Saturday, November 29, 2025
HomeBeritaEmpat negara Eropa kutuk keras kekerasan pemukim Israel di Tepi Barat

Empat negara Eropa kutuk keras kekerasan pemukim Israel di Tepi Barat

Prancis, Jerman, Italia, dan Inggris—4 negara berpengaruh di Eropa—pada Kamis menyampaikan kecaman keras atas meningkatnya kekerasan yang dilakukan para pemukim Israel terhadap warga sipil Palestina di Tepi Barat.

Keempatnya mendesak Israel untuk melindungi penduduk wilayah yang didudukinya sejak 1967 tersebut.

Pernyataan itu muncul di tengah intensifikasi operasi militer Israel di Tepi Barat serta serangan yang masih berlangsung terhadap Jalur Gaza.

Dalam pernyataan bersama, para menteri luar negeri negara-negara tersebut menegaskan bahwa eskalasi yang terjadi sudah melampaui batas kewajaran.

“Kami—Prancis, Jerman, Italia, dan Inggris—mengutuk keras peningkatan kekerasan yang mengerikan dari pihak para pemukim terhadap warga sipil Palestina, dan menyerukan stabilitas di Tepi Barat,” demikian pernyataan empat menlu itu.

Mereka menambahkan bahwa serangan-serangan tersebut harus segera dihentikan.

“Tindakan itu menebarkan ketakutan di tengah warga sipil dan merongrong upaya yang tengah dilakukan untuk mewujudkan perdamaian serta menjamin keamanan jangka panjang bagi negara Israel sendiri,” imbuhnya.

Dalam pernyataan yang sama, para menteri juga menyambut baik sikap Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang secara terbuka menolak pencaplokan Tepi Barat oleh Israel.

Empat negara itu kembali menegaskan penolakan terhadap segala bentuk aneksasi—baik penuh, parsial, maupun de facto—serta menyoroti kebijakan permukiman Israel yang dinilai melanggar hukum internasional.

200 operasi dalam 2 hari

Kecaman Eropa itu bertepatan dengan gelombang operasi besar yang dilakukan militer Israel.

Sekitar 200 aksi penggerebekan, penangkapan, penggeledahan, dan penahanan di berbagai titik di Tepi Barat dalam beberapa hari terakhir.

Menurut laporan koresponden Al Jazeera di Palestina, Muhammad Al-Atrash, operasi tersebut terjadi di Tubas, Kamp Al-Far’a, dan sejumlah wilayah seperti Tamun, Tyasir, serta Aqaba di bagian utara Tepi Barat.

Beberapa rumah warga bahkan diubah menjadi pos militer setelah penghuni dipaksa keluar.

Al-Atrash mengutip sebuah keluarga di Tubas yang telah dua kali diusir dari rumah mereka dalam dua hari terakhir.

Mayoritas rumah yang menjadi sasaran, kata dia, merupakan milik keluarga tahanan atau keluarga para syahid Palestina.

Militer Israel berdalih bahwa rumah-rumah tersebut digunakan sebagai basis bagi para pelaku perlawanan.

Namun bagi banyak warga Palestina, langkah ini tidak lebih dari tindakan balas dendam terhadap para tahanan atau keluarga mereka—tanpa dasar kebutuhan keamanan yang nyata.

Selain menahan warga, operasi itu juga menjangkau para mantan tahanan yang sebelumnya telah dibebaskan.

Saat ini Israel menutup rapat kota Tubas—yang dihuni sekitar 70.000 penduduk Palestina. Jalan-jalan menuju kota itu diputus dengan pos penjagaan dan patroli yang intens.

Setiap orang yang tidak mematuhi aturan jam malam total yang telah berlangsung selama 2 hari langsung ditangkap, termasuk para jurnalis yang mencoba memasuki wilayah tersebut.

ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler