Ketua Komite Dokumentasi dan Pemantauan di Badan Pertahanan Sipil di Jalur Gaza, Dr. Muhammad Al-Mughair, menuduh pendudukan Israel melakukan kejahatan sistematis.
Aksi itu bertujuan untuk menghancurkan sistem darurat, penyelamatan, dan pertahanan sipil—yang merupakan benteng terakhir bagi pekerjaan kemanusiaan dan intervensi di wilayah tersebut.
Dalam wawancara khusus dengan Al Jazeera, Al-Mughair menyatakan bahwa Israel melakukan eksekusi lapangan terhadap tim tanggap darurat dari layanan ambulans dan pertahanan sipil. Hal itu merupakan simbol kehidupan dan penyelamatan bagi mereka yang membutuhkan.
Tujuan dari tindakan ini, menurutnya, adalah untuk meningkatkan jumlah korban dalam perang yang masih berkecamuk. Hal ini telah mempengaruhi sekitar 2,4 juta warga Palestina di Gaza sejak pecahnya konflik setelah operasi “Banjir Al-Aqsa” pada 7 Oktober 2023.
Al-Mughair menegaskan bahwa pembunuhan 15 personel dari layanan ambulans, anggota pertahanan sipil, dan Palang Merah Palestina—termasuk seorang pegawai lokal yang bekerja untuk PBB—adalah bagian dari rencana Israel untuk membuat Gaza tidak memiliki layanan kemanusiaan sama sekali dan menghapus semua peluang kehidupan di sana.
Eksekusi lapangan
Sekitar seminggu setelah mereka dieksekusi di lapangan, dan setelah proses koordinasi yang rumit yang dimediasi oleh sebuah lembaga internasional dengan pihak pendudukan, tim lokal berhasil mengevakuasi korban.
Sebanyak 9 petugas ambulans dari Palang Merah Palestina, 5 anggota pertahanan sipil, serta seorang pegawai lokal dari Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA).
Mereka semua telah dieksekusi oleh pasukan Israel di lingkungan Tel Al-Sultan, sebelah barat kota Rafah.
Setelah jenazah mereka diperiksa di Kompleks Medis Nasser di Khan Younis, Kementerian Kesehatan Gaza mengumumkan bahwa beberapa jenazah para petugas medis ditemukan dalam keadaan terikat dengan luka tembak di dada.
“Serta dikubur di lubang yang dalam untuk menyulitkan identifikasi mereka,” sebutnya.
Al-Mughair, yang berhasil selamat dari serangan langsung Israel selama perang, menegaskan bahwa ini bukan pertama kalinya tim pertahanan sipil menjadi sasaran saat mereka menjalankan tugas mereka, merespons seruan darurat dari para korban perang.
Ia mencatat bahwa sejauh ini, 112 anggota pertahanan sipil telah gugur dan ratusan lainnya terluka, sementara 10 anggota masih ditahan oleh pasukan pendudukan.
“Tim kami bekerja dalam kondisi yang sangat berbahaya di mana pasukan pendudukan menciptakan atmosfer teror dan benar-benar menerapkan kebijakan tersebut dengan membunuh tim-tim kemanusiaan, yang menurut semua hukum dan perjanjian internasional harus dilindungi setiap saat. Bahkan dalam situasi perang dan konflik bersenjata, simbol kemanusiaan pada seragam dan kendaraan mereka seharusnya dihormati,” tambahnya.
Namun, realitas di lapangan sangat berbeda. Sejak perang ini dimulai, pasukan pendudukan telah menghancurkan semua norma dan konvensi internasional.
Dalam situasi ini, layanan ambulans, darurat, dan pertahanan sipil telah memainkan peran utama dalam menyelamatkan nyawa. Meskipun mereka kekurangan sumber daya dan menghadapi berbagai tantangan besar.
Tugas yang rumit
Al-Mughair menyoroti tekanan luar biasa dan tanggung jawab besar yang ditanggung oleh badan pertahanan sipil. Ia mengungkapkan bahwa sejak dimulainya perang, badan ini telah menerima lebih dari setengah juta panggilan darurat dan menyelesaikan sekitar 380 ribu misi kemanusiaan.
Namun, banyak permintaan bantuan yang tidak dapat dipenuhi karena pasukan pendudukan melarang tim penyelamat mencapai lokasi yang diserang dengan ancaman dan kekuatan militer.
Ia juga menjelaskan bahwa apa yang telah dicapai oleh badan ini selama perang adalah misi yang hampir mustahil. Mengingat kurangnya tenaga kerja dan peralatan, bahkan sebelum perang dimulai.
Selama bertahun-tahun, Gaza telah mengalami blokade yang panjang, dan Israel terus mencegah masuknya peralatan dan kendaraan yang sangat dibutuhkan untuk menggantikan yang sudah tua dan rusak.
Sebagai kepala departemen “Perbekalan dan Peralatan” di badan pertahanan sipil, Al-Mughair menyatakan bahwa jumlah personel yang bertugas saat perang pecah hanya 792 orang di seluruh Gaza—angka yang jauh lebih rendah dari standar internasional jika dibandingkan dengan jumlah penduduk.
Namun, mereka tetap menjadi “prajurit pemberani” yang bekerja tanpa kenal lelah dalam kondisi yang sangat berbahaya dan sulit.
Akibat dedikasi mereka dalam menjalankan tugas kemanusiaan, banyak di antara mereka yang terbunuh, terluka, atau ditangkap.
Meski dalam kondisi kelelahan yang ekstrem akibat perang berkepanjangan, mereka tetap bekerja tanpa henti demi menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa.
Kerugian akibat serangan
Al-Mughair memperkirakan bahwa serangan Israel yang terus-menerus terhadap aset pertahanan sipil, melalui pemboman dan penghancuran, telah menyebabkan kerugian materi sekitar 30 juta dolar.
Akibatnya, badan ini telah kehilangan sekitar 75% dari sumber daya dan perlengkapannya.
Secara lebih rinci, ia menyebut bahwa pasukan pendudukan telah menghancurkan 15 dari 18 pusat pertahanan sipil. Pasukan juga menghancurkan 54 kendaraan dari total 79 kendaraan yang tersedia di seluruh Gaza.
Untuk memastikan layanan darurat tetap berjalan, Al-Mughair mengeluarkan seruan mendesak kepada komunitas internasional serta lembaga dan organisasi kemanusiaan untuk segera membangun pusat pertahanan sipil darurat.
Serupa dengan rumah sakit lapangan dan fasilitas darurat yang biasa didirikan di wilayah terdampak bencana alam.
Ia menegaskan bahwa dunia tidak boleh menunggu hingga seluruh sistem kemanusiaan di Gaza benar-benar runtuh.