Sunday, February 23, 2025
HomeBeritaPutra Assad ungkap versi baru tentang malam pelarian ayahnya dari Suriah

Putra Assad ungkap versi baru tentang malam pelarian ayahnya dari Suriah

Munculnya dua akun di platform X (Twitter) dan Telegram yang diklaim milik Hafez Bashar al-Assad, putra sulung mantan Presiden Suriah, telah memicu perdebatan luas di media sosial Suriah.

Akun-akun tersebut mengungkap detail malam pelarian keluarga Assad pada 8 Desember 2024, sebelum para pemberontak memasuki ibu kota, Damaskus.

Dalam video pendek berdurasi 9 detik yang diunggah di Telegram, Hafez terlihat berada di salah satu jalan di Moskow, Rusia.

Ia menegaskan bahwa kedua akun itu memang miliknya dan bahwa ia tidak memiliki akun lain. Namun, akun X miliknya kemudian ditutup.

Detail malam pelarian keluarga Assad

Melalui unggahannya di Telegram dan X, Hafez Assad memberikan versi baru tentang malam terakhir rezim Assad di Damaskus.

Ia mengklaim bahwa tidak ada rencana, bahkan cadangan, untuk meninggalkan Damaskus, sampai mereka menerima telepon dari seorang pejabat Rusia yang meminta keluarganya segera meninggalkan Damaskus ke Latakia karena situasi yang semakin berbahaya.

“Meskipun ada suara tembakan dari kejauhan, situasi ini masih terasa biasa saja, seperti yang kami alami selama tahun-tahun awal perang. Saat itu, tentara sedang bersiap untuk mempertahankan Damaskus, dan tidak ada tanda-tanda bahwa keadaan akan memburuk—sampai berita tentang mundurnya tentara dari Homs tiba-tiba datang. Ini sama mengejutkannya dengan penarikan tentara dari Hama, Aleppo, dan pedesaan Idlib sebelumnya,” tulisnya.

Ia melanjutkan bahwa meski demikian tidak ada persiapan atau tanda-tanda bahwa mereka akan pergi.

“Hingga akhirnya, seorang pejabat Rusia tiba di rumah kami di distrik Al-Malki setelah tengah malam, yaitu pada pagi hari Minggu, 8 Desember. Ia meminta ayah saya, Presiden Bashar al-Assad, untuk pindah ke Latakia selama beberapa hari karena situasi di Damaskus sangat berbahaya. Di sana, ayah saya akan mengawasi jalannya pertempuran, terutama di garis depan pesisir dan Sahl al-Ghab,” tambahnya.

Menanggapi klaim bahwa keluarga Assad pergi tanpa memberi tahu kerabat mereka, Hafez mengatakan bahwa ia beberapa kali menelepon sepupu-sepupunya saat mereka akan berangkat.

“Namun, para pekerja di rumah mereka memberi tahu kami bahwa mereka sudah pergi ke tujuan yang tidak diketahui,” lanjutnya.

Hafez juga mengungkapkan bagaimana keluarga Assad mencapai Latakia.

“Kami berangkat menuju Bandara Internasional Damaskus sekitar pukul 03:00 dini hari dan bertemu dengan paman saya, Maher al-Assad di sana. Bandara sudah kosong—tidak ada pegawai, termasuk petugas menara kontrol. Setelah itu, kami menaiki pesawat militer Rusia menuju Latakia dan mendarat di Pangkalan Hmeimim sebelum fajar,” ungkapnya.

Menurutnya, selama mereka berada di Pangkalan Hmeimim, mereka mengalami serangan drone bertubi-tubi serta tembakan di sekitar pangkalan.

“Pada siang hari, komando pangkalan memberi tahu kami bahwa situasi di sekitar mereka sangat berbahaya, dan mustahil bagi kami untuk keluar dari pangkalan. Terjadi kekacauan besar, kelompok teroris menyebar, unit-unit militer yang bertanggung jawab atas perlindungan pangkalan telah ditarik, dan semua komunikasi dengan komando militer terputus,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa setelah berkonsultasi dengan Moskow, Rusia akhirnya memutuskan untuk mengevakuasi keluarga Assad ke Moskow dengan pesawat militer.

“Kami lepas landas ke Moskow pada malam harinya dan tiba di sana pada malam yang sama,” terangnya.

Lokasi Hafez Assad terungkap di Moskow

Setelah video Hafez diunggah, beberapa pengguna media sosial mulai menelusuri lokasi pengambilan video tersebut. Mereka berhasil mengidentifikasi lokasinya di Jalan Bolshaya Ordynka, di pusat kota Moskow.

Sementara itu, The Times melaporkan bahwa keluarga Assad kemungkinan tinggal di kawasan Moscow City, di mana mereka memiliki lebih dari 20 apartemen mewah di kompleks “City of Capitals”.

Video yang diposting oleh Hafez Bashar al-Assad memicu berbagai reaksi di media sosial.

Sebagian orang berpendapat bahwa keluarga Assad sedang mengamati dari jauh bagaimana rezim mereka runtuh dan menyaksikan terungkapnya kejahatan dan pelanggaran yang telah mereka lakukan terhadap rakyat Suriah.

Sebagian mengkritik bahasa yang digunakan Hafez, di mana ia menyebut pemberontak yang menggulingkan rezim ayahnya sebagai “teroris”, tanpa mengakui kejatuhan mereka.

Beberapa menegaskan bahwa Rusia harus menyerahkan keluarga Assad dan uang yang mereka curi dari Suriah untuk membuktikan itikad baiknya sebelum membahas isu kompensasi atau kesepakatan baru.

ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Most Popular