Wednesday, January 7, 2026
HomeBeritaSerangan AS ke Venezuela, korban tewas capai 80 orang

Serangan AS ke Venezuela, korban tewas capai 80 orang

Jumlah korban tewas akibat serangan Amerika Serikat ke Venezuela meningkat menjadi 80 orang, terdiri dari warga sipil dan personel militer. Seorang pejabat senior Venezuela mengatakan angka tersebut masih berpotensi bertambah, seperti dilaporkan The New York Times, Minggu (4/1/2026).

Pasukan khusus Amerika Serikat dilaporkan telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro di ibu kota Caracas pada Sabtu dini hari. Operasi tersebut disertai dengan serangan udara oleh jet tempur AS yang menargetkan sejumlah pangkalan dan instalasi militer strategis di berbagai wilayah Venezuela.

Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, menilai penangkapan Maduro oleh AS memiliki “nuansa Zionis”. Rodriguez, yang sebelumnya menjabat sebagai wakil presiden, ditunjuk oleh Mahkamah Agung Venezuela untuk memimpin negara itu secara sementara.

Dalam pidato yang disiarkan televisi nasional, Rodriguez menyatakan bahwa dunia internasional terkejut atas serangan terhadap Republik Bolivarian Venezuela. Ia menyebut negaranya menjadi korban agresi bersenjata yang, menurutnya, tidak dapat dibenarkan.

Rodriguez menegaskan bahwa pihak-pihak yang mendorong agresi bersenjata terhadap Venezuela akan dimintai pertanggungjawaban oleh sejarah dan keadilan.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam Rodriguez dengan mengatakan bahwa ia bisa “membayar harga yang sangat mahal” jika menolak bekerja sama dengan Washington. Trump bahkan menyatakan bahwa Rodriguez diharapkan bertindak sebagai mitra yang memungkinkan Amerika Serikat ikut “menjalankan” Venezuela.

Sehari setelah serangan, ribuan pendukung pemerintah turun ke jalan-jalan di Caracas. Mereka mengibarkan bendera nasional dan menyerukan persatuan nasional dalam menghadapi apa yang mereka sebut sebagai agresi asing.

Serangan AS tersebut menuai kecaman dari sejumlah negara Amerika Selatan, termasuk Brasil, Kolombia, dan Chile. Sementara itu, beberapa negara Eropa menyambut penggulingan Maduro, meski sebagian mempertanyakan legalitas operasi militer AS.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menyatakan bahwa Spanyol tidak mengakui rezim Maduro, namun juga tidak akan mengakui intervensi yang melanggar hukum internasional dan berpotensi meningkatkan ketegangan kawasan.

Di dalam negeri AS, sejumlah anggota parlemen dari Partai Demokrat mengkritik serangan tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan ilegal.

Usai penangkapan Maduro, Trump menyampaikan bahwa perusahaan-perusahaan Amerika akan memperoleh akses lebih besar terhadap cadangan minyak Venezuela. Ia menyebut kekayaan minyak negara tersebut sebagai sumber ekonomi besar yang akan dimanfaatkan.

Venezuela memiliki sekitar 303 miliar barel cadangan minyak, atau sekitar 17 persen dari cadangan minyak dunia, menjadikannya negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, menurut Badan Informasi Energi AS.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan pemerintah AS berencana menekan industri minyak Venezuela guna memaksa para pemimpin negara tersebut memenuhi tuntutan Washington. Ia juga menuding Venezuela menjadi pusat operasi bagi negara-negara yang dianggap sebagai rival AS, termasuk Iran, Rusia, China, dan Hezbollah.

Rubio menyebut AS akan memberlakukan “karantina minyak” dengan melibatkan angkatan laut dan penjaga pantai AS, serta berupaya mencegah negara-negara pesaing menguasai sumber daya di kawasan belahan barat.

China dan Rusia, yang selama ini memiliki kepentingan besar di sektor energi Venezuela, sama-sama mengecam keras serangan Amerika Serikat tersebut.

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler