Sebuah armada kemanusiaan internasional bertajuk Global Steadfastness Flotilla pada Minggu (31/8) bertolak dari Pelabuhan Barcelona, Spanyol, menuju Jalur Gaza.
Armada ini membawa bantuan kemanusiaan serta ratusan aktivis dari berbagai negara dalam upaya menembus blokade Israel yang sejak lama dinilai ilegal.
Armada tersebut merupakan gabungan dari beberapa organisasi, antara lain Koalisi Armada Kebebasan, Gerakan Global Gaza, Konvoi al-Sumud, dan organisasi Malaysia Nusantara Resilience.
Puluhan kapal disiapkan untuk misi ini. Menurut penyelenggara, partisipasi datang dari aktivis 44 negara, termasuk sejumlah anggota parlemen Eropa serta tokoh publik, seperti mantan Wali Kota Barcelona Ada Colau dan politisi kiri asal Portugal Mariana Mortágua.
Selain berangkat dari Spanyol, gelombang berikutnya dijadwalkan bergerak dari Tunisia dan sejumlah negara lain pada 4 September mendatang.
Aksi ini juga akan diiringi demonstrasi di berbagai kota dunia, ungkap aktivis iklim asal Swedia Greta Thunberg, yang turut duduk dalam komite pengarah Armada Keteguhan Global.
Para penyelenggara menyatakan, keberangkatan kapal dari Barcelona ditujukan untuk membuka koridor kemanusiaan ke Gaza serta menghentikan genosida yang masih berlangsung terhadap rakyat Palestina.
“Armada ini meneruskan estafet perjuangan sejak Mavi Marmara (2010) hingga upaya-upaya terbaru, termasuk kapal Conscience, Madeleine, dan Handhala yang semuanya dihalangi Israel,” demikian pernyataan komite.
Desakan ke pemerintah dunia
Peserta armada menyerukan agar pemerintah dunia memberi tekanan politik terhadap Israel agar membiarkan misi kemanusiaan mereka tiba di Gaza.
Menurut juru bicara armada, Seif Abu Khashk, inisiatif ini akan terus berjalan “tanpa kenal lelah” sampai blokade Gaza benar-benar dipatahkan.
“Kami muak dengan sikap pemerintah yang berdiam diri, seakan tidak terjadi apa-apa, sementara rakyat Palestina menghadapi pembantaian dan kelaparan,” ujar Abu Khashk.
Ia menegaskan, munculnya gerakan rakyat lintas negara ini merupakan respons langsung atas sikap pasif negara-negara terhadap genosida.
Abu Khashk juga menyadari adanya risiko besar di laut, termasuk kemungkinan serangan Israel.
“Namun, tidak ada bahaya yang lebih besar dari penderitaan yang dialami rakyat Gaza setiap hari,” imbuhnya.
Greta Thunberg menambahkan bahwa seharusnya tidak perlu ada misi seperti itu.
“Tugas menghentikan kejahatan perang dan genosida mestinya diemban pemerintah serta pejabat terpilih kita. Karena mereka gagal, rakyatlah yang harus mengambil inisiatif,” tambahnya.
Sejak 2 Maret lalu, Israel menutup seluruh jalur masuk ke Gaza, melarang bantuan kemanusiaan masuk meski ribuan truk menumpuk di perbatasan.
Beberapa pekan terakhir, Israel hanya mengizinkan jumlah yang sangat minim, jauh dari cukup untuk mengatasi kelaparan massal.
Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, sebagian besar truk bantuan bahkan dijarah oleh kelompok-kelompok bersenjata yang mendapat perlindungan Israel.
Kondisi itu membuat krisis pangan semakin parah, menjerumuskan lebih dari dua juta penduduk Gaza ke jurang kelaparan.