HomeBeritaIran Ancam Tutup Selat Hormuz dan Bab El Mandab Atas Pelanggaran Gencatan...

Iran Ancam Tutup Selat Hormuz dan Bab El Mandab Atas Pelanggaran Gencatan Senjata Gaza, Eskalasi Regional Memasuki Babak Baru

TEHERAN / GAZA CITY — Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Senin (1/6/2026) mengancam akan mengganggu jalur pelayaran internasional di dua titik vital perdagangan dunia—Selat Hormuz dan Selat Bab El Mandab—sebagai respons atas operasi militer Israel yang terus berlanjut di Jalur Gaza dan Lebanon. Ancaman tersebut langsung memicu kekhawatiran pasar energi global dan menambah lapisan baru pada krisis kawasan yang sudah memanas tujuh bulan sejak gencatan senjata Gaza diberlakukan.

Pada hari yang sama, tim negosiasi Iran dilaporkan menghentikan dialog tidak langsung dengan Amerika Serikat. Penghentian pembicaraan tersebut disebut sebagai respons terhadap dugaan pelanggaran kondisi gencatan senjata yang berulang, baik di Lebanon maupun di Gaza. Keputusan Teheran ini menandai pertama kalinya saluran komunikasi tidak langsung antara Iran dan Washington terputus secara resmi sejak ketegangan pasca-perang Februari 2026 mereda.

Serangan di Bureij: Gencatan Senjata yang Tidak Berhenti Memakan Korban

Sementara perhatian dunia tertuju pada manuver diplomatik di tingkat regional, di lapangan Gaza tetap menjadi panggung kekerasan harian. Media-media Palestina melaporkan bahwa militer Israel pada Senin (1/6) malam menyerang sebuah sepeda motor di kamp pengungsi Bureij, di kawasan tengah Jalur Gaza. Satu orang dilaporkan tewas dan satu lainnya luka-luka dalam serangan tersebut. Militer Israel hingga laporan ini ditulis belum memberikan komentar resmi terkait insiden tersebut.

Serangan di Bureij menjadi yang kesekian dari pola yang konsisten sejak gencatan senjata yang ditengahi AS mulai berlaku pada 10 Oktober 2025. Berdasarkan data terbaru Kementerian Kesehatan Gaza, sedikitnya 880 warga Palestina telah tewas akibat serangan-serangan Israel yang berlanjut sejak gencatan senjata diberlakukan. Total korban tewas sejak Oktober 2023 kini mencapai 72.797 jiwa.

Pola serangan-target tunggal seperti yang terjadi di Bureij—dengan dalih menyasar individu tertentu yang dianggap militan—menjadi modus yang semakin sering digunakan Israel selama masa gencatan senjata. Para analis menilai modus ini memungkinkan Israel mempertahankan operasi militer sambil secara teknis tidak melanggar gencatan senjata dalam skala besar.

Konteks Eskalasi: Lebanon Memanas, Hezbollah Aktif Kembali

Ancaman Iran datang di tengah eskalasi serentak di front Lebanon. Pada Senin pagi, seorang perwira medis IDF, Ori Yosef Silvester, tewas dan tujuh tentara lainnya luka-luka dalam serangan drone bermuatan bahan peledak yang diluncurkan Hezbollah di Lebanon selatan. Pada hari yang sama, sebuah drone Hezbollah menyerang komunitas perbatasan Metula, sementara tiga roket yang ditembakkan dari Lebanon ke wilayah Karmiel di utara Israel berhasil dicegat sistem pertahanan udara IDF.

Aktivasi kembali front Lebanon memperlihatkan bahwa kerangka “Poros Perlawanan”—jaringan kelompok-kelompok yang didukung Iran—mulai mengoordinasikan tekanan multi-front terhadap Israel. Strategi ini, jika berlanjut, berpotensi mengembalikan kawasan ke situasi konflik regional terbuka seperti yang sempat terjadi pada awal 2026 ketika Israel-AS dan Iran terlibat dalam pertukaran serangan langsung.

Dampak Global: Pasar Energi dan Pelayaran Dunia

Ancaman Iran terhadap Selat Hormuz dan Bab El Mandab memiliki implikasi ekonomi global yang sangat serius. Selat Hormuz adalah jalur lewatnya sekitar 20-25 persen pasokan minyak dunia, sementara Bab El Mandab merupakan titik kritis bagi lalu lintas Terusan Suez yang menghubungkan Asia ke Eropa.

Gangguan—bahkan ancaman gangguan—terhadap dua jalur tersebut berpotensi memicu lonjakan harga minyak global, mengganggu rantai pasokan internasional, dan menaikkan biaya pelayaran serta asuransi maritim. Bagi Indonesia sebagai negara importir minyak besar dengan ketergantungan pelayaran tinggi, gejolak di kedua selat ini dapat berdampak langsung pada harga BBM domestik dan biaya logistik nasional.

Para analis energi memperkirakan reaksi pasar minyak akan terlihat dalam perdagangan Selasa (2/6) dan Rabu (3/6), tergantung pada respons Amerika Serikat dan keseriusan tindak lanjut Iran atas ancaman tersebut.

Israel Kuasai Dua Pertiga Gaza, Annexation Mengintai

Di tengah dinamika regional yang memanas, Israel terus memperdalam kendalinya atas wilayah Gaza. Berdasarkan analisis terbaru yang dipublikasikan akhir pekan lalu, sejak gencatan senjata Oktober 2025, Israel telah memperluas dan memperkuat kehadirannya di Gaza, dengan mencekik akses sekitar dua pertiga wilayah kantong bagi penduduknya per April 2026.

Para pemimpin Israel sendiri secara terbuka mulai memberi sinyal arah jangka panjang yang mengkhawatirkan: aneksasi dan pembersihan etnis. Pekan lalu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengumumkan ia telah memerintahkan militer untuk mengambil alih kendali atas 70 persen wilayah Jalur Gaza—pernyataan yang menuai kecaman luas dari komunitas internasional.

Harapan bahwa Amerika Serikat akan menegakkan kondisi gencatan senjata yang ditengahinya sendiri tampak semakin pupus. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, ketika dimintai keterangan terkait pelanggaran-pelanggaran Israel, justru menempatkan seluruh tanggung jawab pada Hamas atas kebuntuan perdamaian, pelucutan senjata, dan rekonstruksi Gaza.

Pemilu Israel September: Kalkulasi Politik di Balik Eskalasi

Eskalasi yang terjadi sepanjang Mei hingga awal Juni 2026 tidak bisa dilepaskan dari kalender politik Israel. Pemilu nasional Israel dijadwalkan pada September 2026, dan Perdana Menteri Netanyahu menghadapi tantangan politik yang serius dari blok oposisi.

Pada Senin (1/6), Pemimpin Oposisi Yair Lapid kembali menyerukan persatuan “blok perubahan” anti-Netanyahu, mengajak ketua partai Yashar Gadi Eisenkot untuk bergabung dengan koalisi Together yang juga melibatkan mantan Perdana Menteri Naftali Bennett. Konsolidasi oposisi ini berpotensi membentuk ancaman elektoral nyata bagi Netanyahu, yang selama ini bergantung pada koalisi sayap kanan ekstrem—termasuk partai pimpinan Itamar Ben-Gvir—untuk mempertahankan kekuasaan.

Sejumlah analis politik menilai eskalasi militer di Gaza dan Lebanon memberi keuntungan ganda bagi Netanyahu: di satu sisi, mengalihkan perhatian dari masalah-masalah domestik dan dakwaan korupsi yang masih membayangi kariernya; di sisi lain, memperkuat retorika keamanan keras yang menjadi andalan basis pemilihnya.

Posisi Indonesia: Antara Diplomasi dan Pasukan ISF

Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi langsung terhadap rencana pengiriman 5.000 hingga 8.000 personel TNI sebagai bagian dari Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) di Gaza. Eskalasi regional yang melibatkan Iran, Hezbollah, dan kemungkinan front-front lain memperumit kalkulasi keamanan bagi pengerahan pasukan asing di kawasan tersebut.

Hingga laporan ini ditulis, Kementerian Pertahanan RI belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait dampak ancaman Iran terhadap jadwal dan operasional ISF Indonesia. Namun para pengamat pertahanan mendesak agar pengiriman pasukan ditinjau ulang dengan mempertimbangkan dinamika keamanan kawasan yang berubah cepat dalam 48 jam terakhir.

Indonesia juga memiliki kepentingan ekonomi langsung dalam stabilitas Selat Hormuz dan Bab El Mandab, mengingat sebagian besar impor minyak dan jalur ekspor-impor RI melewati salah satu dari dua selat tersebut. Gangguan di kedua titik tersebut berpotensi memicu inflasi energi domestik yang sudah cukup tertekan.

Tatapan ke 48 Jam ke Depan

Selasa dan Rabu pekan ini akan menjadi periode kritis bagi arah krisis kawasan. Beberapa indikator yang akan menentukan eskalasi atau de-eskalasi situasi:

Pertama, respons resmi Amerika Serikat terhadap ancaman Iran dan apakah Washington akan menempuh jalur diplomasi atau tekanan militer. Kedua, kelanjutan—atau penghentian total—operasi Israel di Gaza dan Lebanon, khususnya menjelang peringatan satu tahun gencatan senjata pada Oktober mendatang. Ketiga, pergerakan pasar minyak dan reaksi negara-negara importir energi besar termasuk China, India, Jepang, dan Korea Selatan.

Bagi warga Gaza, yang menjadi pusat sekaligus korban dari seluruh konstelasi politik regional ini, hari-hari ke depan akan tetap dijalani dalam ketidakpastian yang sama: tenda yang belum berganti rumah, antrean bantuan yang belum tentu sampai, dan suara mesin pesawat tempur yang masih sesekali melintasi langit di atas reruntuhan.

Di Bureij malam tadi, satu nyawa lagi melayang. Di Marseille kemarin, dunia jurnalisme membungkuk hormat kepada para pewarta Gaza. Di Teheran hari ini, ancaman dilemparkan ke pasar global. Tiga peristiwa yang terjadi dalam rentang 48 jam, tiga lapisan dari satu krisis yang sama—krisis yang, tujuh bulan setelah gencatan senjata, tetap belum menemukan akhirnya. (IW)

ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler