge A. Colby, serta wakilnya Michael P. DiMino IV.

Selain itu, beberapa personel pertahanan AS yang bertugas di Israel dilaporkan menemukan perangkat lunak di ponsel mereka yang diduga digunakan untuk menyadap komunikasi.

Menurut The New York Times, aktivitas spionase Israel terhadap AS meningkat sejak akhir 2024, ketika pemerintahan Joe Biden memperbesar tekanan terhadap Israel terkait genosida di Gaza. Aktivitas tersebut disebut terus berlanjut setelah Trump kembali terpilih sebagai presiden.

Hubungan Trump dan Netanyahu juga dilaporkan memburuk akibat perbedaan pandangan mengenai perang di Lebanon. Trump meminta Israel menghentikan serangannya, tetapi serangan terus berlanjut.

Meski praktik pengumpulan intelijen antarnegara sahabat bukan hal baru, sejumlah pejabat AS menilai aktivitas Israel kali ini telah melewati batas yang selama ini dianggap dapat diterima.

 

Bagaimana Respons Israel dan AS?

Israel membantah tuduhan tersebut.

Kedutaan Besar Israel di Washington menyebut laporan bahwa Israel memata-matai pejabat atau lembaga pemerintah AS sebagai tuduhan yang “sepenuhnya salah”.

“Israel tidak mengumpulkan intelijen terhadap entitas Amerika, apalagi pejabat pemerintah AS,” kata juru bicara Kedutaan Israel kepada NBC News.

Seorang pejabat Gedung Putih juga membantah laporan tersebut dan menyebutnya tidak berdasar.

Al Jazeera menyatakan tidak dapat memverifikasi secara independen laporan maupun bantahan dari kedua pihak.

 

Apakah Israel Pernah Memata-matai AS?

Ya. Salah satu kasus paling terkenal adalah kasus Jonathan Pollard, analis intelijen Angkatan Laut AS yang ditangkap pada 1985 karena menyerahkan informasi rahasia kepada Israel.

Pollard kemudian mengaku bersalah atas tuduhan spionase dan menjalani hukuman 30 tahun penjara sebelum dibebaskan pada 2015.

Menurut Andreas Krieg, profesor keamanan di King’s College London, aktivitas intelijen antarnegara sekutu bukan hal yang tidak biasa.

Ia mengatakan Israel memiliki sejarah panjang menjalankan operasi intelijen di Amerika Serikat untuk memahami proses pengambilan kebijakan dan strategi Washington.

Meski beberapa kali muncul kasus spionase, AS tetap menjadi pendukung utama Israel melalui bantuan militer, penjualan senjata, dan dukungan diplomatik di berbagai forum internasional.

 

Mengapa Israel Diduga Meningkatkan Aktivitas Spionase?

Menurut Andreas Krieg, Israel sangat khawatir terhadap arah negosiasi antara AS dan Iran.

Dari sudut pandang Israel, perang melawan Iran merupakan konflik yang melibatkan dukungan AS. Namun kini Washington berpeluang menentukan penyelesaian diplomatik yang bisa membatasi kebebasan Israel melakukan tindakan militer terhadap Iran di masa depan.

Karena itu, Israel memiliki kepentingan untuk mengetahui perkembangan negosiasi secara langsung dan memahami posisi Washington.

Krieg juga menilai aktivitas intelijen tersebut dapat digunakan untuk mencari cara memengaruhi, menghambat, atau menggagalkan perundingan jika hasilnya dianggap merugikan kepentingan keamanan Israel.

Menurutnya, meskipun Israel sangat bergantung pada dukungan militer, diplomatik, dan finansial AS, negara itu tetap menjadikan Amerika sebagai target intelijen ketika kepentingan kedua pihak tidak sejalan.

Pakar Iran, Negar Mortazavi, mengatakan penolakan Israel terhadap negosiasi AS-Iran bukan hal baru. Sikap itu sudah terlihat sejak Presiden Barack Obama menandatangani kesepakatan nuklir dengan Iran pada 2015.

Mortazavi menilai Netanyahu sejak lama menentang normalisasi hubungan antara Teheran dan Washington dan berusaha menghambat proses tersebut dengan berbagai cara.

Ia juga mengatakan perang terhadap Iran tidak berjalan sesuai harapan Israel, sementara Trump ingin mengakhiri konflik melalui jalur diplomasi.

“Pada titik ini sangat jelas bahwa kepentingan Amerika Serikat dan Israel tidak lagi sepenuhnya sejalan, melainkan mulai berbeda arah,” kata Mortazavi.

ARTIKEL TERKAIT

Terpopuler