Thursday, April 3, 2025
HomeBeritaPenduduk Gaza tanpa roti, warga Palestina peringatkan perang kelaparan karu

Penduduk Gaza tanpa roti, warga Palestina peringatkan perang kelaparan karu

Gaza sedang mengalami babak baru dari perang kelaparan, setelah semua toko roti di wilayah tersebut berhenti beroperasi hari ini, Selasa.

Mereka kehabisan tepung akibat blokade Israel yang terus berlanjut dan penutupan perlintasan perbatasan.

Kondisi kemanusiaan di Gaza semakin memburuk sejak Israel menutup semua perbatasan pada 2 Maret lalu.

Israel juga melarang masuknya bantuan kemanusiaan, pangan, dan medis bagi warga yang sudah menderita akibat perang yang tak kunjung usai.

Ketua Asosiasi Pemilik Toko Roti di Gaza, Abdul Nasser Al-Ajrami, mengatakan bahwa 10 toko roti di Gaza selatan dan 9 di utara—yang sebelumnya beroperasi dengan dukungan Program Pangan Dunia (WFP)—telah berhenti beroperasi sepenuhnya karena kehabisan tepung.

Dalam pernyataannya kepada Al Jazeera Net, Al-Ajrami menegaskan bahwa total toko roti yang berhenti beroperasi kini mencapai 25. Setelah 6 toko roti lainnya sebelumnya tutup akibat kehabisan gas untuk memasak.

Ia menambahkan bahwa toko roti ini sebelumnya mampu memenuhi sekitar 60% kebutuhan warga Gaza, dengan produksi 250 ton tepung per hari. Meskipun kebutuhan sebenarnya mencapai 450 ton per hari untuk wilayah Gaza utara dan selatan.

Menurutnya, penghentian operasi toko roti di Gaza dan terus ditutupnya perlintasan perbatasan menandakan awal dari krisis kemanusiaan yang serius.

Padahal, toko roti ini sebelumnya hanya mampu memenuhi kebutuhan minimum penduduk.

Sementara itu, Program Pangan Dunia sebelumnya telah memperingatkan bahwa stok makanan untuk operasinya di Gaza hanya cukup untuk kurang dari dua minggu.

Selain itu, stok bahan pangan di toko roti dan dapur umum di Gaza juga telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Bayang-bayang kelaparan

Sejak perlintasan ditutup, perang kembali berkecamuk di Gaza sejak Maret lalu. Menyusul gagalnya kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tahanan yang berlangsung selama 58 hari.

Warga Palestina kini kembali dihantui ketakutan akan perang kelaparan. Mengingat bagaimana mereka pernah terpaksa makan rumput dan menggiling pakan ternak sebagai pengganti roti.

“Ketakutan terbesar kami adalah melihat penduduk kembali mencari makan ternak untuk bertahan hidup. Berita tentang penutupan toko roti ini bukan hal biasa, terutama dengan perbatasan yang telah ditutup selama berminggu-minggu. Roti adalah satu-satunya yang tersisa bagi kami, dan sekarang kami memasuki fase baru dari kelaparan dan penderitaan ekstrem,” tulis seorang aktivis melalui akun Facebook-nya.

Sementara itu, jurnalis Yusuf Faris menulis bahwa pagi ini, semua toko roti menutup pintu mereka.

“Pasar-pasar kosong dari barang kebutuhan, dan kami kini memasuki babak paling kejam dari kelaparan. Pembantaian terus berlanjut, seolah dunia menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar dan tak ada yang peduli,” tulisnya.

Aktivis Adham Abu Salmiya memperingatkan bahwa stok tepung yang tersisa di Gaza hanya cukup untuk seminggu.

Jika pun ada tepung yang tersedia, kataya, harganya kini lebih dari 60 dolar per karung.

“Gaza sedang kelaparan, dan stok makanan yang tersisa hanya cukup untuk maksimal 10 hari. Apa yang kalian harapkan dari rakyat yang dibunuh setiap saat dan kini dibiarkan kelaparan?” cuitnya.

Di media sosial, banyak pengguna bertanya-tanya tentang sikap dunia yang menutup telinganya terhadap Gaza. Meninggalkan rakyatnya dengan dua pilihan: mati karena kelaparan atau karena bom?”

ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Most Popular