HomeBeritaPasukan Israel Tarik Diri dari Hebron Setelah Pengepungan 10 Hari, Warga Mulai...

Pasukan Israel Tarik Diri dari Hebron Setelah Pengepungan 10 Hari, Warga Mulai Pulang

HEBRON — Pasukan Israel menarik diri dari kota Hebron di Tepi Barat yang diduduki pada Senin (2/11/2026), setelah pengepungan lebih dari 10 hari, kata Gubernur Hebron Khaled Dudin. Dudin menyatakan pasukan keamanan Palestina kini memegang kendali penuh wilayah itu dan keluarga yang terusir dapat kembali ke rumah mereka.

Wali Kota Hebron Youssef al-Jaabari mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pemerintah kota diberi tahu secara resmi soal penarikan pasukan pada pukul 06.00 waktu setempat. Sekolah dan universitas dilaporkan kembali dibuka.

Bermula dari Serangan 23 Oktober

Operasi dimulai pada Jumat (23/10/2026), setelah dua pria bersenjata Palestina menyerang di dekat Hebron dan menewaskan dua tentara Israel serta melukai tiga lainnya. Kedua penyerang ditembak mati, menurut laporan AP dan Al Jazeera.

Militer Israel kemudian menutup kota dan memperluas operasi ke seluruh wilayah gubernuran yang dihuni sekitar 800.000 orang, menurut Al Jazeera. Pos pemeriksaan ditutup dan sejumlah rumah diambil alih sebagai pos militer.

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz saat itu mengatakan warga tidak akan diizinkan kembali sebelum militer menuntaskan “semua urusan Hamas di Hebron”, sebagaimana dilaporkan AP. Otoritas Palestina menyebut penghancuran dan penutupan itu sebagai hukuman kolektif.

Dampak bagi Warga

Gubernuran Hebron menyatakan lebih dari 3.300 orang terusir atau terdampak. Al Jazeera melaporkan 537 keluarga dipaksa keluar pada malam hari dan menumpang di rumah kerabat. Sejumlah warga disebut hanya diberi waktu lima menit pada pukul 02.00 untuk membawa obat, telepon, dan dokumen, dengan perkiraan awal pengusiran satu hingga tiga hari. Angka itu berbeda dengan laporan The New Arab, yang mengutip pemerintah kota dan menyebut hampir 5.000 orang terusir.

Pemerintah kota Hebron menyatakan 15 rumah dan bangunan dirobohkan serta 327 toko tutup. Kerugian langsung disebut melampaui 12 juta shekel per hari, sekitar 3,8 juta dolar AS. Sekitar 80.000 siswa di kota itu tidak dapat bersekolah, menurut kantor berita Palestina WAFA yang dikutip Al Jazeera. Lima universitas ditutup selama pengepungan.

Al Jazeera mencatat Hebron memiliki 220 dari 940 pos pemeriksaan dan gerbang militer Israel di Tepi Barat, sehingga pembatasan gerak berdampak luas pada kehidupan ekonomi dan layanan kota.

Sebagian warga yang pulang mengatakan uang dan barang milik mereka hilang dari rumah, menurut Al Jazeera. Klaim itu belum diverifikasi secara independen.

“Semua yang rusak akan kami bangun kembali,” kata al-Jaabari, dikutip Al Jazeera (diterjemahkan dari bahasa Inggris).

Tanggapan

Laporan Al Jazeera, The New Arab, dan ANI yang dirujuk tidak memuat pernyataan militer Israel tentang penarikan pasukan itu. Kepala Hak Asasi Manusia PBB sebelumnya menyampaikan “keprihatinan serius” atas dugaan pembersihan etnis dan hukuman kolektif dalam operasi tersebut, menurut The New Arab.

ARTIKEL TERKAIT

Terkini