Ketika ratusan ribu warga Gaza hidup di bawah ancaman bom dan pengusiran, juru bicara militer Israel pada 27 Agustus lalu mempublikasikan sebuah peta di platform X.
Ia menyebut, peta itu menunjukkan “wilayah luas dan kosong” di bagian selatan dan tengah Jalur Gaza yang dapat dijadikan lokasi kamp pengungsian serta pusat distribusi bantuan.
Militer menegaskan, evakuasi Kota Gaza tak bisa dihindari. Bahkan, mereka mengklaim sudah mulai memasang tenda, meratakan tanah untuk jalur pipa air, dan menyiapkan lokasi distribusi logistik.
Namun, benarkah area yang ditandai itu benar-benar kosong dan siap menampung warga yang terusir? Pertanyaan inilah yang menjadi titik tolak investigasi Tim Verifikasi Fakta Sanaad milik Jaringan Al Jazeera.
Dengan menggabungkan peta Israel dan citra satelit terbaru, tim mencoba menyingkap kenyataan di balik klaim tersebut.
Hasil analisis menunjukkan, peta itu sebenarnya hanya mencakup 38 bidang lahan: 8 di Khan Younis dan 30 di Deir al-Balah, dengan total luas tak lebih dari 7 kilometer persegi.
Jumlah itu tentu tak sebanding dengan ratusan ribu orang yang terancam terusir dari Gaza bagian utara.
Lebih jauh, 29 dari 38 bidang tanah yang ditandai ternyata berada di dalam kawasan yang sudah masuk daftar evakuasi paksa oleh Israel sendiri.
Di sinilah kontradiksi mencuat: bagaimana mungkin warga sipil diarahkan ke wilayah yang oleh militer justru digolongkan sebagai “tidak aman”?
Pemeriksaan visual memperlihatkan bahwa lahan-lahan itu sama sekali bukan “kosong dan luas” seperti diklaim.
Sebagiannya adalah tanah milik pribadi yang berpagar rapat, tempat pembuangan sampah terbuka, atau kawasan permukiman padat.
Ada pula area yang sudah penuh dengan tenda pengungsi, sementara sisanya digunakan untuk pertanian.
Di Khan Younis, empat lokasi bahkan sudah penuh dan 4 lainnya sebagian terisi. Di Nuseirat, satu lokasi hampir penuh dan satu lagi hanya menyisakan ruang terbatas.
Di kamp Bureij dan Maghazi, satu lokasi terisi penuh dan empat lainnya sebagian. Gambaran serupa terlihat di al-Zawaida, dengan satu lokasi padat dan 6 lainnya ditempati sebagian.
Sementara di Deir al-Balah, tiga lokasi penuh sesak, dan 13 lainnya sudah terisi dalam berbagai tingkat.
Citra satelit menunjukkan, beberapa di antaranya sudah dihuni hingga lebih dari 80 persen, sehingga sulit menyebutnya sebagai “tanah kosong”.
Selain soal kepadatan, investigasi menemukan hal lain. Banyak lahan yang ditandai Israel ternyata berupa tanah pribadi yang tidak bisa diakses sembarangan, area pertanian yang sedang digunakan, bahkan tempat pembuangan sampah dan reruntuhan bangunan.
Mustahil lahan seperti ini seketika bisa dijadikan kamp pengungsian atau pusat distribusi bantuan.
Lebih jauh, sejumlah bidang justru merupakan kawasan permukiman padat yang dipenuhi bangunan.
Dengan kondisi itu, tidak ada ruang yang tersisa untuk mendirikan tenda baru atau fasilitas bantuan.
Ada pula lokasi yang sudah terisi penuh dengan tenda-tenda darurat pengungsi, sehingga tidak bisa dianggap sebagai “wilayah baru” untuk menampung mereka.
Bahkan di beberapa area pasir, seperti di Khan Younis, lahan yang disebut kosong sebenarnya berupa bukit pasir terjal yang tak memungkinkan untuk mendirikan tenda.
Lebih serius lagi, sejumlah lahan yang digolongkan kosong adalah sawah atau ladang kecil—sumber pangan yang justru amat langka di tengah ancaman kelaparan massal di Gaza.
Mengalihfungsikannya menjadi kamp pengungsian tidak hanya gagal menyediakan tempat aman, tetapi juga mengorbankan salah satu sumber penghidupan terakhir warga Gaza.
Pada akhirnya, investigasi menyimpulkan bahwa gambaran militer Israel tentang “lahan kosong yang luas” sama sekali tidak sesuai realitas.
Luas total yang tak sampai 7 kilometer persegi itu tidak cukup untuk menampung gelombang pengungsi baru, apalagi jika sebagian lahan adalah kawasan padat, lahan pribadi, pertanian, atau bahkan tempat sampah.
Dengan demikian, klaim militer Israel tentang “ruang siap pakai” ternyata hanya sebatas gambar di atas kertas—yang runtuh begitu saja ketika diuji dengan data satelit dan fakta lapangan.