Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan negaranya siap menjadi tuan rumah perundingan antara Amerika Serikat dan Iran guna mengakhiri konflik di Timur Tengah.
“Pakistan menyambut dan sepenuhnya mendukung upaya dialog untuk mengakhiri perang di Timur Tengah demi perdamaian dan stabilitas kawasan,” ujar Sharif melalui platform X, Selasa.
Ia menambahkan, dengan persetujuan kedua pihak, Pakistan “siap dan merasa terhormat” memfasilitasi perundingan yang “bermakna dan konklusif” menuju penyelesaian menyeluruh konflik.
Pernyataan ini muncul di tengah laporan bahwa Panglima Angkatan Darat Pakistan Asim Munir telah berbicara dengan Presiden AS Donald Trump mengenai perang Iran. Islamabad juga disebut mengajukan diri sebagai lokasi potensial pertemuan antara pejabat tinggi AS dan Iran.
Tak lama setelah pernyataan Sharif, Trump membagikan tangkapan layar pernyataan tersebut di platform Truth Social miliknya.
Sumber di Pakistan menyebut delegasi AS dijadwalkan tiba dalam satu-dua hari ke depan untuk membahas kemungkinan penghentian perang. Namun, menurut sumber yang sama, Teheran belum siap berunding karena masih diliputi ketidakpercayaan terhadap Washington.
Kementerian Luar Negeri Pakistan menegaskan komitmennya untuk mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. “Diplomasi dan negosiasi sering kali membutuhkan kehati-hatian,” kata juru bicara Tahir Andrabi, seraya meminta media menghindari spekulasi.
Sejak 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel terus melancarkan serangan udara ke Iran. Lebih dari 1.340 orang dilaporkan tewas, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.
Iran membalas dengan serangan drone dan rudal ke Israel, serta ke Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Serangan ini menimbulkan korban jiwa, merusak infrastruktur, dan mengguncang pasar global serta sektor penerbangan.
Pada Senin, Trump mengumumkan penghentian sementara selama lima hari terhadap serangan ke fasilitas listrik dan energi Iran, dengan alasan adanya pembicaraan yang “sangat baik dan produktif” dengan Teheran.
Namun, pejabat Iran membantah adanya perundingan langsung, menyebutnya sebagai “berita palsu”. Meski demikian, Kementerian Luar Negeri Iran mengakui telah menerima pesan dari “negara sahabat” yang mengindikasikan adanya permintaan dialog dari pihak AS.


