HomeAnalisis dan OpiniAnalisaAnalisis – Rumah Sakit yang Dibangun dengan Zakat dan Diratakan dengan Rudal:...

Analisis – Rumah Sakit yang Dibangun dengan Zakat dan Diratakan dengan Rudal: Anatomi Solidaritas Indonesia untuk Palestina di Era Genosida

Pada Senin malam tanggal 20 November 2023, sebuah serangan udara rezim Zionis menghantam bangsal operasi khusus wanita di Rumah Sakit Indonesia di Beit Lahiya, Jalur Gaza utara. Bangsal itu sedang aktif — dokter sedang melakukan operasi. Beberapa dokter terluka. Setidaknya dua belas orang menjadi syuhada di sekitar kompleks rumah sakit malam itu. Tank Merkava telah mengepung gedung sejak pagi. Selama satu setengah tahun berikutnya, bangunan empat lantai seluas 16.261 meter persegi yang berdiri di atas tanah wakaf dari mendiang Ismail Haniyeh itu akan dibom, dijadikan markas IDF, dibakar lantai atasnya, dikepung berulang-ulang, dan akhirnya — pada Juli 2025 — direktur rumah sakit dr. Marwan al-Sultan menjadi syuhada bersama keluarganya di apartemen pengungsiannya.

Yang membedakan Rumah Sakit Indonesia dari ratusan bangunan lain yang dihancurkan rezim Zionis di Gaza adalah satu kalimat yang diucapkan Ketua Presidium MER-C dr. Henry Hidayatullah pada upacara peresmian rumah sakit itu di tahun 2016: “Semuanya dari rakyat Indonesia dan tak ada satupun dana asing.” Setiap balok beton di bangsal yang dibom malam itu pernah dibeli dengan zakat dan infaq orang Indonesia. Setiap meja operasi, setiap mesin USG, setiap selang oksigen, setiap pintu bangsal, dibayar dengan rupiah yang dikumpulkan dari masjid-masjid di Jakarta, dari kotak amal di Surabaya, dari sumbangan anak-anak TK yang menyerahkan celengan mereka.

Tujuh ratus tiga puluh enam hari setelah 7 Oktober 2023, Rumah Sakit Indonesia di Beit Lahiya telah berubah dari simbol harapan rakyat Gaza menjadi monumen bisu solidaritas Indonesia yang dihancurkan secara sistematis. Tetapi ia juga bukti yang tak terbantahkan. Bukti bahwa ketika dunia masih berdebat tentang bagaimana mendefinisikan apa yang sedang terjadi di Gaza, rakyat Indonesia sudah sejak lama mendefinisikannya: ini penjajahan, dan kami berdiri di sisi yang ditindas.

Tanah Wakaf Haniyeh, Tangan Rakyat Indonesia

Sejarah Rumah Sakit Indonesia di Gaza dimulai pada 23 Januari 2009. Hari itu, Medical Emergency Rescue Committee — organisasi medis Indonesia yang lahir dari semangat relawan di era reformasi — menyampaikan rencana pembangunan rumah sakit kepada Menteri Kesehatan Palestina saat itu, Bassim Naim. Dananya akan dikumpulkan sepenuhnya dari rakyat Indonesia. Tanahnya akan diwakafkan oleh keluarga Palestina sendiri.

Tujuh tahun kemudian, pada 9 Januari 2016, Wakil Presiden Jusuf Kalla meresmikan Rumah Sakit Indonesia di Beit Lahiya. Bangunan empat lantai dengan kapasitas 100 tempat tidur itu berdiri di atas tanah wakaf seluas 16.261 meter persegi dari Ismail Haniyeh — yang pada Juli 2024 akan menjadi syuhada sendiri di sebuah hotel di Tehran. Sebelum Oktober 2023, Rumah Sakit Indonesia tercatat sebagai rumah sakit terbaik di Gaza dari segi fasilitas medis dan terbesar kedua di seluruh Jalur Gaza. Ia merawat ribuan pasien dari Beit Lahiya, Jabalia, Beit Hanoun, dan Tal Azzatar setiap tahunnya, tanpa biaya.

“Semuanya dari rakyat Indonesia dan tak ada satupun dana asing.”

Ketika rezim Zionis melancarkan genosida di Gaza pada Oktober 2023, Rumah Sakit Indonesia menjadi salah satu fasilitas medis pertama yang mengalami gangguan. Pada 7 Oktober, hanya beberapa jam setelah serangan pecah, dua pria — termasuk seorang anggota staf rumah sakit — menjadi syuhada akibat serangan udara di luar bangunan. Pada 24 Oktober, generator listrik rumah sakit dibom, memutus pasokan oksigen pada saat puluhan pasien dalam kondisi kritis. Pada 9 November 2023, sekitar dua puluh serangan udara dilancarkan di area sekitar rumah sakit yang saat itu juga menampung puluhan ribu pengungsi sipil. Pada 20 November 2023, bangsal operasi khusus wanita dihantam. Pada akhir November, rezim Zionis menduduki rumah sakit dan menjadikannya markas operasi IDF di Gaza utara.

Pesan Terakhir Dokter Marwan

Di antara puing-puing dan pengepungan selama dua tahun, satu nama berdiri tegak sebagai jiwa Rumah Sakit Indonesia: dr. Marwan al-Sultan, ahli jantung senior Palestina yang memimpin rumah sakit itu sejak 2016. Sebelum perang, ia adalah salah satu dari hanya dua kardiolog yang tersisa di Jalur Gaza. Ribuan pasien jantung di Gaza utara mengandalkan keahliannya. Dr. Mohammed Abu Selmia, direktur Rumah Sakit al-Shifa, kemudian menggambarkan koleganya itu dengan singkat: “Ia tidak tergantikan.”

Sepanjang dua tahun terakhir hidupnya, dr. Marwan menolak meninggalkan posnya. Ketika rezim Zionis mengepung Rumah Sakit Indonesia berulang-ulang, ia tetap merawat pasien dengan peralatan minimum. Ketika listrik dipadamkan dengan pengeboman generator, ia melakukan diagnosa dengan stetoskop dan lentera. Ketika koleganya menyarankan evakuasi, ia menolak. Beberapa minggu sebelum kematiannya, ia berbicara kepada The Guardian tentang situasi kritis Rumah Sakit Indonesia akibat tingginya korban luka dari serangan yang semakin masif sejak Mei 2025.

Pada 19 Mei 2025, dr. Marwan mengirim pesan terakhir kepada MER-C Indonesia. Pesan itu ditulis dari sebuah pengungsian darurat, karena Rumah Sakit Indonesia sudah lumpuh total dan dikosongkan paksa oleh rezim Zionis. Isinya pendek. Sangat pendek. Tetapi setiap kata di dalamnya adalah testamen seorang dokter yang tahu hidupnya sedang dihitung mundur.

“Kami butuh Indonesia dan rakyatnya mendesak Israel agar melakukan ceasefire. Kami di sini berdiri bersama pasien-pasien kami. Mohon doanya.”

Empat puluh empat hari setelah pesan itu dikirim, pada Rabu 2 Juli 2025, rumah pengungsian dr. Marwan di kawasan Tal al-Hawa, sebelah barat daya Kota Gaza, menjadi sasaran serangan udara langsung. Misil F-16 rezim Zionis menghantam kamar tidur. Sembilan warga Palestina menjadi syuhada — termasuk dr. Marwan, istrinya, dan anak-anaknya. Putrinya bernama Lubna. Healthcare Workers Watch mencatat dr. Marwan adalah petugas medis ke-70 yang gugur di Gaza dalam lima puluh hari terakhir saja. Total petugas medis Palestina yang menjadi syuhada sejak Oktober 2023 melampaui 1.580 orang.

Pesan terakhir dr. Marwan kepada rakyat Indonesia bukan permintaan obat. Bukan permintaan donasi tambahan. Bukan permintaan ambulans baru. Permintaan itu hanya satu: mohon doanya, dan mohon desakan kepada Israel untuk ceasefire. Seorang dokter Palestina di kamarnya yang akan dihantam misil F-16 enam minggu kemudian, meminta rakyat di sebuah negara berjarak delapan ribu kilometer untuk berbicara atas namanya. Inilah jantung dari hubungan Indonesia-Palestina yang sebenarnya: bukan transaksi diplomatik, tetapi solidaritas pada momen paling rapuh.

Reza, Fikri, dan Farid: Yang Memilih Tinggal

Pada hari ketika rudal pertama jatuh di Gaza, ada tiga relawan Indonesia di dalam Rumah Sakit Indonesia yang menolak pulang. Mereka adalah Reza Aldilla Kurniawan, Fikri Rofiul Haq, dan Farid Zanzabil Al Ayubi. Reza telah berada di Gaza sejak 15 Februari 2013 — sepuluh tahun delapan bulan sebelum genosida pecah. Fikri sejak 16 Februari 2020. Mereka bukan dokter spesialis bedah saraf yang terbang masuk dengan paspor diplomatik. Mereka relawan biasa yang bertugas menyalurkan donasi rakyat Indonesia, memelihara fasilitas, dan menjaga komunikasi rumah sakit dengan tanah air.

Ketika serangan pecah, mereka memilih bertahan. Ketika bangsal operasi dibom, mereka memilih bertahan. Ketika rezim Zionis memerintahkan evakuasi paksa pada 22 November 2023, mereka terpaksa pindah ke Gaza selatan — tetapi tidak pulang ke Indonesia. Selama lebih dari empat ratus hari, ketiganya berpindah dari satu lokasi pengungsian ke lokasi lain di Gaza, mendokumentasikan kondisi rakyat Palestina untuk pembaca di tanah air, dan menyalurkan bantuan kemanusiaan dari MER-C bersama mitra lokal. Pada 29 Oktober 2024, Fikri dan Reza akhirnya keluar dari Gaza. Mereka tiba di Bandara Soekarno-Hatta pada 12 November 2024. Empat ratus hari di bawah pengeboman. Dua jiwa Indonesia yang akhirnya bisa memeluk kembali keluarga mereka.

Lautan Putih di Monas, Rak Kosong di McDonald’s, dan Stadion yang Batal

Pada 5 November 2023, sebulan setelah genosida pecah dan dua minggu sebelum bangsal operasi RS Indonesia dibom, sebuah pemandangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Jakarta terbentang di Monumen Nasional. Sekitar dua juta orang — berpakaian putih, membawa bendera Palestina dan Indonesia, melantunkan shalawat — memadati Silang Monas hingga Bundaran HI. Penggagas utamanya adalah Din Syamsuddin, tokoh Muhammadiyah senior. Yang datang ke Monas hari itu adalah seluruh spektrum bangsa: NU, Muhammadiyah, Persis, MUI bersama dalam barisan yang sama. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Muhadjir Effendy, Menteri Yaqut Cholil Qoumas, Ketua DPR Puan Maharani, dan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla semua hadir. Anies Baswedan, yang saat itu calon presiden, datang. Tidak ada agenda elektoral. Yang ada hanya satu kata: Palestina.

Sehari sebelumnya, sepuluh ribu santri di Pondok Pesantren Minggir di Sleman memanjatkan doa Qunut Nazilah untuk Palestina dipimpin Mahfud MD dan KH. Ahmad Muwafiq. Hari yang sama, Presiden Joko Widodo melepas 51,5 ton bantuan kemanusiaan dari Bandara Halim Perdanakusuma menuju Mesir.

Tetapi solidaritas Indonesia tidak berhenti di lapangan dan podium. Ia berlanjut di rak supermarket. Sejak awal November 2023, gerakan boikot terhadap produk-produk yang diidentifikasi mendukung rezim Zionis — McDonald’s, Starbucks, KFC, dan sejumlah merek global lainnya — menyapu Indonesia dengan kecepatan yang mengejutkan eksekutif korporat di kantor pusat masing-masing. Penjualan McDonald’s Indonesia anjlok puluhan persen pada kuartal akhir 2023. Starbucks Indonesia mengumumkan kerugian operasional yang signifikan. Outlet-outlet di pusat perbelanjaan Jakarta yang biasanya antre, mendadak kosong. Pesannya jelas: ketika rakyat Indonesia tidak bisa menghentikan rudal di Gaza, mereka bisa menghentikan rupiah yang mengalir ke perusahaan-perusahaan yang berdiri di sisi yang salah dalam sejarah.

Tetapi peristiwa paling berani — dan paling sedikit didiskusikan secara internasional — sebenarnya terjadi delapan bulan sebelum 7 Oktober 2023. Pada Maret 2023, Indonesia membatalkan tuan rumah Piala Dunia U-20 FIFA karena menolak kedatangan tim nasional rezim Zionis. Keputusan ini menelan kerugian olahraga, finansial, dan reputasi yang sangat besar. FIFA mencabut hak tuan rumah. Tim nasional U-20 Indonesia kehilangan kesempatan tampil di turnamen dunia. Tetapi pemerintah Indonesia, dari Jokowi hingga Gubernur Bali Wayan Koster yang terang-terangan menolak, memilih konsistensi historis daripada kompromi olahraga. Pesan kepada dunia adalah: kami sudah menolak Israel sejak 1947, dan kami akan terus menolak meskipun harus kehilangan stadion.

Donasi mengikuti gerakan. Dalam sepuluh hari sejak BAZNAS membuka penggalangan pada Oktober 2023, target awal Rp10 miliar terlampaui menjadi Rp30 miliar. Pada November 2024, total donasi BAZNAS untuk Palestina mencapai Rp318,9 miliar. Dompet Dhuafa menyalurkan Rp40,6 miliar antara 2023-2025. MUI mengumpulkan Rp27 miliar dari Aksi Monas saja. BAZNAS, Kementerian Luar Negeri, MUI, dan dua puluh lima lembaga swadaya kemudian mencanangkan target gabungan Rp3,2 triliun untuk Palestina.

Retno yang Meninggalkan Brasilia

Pada Jumat tanggal 23 Februari 2024, di gedung Mahkamah Internasional di Den Haag, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi berdiri di hadapan para hakim ICJ. Yang menjadikan momen itu istimewa bukan hanya isi pidatonya. Yang menjadikannya istimewa adalah bahwa Retno baru saja meninggalkan pertemuan G20 di Brasil untuk hadir ke Den Haag — perjalanan transatlantik panjang ditempuh khusus untuk berdiri di hadapan dunia dan menyebut nama Palestina.

Indonesia adalah satu dari 53 negara yang berbicara di sesi 19-26 Februari 2024 itu. Dalam pidato lisannya, Retno menegaskan tiga hal yang akan terus didengung-dengungkan diplomasi Indonesia: aneksasi wilayah Palestina ilegal menurut hukum internasional, permukiman Yahudi di Tepi Barat ilegal, dan upaya rezim Zionis mengubah status Yerusalem ilegal. Lebih jauh, ia menuduh rezim Zionis menjalankan kebijakan apartheid terhadap rakyat Palestina, dan menyerukan masyarakat internasional menghentikan dukungan kepada Tel Aviv.

“Pendudukan rezim Zionis atas Palestina yang telah berlangsung lebih dari tujuh puluh tahun tidak akan menghapus hak rakyat Palestina untuk merdeka.”

Pada Juli 2024, ICJ mengeluarkan advisory opinion-nya: pendudukan rezim Zionis atas wilayah Palestina adalah ilegal menurut hukum internasional. Putusan itu adalah validasi formal pertama dari lembaga yudisial internasional tertinggi terhadap argumen yang telah dibawa Indonesia sejak Soekarno menolak pengakuan rezim Zionis pada 1947. Lebih dari tujuh dekade kemudian, di Den Haag pada Februari 2024, suara Indonesia adalah salah satu dari yang paling tegas dan paling konsisten.

Dari Marmaris ke Soekarno-Hatta

Pada Mei 2026, dua tahun tiga bulan setelah Retno di Den Haag, solidaritas Indonesia mengambil bentuk yang paling konkret dan paling personal: tubuh manusia.

Sembilan Warga Negara Indonesia — termasuk empat jurnalis (Bambang Noroyono dan Thoudy Badai dari Republika, Andre Prasetyo Nugroho dari Tempo, dan Rahendro Herubowo dari iNews) serta lima aktivis kemanusiaan (Andi Angga Prasadewa, Herman Budianto Sudarsono, Ronggo Wirasanu, Asad Aras Muhammad, dan Hendro Prasetyo) — berlayar dari Marmaris di pesisir Turki sebagai bagian dari armada Global Sumud Flotilla 2.0. Tujuan armada itu sederhana: menembus blokade rezim Zionis di laut Mediterania dan mengantarkan bantuan kemanusiaan langsung ke pelabuhan Gaza.

Pada 18 Mei 2026, angkatan laut rezim Zionis mencegat armada itu di perairan internasional Siprus, jauh di luar batas wilayah yang diakui hukum laut internasional. Sembilan WNI ditahan dan dibawa ke Pelabuhan Ashdod. Kementerian Luar Negeri Indonesia di bawah Menlu Sugiono segera mengaktifkan lima perwakilan RI di kawasan strategis: KBRI Ankara, KJRI Istanbul, KBRI Amman, KBRI Kairo, dan KBRI Tel Aviv. Persatuan Wartawan Indonesia, Dewan Pers, dan ormas-ormas kemasyarakatan ikut menuntut pembebasan. Pada 21 Mei 2026, kesembilan WNI dibebaskan.

Pada Minggu 24 Mei 2026, pukul 15.52 WIB, pesawat Emirates yang membawa sembilan WNI dari Istanbul via Dubai mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Menteri Luar Negeri Sugiono menyambut langsung di terminal kedatangan, bersama Duta Besar Palestina untuk Indonesia Abdalfatah A.K. Alsattari, Dirjen Imigrasi, dan keluarga para WNI. Di lounge haji Terminal 3, di hadapan pers yang menanti, Sugiono mengucapkan kalimat yang sederhana tetapi berbobot: “Selamat datang kembali, selamat berkumpul dengan keluarga.” Ia kemudian menyampaikan bahwa beberapa relawan mengalami trauma fisik yang akan ditangani lebih lanjut. Ucapan terima kasih khusus disampaikan ke Turki, Mesir, dan Yordania.

Yang patut dicatat dari peristiwa flotilla ini bukan hanya keberanian sembilan WNI yang berlayar menuju Gaza dengan kesadaran penuh atas risikonya. Yang patut dicatat adalah bahwa, untuk pertama kalinya dalam dua tahun konflik ini, **tubuh-tubuh Indonesia** menjadi bagian dari medan perang diplomatik. Tank Merkava bisa mengusir dokter Indonesia dari Rumah Sakit Indonesia di Beit Lahiya. Misil F-16 bisa membunuh direktur rumah sakit yang dibangun dengan zakat orang Indonesia. Tetapi blokade laut rezim Zionis kini bertabrakan langsung dengan paspor hijau Republik Indonesia — dan dunia memperhatikan.

Yang Tersisa untuk Kita Lakukan

Tujuh ratus tiga puluh enam hari telah berlalu sejak 7 Oktober 2023. Rumah Sakit Indonesia di Beit Lahiya telah dikosongkan paksa. Dr. Marwan al-Sultan telah menjadi syuhada bersama keluarganya. Sembilan WNI flotilla telah tiba dengan selamat di Soekarno-Hatta. Tetapi genosida belum berakhir. Apa yang tersisa untuk kita lakukan?

Pertama, lanjutkan donasi melalui lembaga resmi. BAZNAS, Dompet Dhuafa, MER-C, Rumah Zakat, ACT, Adara Foundation, Kasih Palestina memiliki jaringan teruji yang berhasil menyalurkan bantuan ke Gaza meskipun di tengah blokade. Setiap rupiah yang masuk ke rekening mereka akan diterjemahkan menjadi obat, tenda, paket pangan, atau biaya pembangunan kembali. Jangan biarkan momentum solidaritas 2023 padam di tahun-tahun setelahnya.

Kedua, lanjutkan dan perkuat boikot ekonomi. Boikot terhadap McDonald’s, Starbucks, dan produk-produk lain yang berdiri di sisi rezim Zionis telah terbukti berdampak nyata pada angka penjualan dan tekanan korporat global. Setiap kali kita memilih warung kopi lokal daripada Starbucks, setiap kali kita memilih burger lokal daripada McDonald’s, kita mengirim sinyal yang tidak bisa diabaikan oleh dewan direksi internasional: konsumen Muslim terbesar di dunia tidak akan diam.

Ketiga, siapkan diri untuk fase rekonstruksi. Suatu hari, perang ini akan berakhir. Rumah Sakit Indonesia di Beit Lahiya akan dibangun kembali — dan ia harus dibangun kembali oleh tangan yang sama yang pernah membangunnya. Lembaga-lembaga seperti MER-C akan membutuhkan dukungan jangka panjang yang lebih besar daripada respons emergensi. Setiap orang Indonesia yang menyimpan slip donasi pertamanya pada Oktober 2023 harus juga menyimpan komitmen untuk donasi rekonstruksi nanti. Solidaritas yang sejati tidak berakhir ketika perang berakhir; ia justru baru benar-benar dimulai.

Pada 19 Mei 2025, dr. Marwan al-Sultan mengirim pesan terakhirnya kepada MER-C Indonesia: “Kami butuh Indonesia dan rakyatnya mendesak Israel agar melakukan ceasefire. Kami di sini berdiri bersama pasien-pasien kami. Mohon doanya.” Empat puluh empat hari kemudian, kamar tidurnya dihantam misil F-16. Pesan itu tidak pernah benar-benar terjawab oleh ceasefire yang ia minta. Ia terjawab oleh sesuatu yang lain: oleh dua juta orang yang memutihkan Monas, oleh Rp318 miliar yang mengalir lewat BAZNAS, oleh Retno yang meninggalkan G20 Brasil untuk Den Haag, oleh tiga relawan MER-C yang menolak pulang selama empat ratus hari, oleh sembilan WNI yang berlayar dengan bendera merah-putih di tiang Sumud, dan oleh stadion U-20 yang dibatalkan karena Indonesia memilih konsistensi sejarah daripada turnamen dunia.

Sejarah hubungan Indonesia-Palestina pada era 2023-2026 tidak ditulis di gedung-gedung pemerintahan saja. Ia ditulis di bangsal operasi yang dibom di Beit Lahiya pada November 2023. Di lautan putih Monas pada 5 November 2023. Di rak-rak supermarket yang kosong dari produk pro-Israel. Di mimbar ICJ Den Haag pada 23 Februari 2024. Di apartemen pengungsian di Tal al-Hawa tempat dr. Marwan menulis pesan terakhirnya. Di geladak kapal Sumud yang berlayar dari Marmaris pada Mei 2026. Di lounge haji Bandara Soekarno-Hatta tempat sembilan WNI memeluk keluarga mereka kembali. Ia ditulis oleh dua ratus tujuh puluh juta orang yang — lewat zakat, doa, demonstrasi, donasi, jurnalisme, boikot, dan keberanian fisik — menolak bersikap netral di hadapan kekejaman.

Yang paling penting dari semua kalkulasi geopolitik di kawasan Timur Tengah pada akhirnya adalah satu fakta yang sederhana: bahwa di sebuah desa bernama Beit Lahiya, di tanah wakaf yang diberikan oleh keluarga Palestina, berdiri — atau pernah berdiri — sebuah bangunan yang setiap batu batanya pernah dibayar oleh rakyat di negara yang berjarak hampir delapan ribu kilometer jauhnya. Bangunan itu telah dihancurkan. Direkturnya telah menjadi syuhada. Tetapi prinsip yang melahirkannya tidak.

Pertanyaan yang harus kita ajukan, sebelum hari rekonstruksi tiba dan kita lupa apa yang pernah kita lakukan bersama, sederhana sekali: jika kita pernah membangunnya satu kali dengan zakat kita, dan jika dr. Marwan al-Sultan telah memberikan hidupnya menjaga apa yang kita bangun, apa yang akan menghalangi kita untuk membangunnya kembali — lebih besar, lebih kokoh, dan lebih siap untuk hari ketika Palestina akhirnya merdeka?

 

Tulisan ini diturunkan pada 31 Mei 2026. Data Rumah Sakit Indonesia di Beit Lahiya (tanah wakaf 16.261 m² dari Ismail Haniyeh, peresmian 2016, kronologi serangan IDF 2023-2025) dirujuk dari Tempo, Kompas, MER-C, dan VOA Indonesia. Profil dan pesan terakhir dr. Marwan al-Sultan dirujuk dari MER-C Indonesia, Liputan6, Republika, CNBC Indonesia, dan The Guardian. Aksi Bela Palestina di Monas (5 November 2023, ~2 juta peserta) dirujuk dari Jawa Pos, ANTARA, dan VOA Indonesia. Pidato Retno Marsudi di ICJ Den Haag (23 Februari 2024) dirujuk dari ANTARA, Tempo, dan Kompas.id. Data donasi dirujuk dari ANTARA, Suara, dan BAZNAS. Kepulangan sembilan WNI flotilla (24 Mei 2026) dirujuk dari Kompas, Detik, Berita Nasional, dan J5newsroom. Tulisan ini didedikasikan untuk dr. Marwan al-Sultan dan keluarganya yang menjadi syuhada di Tal al-Hawa pada 2 Juli 2025; untuk Ismail Haniyeh yang mewakafkan tanah RS Indonesia dan menjadi syuhada di Tehran pada Juli 2024; untuk tiga relawan MER-C yang memilih bertahan di Gaza; untuk dua juta orang yang memutihkan Monas pada 5 November 2023; dan untuk sembilan WNI flotilla yang telah tiba kembali dengan selamat di Bandara Soekarno-Hatta pada 24 Mei 2026 — mereka membawa pesan dr. Marwan sampai pada kita yang membacanya

ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler