GAZA CITY — Pengiriman barang komersial ke Jalur Gaza terhenti sejak Selasa (13/10/2026), menurut otoritas Israel, setelah pedagang setempat disebut menangguhkan koordinasi masuknya barang. Badan militer Israel yang mengurusi urusan sipil di wilayah Palestina, COGAT, mengumumkan penghentian itu pada Rabu (14/10/2026). Serikat pengusaha truk di Gaza menolak penjelasan tersebut dan menyatakan pembatasan datang dari Israel.
Penghentian ini memotong sumber pangan dan barang penting bagi sekitar 2,1 juta penduduk Gaza, yang bergantung pada penyeberangan perbatasan di bawah kendali Israel, menurut Al Jazeera. Barang yang terhenti mencakup buah-buahan dan pakaian musim dingin, saat musim dingin mendekat.
Dua Versi tentang Penyebab
COGAT menyatakan pedagang membatalkan koordinasi karena pungutan sekitar 10.000 shekel (sekitar US$3.200) untuk setiap truk yang masuk, serta tuntutan agar 30 persen penjualan di Gaza dibayar tunai. Dalam surat kepada perwakilan internasional, COGAT juga menyebut aparat keamanan Hamas menahan anak seorang pedagang yang menolak membayar.
Wakil juru bicara COGAT, Letnan Daniel Kantorovich, mengatakan lembaganya bertindak atas keputusan para pedagang dan dapat membatalkannya bila pedagang meminta.
Hamas membantah tudingan itu dan menyebutnya tidak berdasar. Kantor Media Pemerintah Gaza menyatakan pungutan tersebut adalah sumbangan sukarela untuk dana bantuan bagi kelompok seperti janda dan yatim. Kantor itu juga mengatakan pembayaran tunai dianjurkan karena kelangkaan uang tunai, bukan diwajibkan.
Ketua serikat pengusaha truk swasta Gaza, Nahed Sheheiber, menyatakan pedagang bukan pihak yang menghentikan pengiriman. Serikat itu menilai Israel menjadikan pungutan Kementerian Ekonomi Gaza sebagai dalih.
Soal Jumlah Truk
Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat, Israel wajib mengizinkan minimal 600 truk bantuan kemanusiaan masuk per hari, menurut Al Jazeera. Para diplomat menyebut jumlah yang masuk setiap hari biasanya jauh lebih sedikit.
COGAT menyatakan keputusan pedagang akan memangkas total truk harian, baik bantuan maupun komersial, menjadi sekitar 300, atau separuh dari sebelumnya. Sheheiber menyebut angka harian yang biasa masuk sudah sekitar 300 truk, dua pertiganya membawa barang komersial.
Lembaga bantuan menilai pasar harus tetap berjalan. Juru bicara Dewan Pengungsi Norwegia, Shaina Low, mengatakan kepada AP bahwa sektor kemanusiaan saja tidak mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga, dan pasar perlu berfungsi.
Peringatan UNICEF dan Kondisi Pangan
Dalam konferensi pers di Jenewa pada Jumat (16/10), juru bicara UNICEF Ricardo Pires menyatakan pasokan komersial dan kemanusiaan harus mengalir terus-menerus dan dapat diprediksi. UNICEF mendesak semua penyeberangan tetap dibuka. Laporan baru lembaga itu menyebut capaian menekan malnutrisi masih rapuh dan dapat terganggu oleh hambatan pasokan.
Pada hari yang sama, Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan sedikitnya 466 warga Palestina meninggal akibat malnutrisi dan kelaparan sejak 2024, sepertiganya anak-anak. Kementerian memperkirakan lebih dari 1,4 juta orang, atau 67 persen penduduk Gaza, menghadapi kerawanan pangan tingkat krisis atau lebih buruk hingga akhir 2026.
Gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025 kini memasuki tahun kedua. Per 12 Oktober, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 1.493 orang tewas sejak gencatan senjata, dengan total 74.382 korban tewas sejak Oktober 2023.
Gaza Media belum menemukan laporan bahwa pengiriman barang komersial telah dilanjutkan hingga artikel ini ditulis.


