israel

Tegas! Deputi Partai Sayap Kiri Prancis Kutuk Apartheid “Israel”

GAZAMEDIA, PARIS – Hampir 40 deputi partai sayap kiri-yang sebagian besar adalah komunis- di Prancis menandatangani rancangan resolusi kutuk “rezim “Israel” atas Palestina sebagai apartheid, meskipun kecaman dari beberapa asosiasi menyebutkan tindakan mereka sebagai “anti-Semitisme”, Jumat (22/7/2022).

Resolusi tersebut menyebutkan, “Israel” dengan segala kebijakannya terbukti mendirikan sistem penindasan dan kontrol sistematis oleh satu kelompok hegemoni etnis tertentu secara parsial dan rasis.

“Sejak didirikan pada tahun 1948, “Israel” memaksakan kebijakan yang bertujuan membangun dan mempertahankan hegemoni demografis “Yahudi”,” Tulis rencana resolusi tersebut.

Para deputi mendesak pemerintah Prancis mengakui kedaulatan Palestina sebagai negara merdeka. Menuntut PBB berlakukan embargo senjata terhadap “Israel” serta penjatuhan sanksi yang berat atas tindakan genosida apartheid, bahkan jika perlu dilakukan pemboikotan produk milik “Israel” secara masal.

Teks resolusi yang diajukan anggota parlemen Komunis Jean-Paul Lecocq ditandatangani oleh 20 anggota dari blok parlementernya, termasuk mantan kandidat presiden, Fabien Roussel dan deputi partai France Proud (radikal kiri) seperti Adrien Katniss, partai Sosialis Christine Pierce-Bonn, Aurelien Tachy dan Sabrina Sabahi dari Partai Hijau.

Sementara itu, Liga Internasional Melawan Rasisme dan Anti-Semitisme (Licra) mentweet, “Kami tidak akan membiarkan anti-Semitisme kiri yang obsesif, menyinggung republik dan berusaha mengobarkan opini publik.” [as/nb]

Penggalian Al-Aqsha, Upaya Israel untuk Memaksakan Realita Baru

GAZA MEDIA, Al-Quds – Mengingat berlanjutnya ekskavasi penggalian yang dilakukan pendudukan Israel di area barat Masjid Al-Aqsha, suara-suara warga Al-Quds menyerukan rencana strategis untuk menghentikan ekskavasi yang mengancam Masjid Al-Aqsha tersebut.

Hari Ahad (25/6/2022), kepala Komite Al-Quds Kontra Yahudisasi, Nasser Hadmi, menyerukan agar ada rencana strategis untuk menghadapi pendudukan Israel dan memanfaatkan peran rakyat. Dia menekankan pentingnya peran resmi dalam menghentikan hubungan dengan pendudukan Israel, untuk mengakhiri pelanggaran serius di Al-Quds dan Al-Aqsha.

Dia menyatakan bahwa pendudukan Israel berusaha untuk menemukan jejak yang membuktikan narasinya dan pembicaraannya tentang eksistensi historis orang-orang Yahudi di Palestina. Pada saat yang sama dia menyatakan bahwa pendudukan Israel belum berhasil dalam upaya ini. Karena itu mereka berusaha melenyapkan bukti-bukti yang membuktikan kebalikan dari narasi Zionis, dan berusaha memalsukannya agar selaras dengan narasinya.

Selama beberapa hari,alat-alat berat pendudukan Israel terus melakukan penggalian di area “Istana Umayyah”, yang berdekatan dengan dinding selatan Masjid Al-Aqsha yang diberkati.

Nasser Hadmi melihat bahwa pendudukan Israel telah mulai kehilangan kendali atas Masjid Al-Aqsha, jadi mereka bekerja untuk mempercepat pertempuran ini, dan ingin melihat tempaat-tempat shalat di Masjid Al-Aqsha runtuh, serta ingin mencegah Departemen Wakaf Islam melakukan renovasi dan perbaikan tempat-tempat shalat tersebut dan memakmurkannya.

Dia melanjutkan, “Otoritas pendudukan Israel berpacu dengan waktu untuk mengontrol sekitar Masjid Al-Aqsha melalui ‘UU Kompromi’ di Al-Quds.”

Nasser Hadmi memuji peran rakyat, baik mereka yang dating dari Al-Quds, dari wilayah Palestina yang diduduki Israel sejak tahun 1948 (Palestina 48), atau warga Tepi Barat, serta memuji keberhasilan mereka dalam mempertahankan Masjid Al-Aqsha. Dia menambahkan, “Tapi itu tidak cukup, harus ada peran resmi Arab dan Islam yang bergerak dan berdampak dalam menghadapi pendudukan Israel.”

Sementara itu, direktur Masjid Al-Aqsha, Syaikh Omar Kiswani, membenarkan bahwa penggalian baru Israel telah terpantau di area Istana Umayyah yang berdekatan dengan Masjid Al-Aqsha.

Kiswani menjelaskan bahwa penggalian tersebut telah berlangsung selama lima tahun, terbukti dengan jatuhnya batu di dinding selatan Masjid Al-Aqsha, berdekatan dengan area Al-Buraq.

Dia menyatakan bahwa “Otoritas Purbakala” di pemerintahan pendudukan Israel telah mengambilnya. Sedang Departemen Wakaf dan Urusan Agama tidak dapat memperolehnya kembali untuk dikembalikan ke tempatnya semua. Dia menyebutkan bahwa hal tersebut terjadi karena adanya “tindakan yang mencurigakan.”

Dia menekankan bahwa pendudukan Israel mengeluarkan tanah dalam jumlah besar dari sisi barat Istana Umayyah. Ketika menemukan batu-batu besar, mereka memecahkannya dan mengeluarkannya bersama tanah dari daerah yang sama sebagai upaya untuk menciptakan perubahan pada landmark atau fitur-fitur Islam di sana.

Dia menjelaskan bahwa pendudukan Israel, melalui penggalian yang mereka lakukan, berusaha untuk membangun pijakan di wilayah tersebut, tetapi semua orang tahu bahwa area Al-Buraq dan Istana Umayyah adalah tanah wakaf Islam milik Masjid Al-Aqsha.

Dia memperingatkan bahwa tindakan mencurigakan yang dilakukan oleh pendudukan Israel ini sepenuhnya adalah tanggung jawabnya, yang mengabaikan resolusi-resolusi UNESCO dan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dia memperingatkan bahwa penggalian yang dilakukan pendudukan Israel ini menimbulkan bahaya bagi pondasi Masjid Al-Aqsha, terutama bagian barat dan timur sisi selatan Masjid Al-Aqsha.

Kiswani menekankan perlunya bekerja untuk menghentikan penggalian pendudukan Israel di bawah dan di sekitar Masjid Al-Aqsha tersebut, yang sangat dekat dengan pondasi masjid.

Para peneliti Al-Quds telah memperingatkan ancaman serius baru terhadap Masjid Al-Aqsha, yang disebabkan oleh penggalian terus menerus yang dilakukan pendudukan Israel di wilayah barat, yang bertujuan untuk memaksakan realitas baru di dalamnya, memburu warisan historis masjid dan berusaha untuk menghapusnya.

Lembaga-lembaga dan pihak-pihak yang bertanggung jawab di al-Quds dan Masjid al-Aqsha telah mengungkap adanya retakan baru yang muncul di area aneh Al-Aqsha, dekat Museum Islam dan Gerbang Mughrabi (pintu barat masjid) yang berdekatan dengan Tembok Al-Buraq sampai ke area Istana Umayyah, yang disebabkan oleh penggalian terus menerus yang dilakukan pendudukan Israel di bawahnya.[]

Al-Aqsha, Israel Ambil Tanahnya dan Batu-batunya Berjatuhan

GAZA MEDIA, Al-Quds – Intensitas serangan yang dilakukan pendudukan Israel terhadap Masjid Al-Aqsha terus meningkat, sebagai upaya untuk menguasainya dan melakukan yahudisasi di sana.

Serangan-serangan ini mencapai puncak intensitasnya dengan berlanjutnya penggalian di bawah Masjid Al-Aqsha, Kota Tua dan sekitar dua lokasi tersebut di Al-Quds.

Kebijakan pendudukan Israel terhadap Kota Suci dan kiblat pertama umat Islam ini dilakukan di atas dan di bawahnya.

Eskalasi serangan ini dilakukan pendudukan Israel sebagai upaya untuk melakukan yahudisasi dan menciptakan narasi yang mendukung klaim-klaimnya. Hal tersbut dilakukan melalui rencana-rencana permukiman yang dimulai dengan melakukan penyerbuan dan tidak hanya berhenti pada penggalian-penggalian dan pembuatan terowongan-terowongan di bawahnya.

Hingga tahun 2016, penggalian yang dilakukan pendudukan Israel di bawah dan sekitar Masjid al-Aqsha mencapai 70 penggalian. Kedalaman penggalian ini mencapai lebih dari 12 meter.

Untuk kedua kalinya dalam empat tahun terakhir, tabu-batu berjatuhan dari dinding Masjid al-Aqsha. Khatib Masjid al-Aqsha, Syaikh Ikrima Sabri mengatakan, “Penggalian yang dilakukan pendudukan Israel adalah sebab langsung terjadinya retakan dan kami khawatir terjadi longsor di Masjid al-Aqsha atau merusak pondasinya yang sudah terbuka.”

Pakar dalam urusan al-Quds, Fakhri Abu Diyab, mengatakan, “Pendudukan Israel melarang renocasi Masjid al-Aqsha. Retakan yang Nampak di kawasan barat masjid, sebabnya adalah penggalian dan pengambilan tanah da batu, yang bertujuan untuk menghancurkan masjid dan memotong bagian masjid.”

Proses pengeboran dan penggalian telah mulai dilakukan oleh pendudukan Israel sejak mereka menduduki al-Quds pada tahun 1967. Yang pertama dilakukan adalah menghancurkan kampung al-Mughraba (sebelah barat masjid) dan tembok al-Burak, serta penghancuran peninggalan dan bangunan kuno peninggalan Arab dan Islam.

Meskipun demikian, Masjid al-Aqsha tetap dengan idenitas Islam dan Arabnya. Betapapun sengitnya eskalasi serangan yang dilakukan pendudukan Israel.[]

Iran Ultimatum Keberadaan “Israel” di Kawasan Teluk: Ancaman Nyata bagi Rakyat Arab

GAZAMEDIA, TEHERAN – Komandan angkatan laut Garda Revolusi Iran, Ali Reza Tangsiri menekankan bahwa kehadiran “Israel” di wilayah negara tetangga Teluk mengancam keamanan rakyat Arab di wilayah tersebut, Sabtu (11/6/2022).

Tansiri kini memeriksa kesiapan tempur Angkatan Laut Iran di Pulau Greater Tunb setelah media “Israel” mengklaim mereka sudah menyebarkan sistem radar Iron Dome di beberapa wilayah kawasan tersebut.

Dalam pidatonya, Transiri tegas menyindir: “Mengizinkan kehadiran penjajah di tanah negara tetangga merupakan ancaman bagi keamanan kawasan, ini peringatan nyata beberapa negara “saudara” yang mesra jalin ubungan dengan “Israel”.

Diketahui, setelah kunjungan Perdana Menteri Zionist, Naftali Bennett ke UEA dua hari lalu, Saluran 12 “Israel” mengungkapkan bahwa sistem radar “Israel” telah dikerahkan di beberapa negara di Timur Tengah dan Teluk, tanpa memberikan rincian tanggal publikasinya. [ml/ofr]

Perjanjian Camp David Terancam Punah, Mantan Pejabat AS Peringatkan “Israel” Waspada Ancaman Militer Mesir di Sinai

GAZAMEDIA, WASHINGTON – Mantan pejabat AS yang bekerja dengan organisasi penelitian “Israel” memperingatkan setiap perubahan yang dilakukan Mesir dapat menimbulkan ancaman langsung terhadap keamanan “Israel”, terutama di Semenanjung Sinai setelah eskalasi peningkatan jumlah dan komposisi pasukan di pihak Militer Mesir, dengan cara yang tidak diizinkan dalam ketentuan keamanan perjanjian damai “Israel”-Mesir yang ditandatangani pada 1979, Sabtu (11/6/2022).

David Schenker, direktur Program Politik Kebijakan Arab & Timur Tengah dari Institut Washington mengatakan: “Ada kerja sama militer yang belum pernah terjadi sebelumnya antara Kairo dan “Israel” di Sinai, termasuk dukungan udara “Israel” yang baru operasi Mesir.”

Pada saat yang sama, Schenker menekankan bahwa pemulihan hubungan ini membuat “Israel” mengizinkan masuknya pasukan militer bersenjata Mesir ke Sinai, yang dianggapnya melanggar ketentuan perjanjian damai Camp David antara Mesir dan “Israel” yang ditandatangani oleh mantan Presiden Anwar Sadat, yang jelas-jelas melarang kebebasan bergerak tentara Mesir di Sinai, kecuali di perbatasan yang sangat sempit, dengan senjata ringan, dan hanya dengan persetujuan “Israel sebelumnya.

Perjanjian damai antara Mesir disimpulkan pada tanggal 26 Maret 1979, mengikuti Kesepakatan Camp David pada tahun 1978, yang merupakan lampiran keamanan pada perjanjian yang membatasi penempatan militer di Sinai. [ml/ofr]

“Israel” Kembali Target Pos Militer Suriah dengan Rudal

GAZAMEDIA, DAMASKUS – Pesawat tempur “Israel” kembali menargetkan situs militer di selatan ibukota Suriah, Damaskus dengan beberapa rudal pada Jumat dini hari (10/6/2022).

Media Suriah melaporkan bahwa pemboman itu menyebabkan seorang warga sipil terluka ringan dan beberapa kerusakan material.

Pertahanan udara Suriah klaim berhasil mencegat rudal, dan menembak jatuh sebagian besar serangan rudal yang dilepaskan “Israel”.

Patut dicatat bahwa “Israel” terus menggempur wilayah Suriah dengan dalih bentuk perlawanan atas kerjasama Suriah dengan Iran. [ml/ofr]

Hizbullah Ancam “Israel”, Cegah Ektrasi Gas Ladang Karish

GAZAMEDIA, BEIRUT – Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon, Hassan Nasrallah, menegaskan bahwa partai tersebut mampu mencegah ‘Israel’ mengekstraksi minyak dan gas dari wilayah laut yang disengketakan dengan Lebanon, menyerukan manajemen “kapal Yunani” untuk menarik segera. Kmais (9/6/2022).

Minggu lalu, ‘Israel’ mengirim kapal Yunani untuk mengekstrak dan menyimpan gas ke ladang Karish, sekitar 80 km sebelah barat Haifa, Palestina.

Nasrallah menyatakan dalam pidato televisi bahwa tujuan langsung Lebanon adalah untuk mencegah ekstraksi minyak dan gas dari ladang Karish, menekankan bahwa Lebanon memiliki hak dan kekuatan tentara dan perlawanan.

Nasrallah berkata, “Perlawanan tidak akan tinggal diam, dan semua tindakan ‘Israel’ tidak akan mampu melindungi platform terapung untuk mengekstraksi minyak dari ladang Karish.” [as/nb]

Pendidikan di Tepi Barat Palestina dalam Bayang-bayang Israel

GAZAMEDIA, AL-QUDS – Otoritas Israel akan melakukan pengawasan secara ketat terkait dengan status dosen dari luar negeri yang akan mengajar di sejumlah Perguruan Tinggi atau Universitas Palestina yang berada di wilayah Tepi Barat terjajah.

Pihak Israel juga memperbolehkan mahasiswa dari berbagai negara untuk belajar di Palestina akan tetapi rezim Zionis tetap mengeluarkan prosedur ganda yakni dengan cara melalui pengawasannya.

Dilansir dari media terbitan Israel, pihaknya akan mengizinkan universitas-universitas Palestina untuk mempekerjakan dosen dari luar negeri hanya jika mereka akan mengajar di bidang yang dibutuhkan, dan di mana ada kekurangan staf pendidikan.

“Ini akan dilakukan sesuai dengan kondisi, termasuk dosen dan peneliti yang dibedakan dengan setidaknya gelar doktor, ini juga akan diberikan melalui konsulat Israel di negara asal pemohon, berapa banyak dosen yang akan menerima visa masuk akan ditentukan, hingga saat ini mencapai 100 orang, ” Tulis media tersebut.

Surat kabar tersebut menyatakan bahwa ketentuan terperinci ini dan lainnya terkait dengan kategori warga negara asing yang ingin masuk dan tinggal di Tepi Barat, termasuk dalam dokumen aplikasi permanen tentara “Israel”, pernyataan tersebut diterbitkan bulan lalu dan akan segera mulai berlaku,

Menurut surat kabar tersebut, dokumen berjudul “Prosedur Masuk dan Tempat Tinggal Migran di Tepi Barat” juga menetapkan kuota jumlah mahasiswa asing yang akan diizinkan untuk belajar di universitas-universitas Palestina menjadi hanya 150, dan tentara “Israel” juga akan diperbolehkan untuk membatasi bahan studi di universitas Palestina yang terbuka untuk mahasiswa asing, dan mereka akan diminta untuk Setiap mahasiswa wawancara dengan kantor perwakilan “Israel” di negara asal mereka.

Surat kabar tersebut menyatakan bahwa prosedur tersebut hanya berlaku untuk warga negara dari negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan “Israel”, dengan pengecualian negara-negara seperti Yordania, Mesir dan UEA, meskipun mereka memiliki hubungan diplomatik dengan Tel Aviv, tetapi warga negara mereka dapat mengajukan permohonan kunjungan yang jauh lebih singkat dan lebih sulit. [AYS/FKR/CKY]

Israel Klaim Tembak Dua Drone Milik Iran yang Melintas di Jalur Gaza

GAZAMEDIA, PALESTINA – Pihak militer Israel mengeklaim telah berhasil menembak jatuh dua drone yang diduga milik Republik Islam Iran, Minggu (6/3) waktu setempat. Dua drone tersebut ditembak jatuh oleh angkatan udara Israel saat melintas di udara Jalur Gaza, Palestina.

“Israel mengklaim bahwa angkatan udaranya telah menembak jatuh dua pesawat tak berawak dalam perjalanan untuk memasok senjata ke Jalur Gaza,” tulis media yang berbasis di Israel.

Koresponden Hebrew Channel 13, Alon Ben-David, menyatakan bahwa kedua pesawat Iran itu mengangkut pasokan pistol.

Ben-David mengatakan, diperkirakan bahwa Iran mencoba mencari tahu apakah mungkin membuka rute baru untuk mendukung Gaza dengan senjata menggunakan udara.

Patut dicatat bahwa “Israel” sedang mengejar kebijakan mengeringkan, berupa sumber-sumber dukungan untuk perjuangan di Jalur Gaza dengan menghancurkan terowongan, menutup perbatasan, mengebom pabrik-pabrik pasokan di negara-negara Arab, dan menangkap semua yang terlibat dalam mendukung Gaza secara militer. [AYS/FKR/CKY]

Tolak Partisipasi “Israel”, Delegasi Kuwait Menarik Diri Dari Konferensi Bahrain

GAZAMEDIA, KUWAIT –  Delegasi akademik Kuwait baru-baru ini menarik diri dari konferensi yang diselenggarakan oleh Universitas Bahrain sebagai protes terhadap partisipasi delegasi “Israel”.

“Asosiasi Pemuda Al-Quds” Kuwait mengatakan dalam sebuah tweet di akun resminya di Twitter.

“Mereka mengundang kami untuk mengunjungi tanah rampasan kami yang dijajah oleh entitas kriminal mereka, dan kemudian mereka menyebutnya pertemuan akademis dan ilmiah!” cuit akun tersebut.

Di sisi lain, Asosiasi Profesor Universitas di Palestina menghargai apa yang disebut bahwa posisi Arab otentik yang dicatat oleh delegasi akademik Kuwait dengan penarikan dan penolakan partisipasi dalam konferensi ilmiah di mana akademisi dari partisipasi negara “Israel”.

Patut dicatat bahwa Sekolah Tinggi Administrasi Bisnis di Universitas Bahrain mengumumkan pembentukan konferensi “Asosiasi Timur Tengah untuk Pengembangan Sekolah Tinggi Administrasi Bisnis”, di hadapan sejumlah perguruan tinggi administrasi bisnis di negara-negara Teluk, tanpa menyebutkan partisipasi delegasi “Israel” dalam konferensi tersebut. [AYS/FKR/CKY]