Pasukan pendudukan Israel menerobos masuk ke wilayah Suriah pada Rabu malam. Aksi itu bersamaan dengan serangan udara yang menargetkan beberapa lokasi.
Pasukan Israel memasuki wilayah Suriah melalui darat dengan puluhan kendaraan militer menuju kota Al-Bakkar di pedesaan barat Daraa.
Mereka memasuki sebuah barak militer bekas milik tentara Suriah yang dikenal sebagai Barak Al-Majahid. Bangunan-bangunan di dalamnya dihancurkan.
Pada saat yang sama, kendaraan lapis baja Israel juga merangsek ke kota Jaba di pedesaan tengah provinsi Quneitra dan mencapai kota Ain al-Bayda di bagian utara provinsi tersebut.
Di sana, mereka menebangi pepohonan di sekitarnya sebelum akhirnya mundur kembali ke Dataran Tinggi Golan yang diduduki.
Kemungkinan invasi darat masih diragukan
Sejak jatuhnya rezim Bashar al-Assad, pasukan Israel telah beberapa kali menerobos masuk ke wilayah selatan Suriah. Mereka mencapai titik-titik strategis seperti Gunung Hermon, hutan Jabatha al-Khashab, dan Telul al-Humur di provinsi Quneitra.
Mereka juga menguasai markas mortir di dekat kota Abdin di pedesaan barat Daraa dan membangun pos-pos militer yang masih bertahan hingga kini.
Pasukan pendudukan juga melakukan serangan singkat di beberapa wilayah strategis sebelum akhirnya mundur.
Wilayah tersebut seperti di daerah Cekungan Yarmouk di barat Daraa, di mana mereka sempat mencapai kota-kota Koya, Jumla, Maariya, dan Abdin.
Menanggapi hal ini, Ahmed Abazeed, seorang penulis dan analis politik, mengatakan kepada Al Jazeera Net bahwa penyerbuan ini bukanlah sesuatu yang baru.
Sebelumnya, pasukan pendudukan Israel telah sering melakukan operasi serupa di wilayah dekat perbatasan dengan Golan yang diduduki, lalu mundur setelah beberapa jam.
Namun, beberapa titik tetap ditempati melalui pos-pos militer yang masih ada hingga kini.
Abazeed menambahkan bahwa dia tidak melihat adanya rencana serius dari Israel untuk melakukan invasi darat besar-besaran ke selatan Suriah. Hal ini dikarenakan mereka akan menghadapi konsentrasi pemukiman penduduk yang padat.
Sejauh ini, operasi militer Israel lebih sering terjadi di desa-desa dengan jumlah penduduk yang sangat sedikit. Menurutnya, jika Israel mencoba memasuki wilayah pedesaan Daraa yang lebih padat penduduk, mereka akan menghadapi kendala besar.
Oleh karena itu, tidak ada indikasi kuat adanya rencana untuk maju lebih jauh ke wilayah tersebut.
Dampak negatif
Menurut Abazeed, ada ancaman Israel untuk menyerang lokasi-lokasi militer milik pemerintah Suriah, sesuai dengan pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Serangan udara yang terjadi 2 hari lalu merupakan pesan bahwa ancaman tersebut serius, tetapi bukan berarti akan terjadi invasi besar-besaran ke selatan Suriah.
Serangan ini juga bertepatan dengan kunjungan Presiden Suriah Ahmed Al-Sharaa ke Amman, yang diduga sebagai bentuk tekanan terhadap kedua belah pihak.
“Yordania juga menghadapi tekanan dari Amerika Serikat untuk menerima pengungsi dari Gaza,” kata Abazeed.
Israel diduga mencoba mendapatkan jaminan dari negara-negara regional yang memiliki hubungan baik dengannya.
Penyerbuan ini juga berdampak negatif bagi masyarakat setempat. Salah satunya adalah penguasaan atas lahan pertanian di daerah Cekungan Yarmouk di barat Daraa.
Pasukan pendudukan Israel telah melarang para petani mengakses ladang mereka di lembah dekat kota Abdin dan Koya di pedesaan barat Daraa, yang menjadi sumber mata pencaharian utama mereka.
Akibatnya, banyak penduduk di wilayah tersebut mulai mempertimbangkan untuk meninggalkan daerah mereka.
Mereka pindah ke kota Daraa atau pinggiran Damaskus, khawatir akan perkembangan situasi yang tidak terduga.
Kekhawatiran Israel
Menurut aktivis media dan politik dari Daraa, Muawiya Al-Zoubi, serangan Israel ke wilayah Suriah bukanlah hal baru.
Dalam beberapa tahun terakhir, wilayah pesisir Suriah juga pernah mengalami serangan udara dan operasi infiltrasi pasukan Israel sebelum jatuhnya rezim Assad.
Al-Zoubi berpendapat bahwa perubahan politik di Suriah telah menimbulkan kekhawatiran di pihak Israel. Mereka mencoba memanfaatkan situasi yang sedang berkembang.
“Saat ini, Suriah perlu mengambil sikap yang jelas dan memilih sekutu mereka dengan baik, terutama di antara negara-negara Arab,” ujarnya.
Menurutnya, Suriah sedang berada dalam tahap pembentukan kembali dan membutuhkan dukungan eksternal serta internal untuk menghadapi segala bentuk intervensi.
Ia juga menekankan pentingnya membentuk pemerintahan yang kompeten dan memiliki kesadaran politik yang tinggi.
Menurutnya, penting juga untuk menjalin komunikasi dengan negara-negara Arab untuk menghentikan agresi Israel di wilayah Suriah.
Al-Zoubi meyakini bahwa Suriah akan segera kembali ke perannya sebagai pemain utama di kawasan Timur Tengah.
Ia juga memperingatkan bahwa upaya untuk membagi Suriah akan berdampak buruk pada negara-negara lain dan bahkan dapat menyebabkan kehancuran mereka.
Pada Senin lalu, wilayah selatan Suriah menyaksikan demonstrasi besar sebagai bentuk pernyataan bahwa rakyat Suriah bersatu dan mendukung kepemimpinan baru mereka.
Para demonstran menolak segala bentuk intervensi asing dalam urusan internal negara mereka.
Mereka mengangkat spanduk yang mengecam pernyataan Netanyahu, yang menyerukan pelucutan senjata di kawasan tersebut dan menolak keberadaan tentara Suriah yang baru.
Mereka menegaskan bahwa rakyat Suriah memiliki kesadaran tinggi akan persatuan mereka dan tidak akan membiarkan siapa pun memecah belah mereka.
Di saat yang sama, mereka berharap akan lahirnya negara Suriah yang baru yang menghormati hak-hak mereka setelah bertahun-tahun mengalami penindasan di bawah pemerintahan keluarga Assad.