spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Wednesday, March 18, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeBeritaNegara Teluk desak AS jangan hentikan perang dengan Iran

Negara Teluk desak AS jangan hentikan perang dengan Iran

Sejumlah negara Teluk mendesak Amerika Serikat untuk tidak menghentikan serangan militernya terhadap Iran sebelum ancaman terhadap jalur minyak strategis benar-benar dinetralisir.

Mengutip laporan Reuters, tiga sumber dari kawasan Teluk menyatakan bahwa meski mereka tidak secara terbuka menyerukan perang lebih luas, tekanan agar operasi militer terus berlanjut semakin menguat di balik layar.

Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz—jalur vital yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Qatar: Kami Tidak Diajak, Tapi Harus Menanggung Dampaknya

Penasihat Perdana Menteri Qatar, Majed al-Ansari, menegaskan bahwa negara-negara Teluk tidak dilibatkan dalam keputusan perang, namun tetap harus menanggung konsekuensinya.

“Kami tidak pernah dikonsultasikan dalam perang ini, tapi kami harus hidup dengan hasilnya,” ujarnya dalam forum daring yang digelar Middle East Council on Global Affairs.

Namun, ia memperingatkan bahwa jika Washington menghentikan perang terlalu cepat, kawasan akan menghadapi Iran yang semakin agresif.

“Kita bisa menghadapi Iran yang melihat kami sebagai ancaman langsung dan mencari pembalasan.”

Dari Menolak Perang Jadi Dorong Eskalasi

Perubahan sikap negara Teluk terlihat jelas. Ketua Gulf Research Center, Abdulaziz Sager, menyebut bahwa awalnya negara-negara Teluk menolak perang. Namun serangan Iran telah mengubah segalanya.

“Awalnya kami menentang perang. Tapi setelah mereka menyerang kami, mereka menjadi musuh. Tidak ada cara lain untuk mendefinisikannya.”

Sejumlah laporan media internal Teluk seperti House of Saud bahkan menyebut posisi ini secara lebih terbuka: negara-negara Teluk kini mendorong agar Iran “dilemahkan secara permanen”, bukan sekadar ditekan sementara.

Serangan Iran Picu Ketakutan Eksistensial

Iran dilaporkan telah menyerang bandara, pelabuhan, fasilitas minyak, hingga pusat komersial di enam negara Teluk menggunakan rudal dan drone, serta mengganggu pelayaran di Selat Hormuz.

Serangan ini memperkuat kekhawatiran bahwa jika Iran masih memiliki kapasitas militer signifikan, negara itu dapat dengan mudah “menyandera” jalur energi global setiap kali konflik memanas.

Seorang sumber Teluk menyebut suasana di kalangan pemimpin kawasan kini sangat jelas: Presiden Donald Trump harus memastikan kemampuan militer Iran dihancurkan secara menyeluruh. Jika tidak, kawasan akan hidup di bawah ancaman konstan.

AS Tekan Negara Teluk Ikut Perang

Di sisi lain, Washington justru dilaporkan menekan negara-negara Teluk untuk ikut serta dalam operasi militer bersama AS dan Israel melawan Iran.

Langkah ini dinilai sebagai upaya Trump untuk menunjukkan dukungan regional demi memperkuat legitimasi perang, baik di tingkat internasional maupun domestik.

Namun hingga kini, negara-negara Teluk masih berhati-hati.

Uni Emirat Arab menegaskan tidak ingin terseret eskalasi, meski tetap membuka opsi “semua langkah yang diperlukan” untuk menjaga keamanan nasionalnya.

Dilema Teluk: Takut Perang, Tapi Lebih Takut Jika Berhenti

Meski tekanan untuk melanjutkan serangan meningkat, negara-negara Teluk tetap khawatir konflik bisa berkembang menjadi perang besar yang tak terkendali.

Enam anggota Gulf Cooperation Council bahkan baru menggelar satu pertemuan daring dan belum mencapai konsensus langkah bersama.

Namun bagi sebagian pemimpin kawasan, risiko terbesar justru bukan eskalasi—melainkan jika perang dihentikan terlalu cepat.

“Jika Amerika mundur sebelum tugas selesai, kami akan menghadapi Iran sendirian,” kata Sager.

Ancaman Balasan dan Garis Merah Saudi

Ketegangan juga membuka kemungkinan keterlibatan langsung Arab Saudi jika Iran melewati garis merah, seperti menyerang fasilitas minyak utama atau menimbulkan korban besar.

Meski demikian, Riyadh disebut akan berusaha menahan respons agar tidak memicu eskalasi lebih luas.

Surya Fachrizal
Surya Fachrizal
Pimred Gaza Media, co-founder Timteng Podcast
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler