MARSEILLE / GAZA CITY — Para jurnalis foto dan video Palestina yang meliput perang di Jalur Gaza hari ini menerima penghargaan paling bergengsi di dunia jurnalistik, Golden Pen of Freedom 2026, dalam upacara pembukaan World News Media Congress yang digelar di Marseille, Prancis. Penghargaan yang diberikan oleh World Association of News Publishers (WAN-IFRA) ini menjadi pengakuan atas pengorbanan dan ketahanan para pewarta lokal yang terus bekerja di tengah salah satu zona perang paling berbahaya bagi profesi jurnalistik dalam beberapa dekade terakhir.
Penghargaan tahunan tersebut secara khusus didedikasikan kepada jurnalis-jurnalis foto dan video Palestina yang tetap melaporkan dari Jalur Gaza sejak operasi militer Israel dimulai pada Oktober 2023. Mereka menjadi mata dunia ketika wilayah kantong Palestina tersebut ditutup bagi media internasional, dan menjadi satu-satunya sumber rekaman visual atas peristiwa yang kemudian membentuk pemahaman global terhadap konflik.
Pameran Foto dari AFP, AP, dan Reuters
Sebagai bagian dari rangkaian penghargaan, WAN-IFRA juga menggelar pameran eksklusif yang menampilkan karya-karya pemenang dari fotografer-fotografer Palestina. Pameran tersebut merupakan kolaborasi antara tiga kantor berita internasional terbesar—Agence France-Presse (AFP), The Associated Press (AP), dan Reuters—yang selama ini bekerja bahu-membahu dengan jurnalis lokal di Gaza untuk mendistribusikan rekaman visual ke seluruh dunia.
Foto-foto yang dipamerkan dipilih untuk menangkap narasi konflik secara utuh, khususnya tragedi kemanusiaan yang melatarbelakanginya: anak-anak yang berlindung di tenda pengungsian, keluarga yang mencari kerabat di antara reruntuhan, antrean panjang di titik distribusi bantuan, hingga momen-momen sederhana kehidupan sehari-hari yang bertahan di tengah kehancuran.
Pada Selasa (2/6) besok, Kongres juga akan memutar film dokumenter pemenang penghargaan berjudul Inside Gaza, yang mengikuti perjalanan tim jurnalis Palestina AFP dalam meliput pascaserangan 7 Oktober 2023, ketika wilayah Gaza praktis tertutup bagi media internasional. Pemutaran film tersebut akan dilanjutkan dengan diskusi tentang pelajaran-pelajaran yang bisa diambil oleh ruang redaksi di seluruh dunia.
Harga yang Mahal: Lebih dari 240 Jurnalis Tewas
Penghargaan ini datang di tengah catatan suram tentang nasib jurnalis di Gaza. Sejak Oktober 2023 hingga awal Juni 2026, lebih dari 240 jurnalis Palestina dilaporkan telah tewas dalam konflik tersebut—angka yang menjadikannya periode paling mematikan bagi profesi jurnalistik dalam sejarah modern, melebihi total jurnalis yang tewas dalam Perang Dunia II di seluruh medan tempur Eropa.
Banyak di antara mereka tewas dalam serangan udara saat sedang meliput, beberapa lainnya tewas bersama anggota keluarga di rumah-rumah mereka, dan ada yang tewas dalam serangan terhadap kerumunan distribusi bantuan. Salah satu nama yang terus dikenang adalah Yahya Sobeih, jurnalis Gaza City yang tewas dalam serangan udara Israel pada Mei 2025 saat meliput di kawasan Al-Rimal.
Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) dan Reporters Without Borders telah berulang kali mendesak investigasi independen atas serangan-serangan yang menargetkan—atau setidaknya tidak melindungi—pekerja media di Gaza. Namun hingga kini, akuntabilitas tetap menjadi pertanyaan terbuka.
Jurnalis Perempuan Menjadi Tulang Punggung Pelaporan
Salah satu inisiatif penting yang turut diangkat dalam kongres tahun ini adalah program SIRI Gaza, yang dilaksanakan bersama Palestinian Journalists Syndicate (PJS) dan didukung International Federation of Journalists (IFJ). Program tersebut secara khusus menyasar jurnalis perempuan lepas (freelance) di Gaza, yang dalam dua tahun terakhir disebut telah menjadi tulang punggung pelaporan dari wilayah tersebut.
Banyak jurnalis laki-laki yang gugur atau tidak lagi mampu bekerja, sementara para jurnalis perempuan—sering kali sekaligus berperan sebagai ibu, perawat keluarga, dan koordinator komunitas—mengambil alih tanggung jawab dokumentasi situasi di lapangan. Mereka melapor dari kamp pengungsian, rumah sakit, dapur umum, hingga tenda darurat, dengan peralatan minim dan keterbatasan koneksi internet yang sering kali harus diakses melalui kartu SIM tertanam (eSIM) karena infrastruktur lokal hancur.
SIRI Gaza memberikan hibah peliputan, mentoring editorial intensif, serta pelatihan dalam jurnalistik sensitif gender—bekal yang dianggap krusial untuk memastikan kualitas pelaporan tetap terjaga di tengah kondisi yang nyaris tidak mungkin.
Konteks: Eskalasi Serangan dan Pengumuman Netanyahu
Penghargaan Golden Pen of Freedom 2026 datang di tengah eskalasi terbaru yang justru semakin mempertaruhkan keselamatan jurnalis di Gaza. Pada Kamis (29/5) pekan lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan bahwa ia telah memerintahkan militer untuk mengambil alih kendali atas 70 persen wilayah Jalur Gaza—sebuah pengumuman yang langsung memicu kekhawatiran komunitas internasional terkait nasib lebih dari dua juta warga sipil, termasuk para jurnalis yang masih bertahan di lapangan.
Sejak gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, sedikitnya 880 warga Palestina telah tewas akibat serangan-serangan Israel yang berlanjut. Total korban tewas sejak Oktober 2023 kini mencapai 72.797 jiwa berdasarkan data Kementerian Kesehatan Gaza, dengan jurnalis-jurnalis yang meliput peristiwa-peristiwa tersebut menghadapi risiko langsung setiap hari.
Solidaritas Indonesia
Bagi pembaca di Indonesia, penghargaan ini memiliki resonansi tersendiri. Pekan-pekan terakhir telah dipenuhi pemberitaan tentang lima Warga Negara Indonesia—empat di antaranya jurnalis—yang ditahan Israel saat ikut serta dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla. Insiden tersebut menjadi pengingat bahwa upaya jurnalisme untuk meliput Gaza, baik dari dalam maupun melalui pendekatan ke wilayah tersebut, terus menghadapi risiko penahanan, pembatasan, dan kekerasan.
Dewan Pers Indonesia, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), serta sejumlah organisasi media nasional telah menyatakan dukungan terhadap pengakuan internasional bagi jurnalis-jurnalis Palestina, sekaligus mendesak pembebasan rekan-rekan Indonesia yang masih berada dalam tahanan Israel.
Pengingat untuk Dunia
Penghargaan Golden Pen of Freedom 2026 di Marseille hari ini bukan sekadar seremoni industri media. Ia adalah pengingat keras kepada dunia bahwa setiap foto yang dilihat publik dari Gaza, setiap video yang dibagikan di media sosial, setiap rekaman wajah keluarga yang berduka—semua itu lahir dari kerja keras, keberanian, dan sering kali pengorbanan tertinggi para jurnalis yang menolak untuk berhenti melihat.
Di tengah pengumuman Netanyahu untuk memperluas kendali militer hingga 70 persen Gaza, di tengah krisis kemanusiaan yang memburuk, di tengah kelaparan yang mengancam ratusan ribu keluarga, para jurnalis Palestina terus bekerja. Mereka menyalakan layar ponsel di tengah pemadaman listrik. Mereka mengetik laporan dari tenda pengungsian. Mereka memotret, merekam, mengirim—agar dunia tidak diberi kesempatan untuk berpura-pura tidak tahu.
Dan hari ini, di Marseille, dunia akhirnya membungkuk untuk mengakui mereka. (IW)


