GAZA CITY — Sedikitnya enam warga Palestina tewas dan belasan lainnya terluka ketika sebuah drone Israel menghantam tenda yang menampung keluarga pengungsi di lingkungan al-Rimal, sebelah barat Kota Gaza, pada Sabtu (6/6) sore. Serangan terjadi sekitar pukul 16.30 waktu setempat, di dekat Sekolah Dasar Putra al-Rimal, di tengah berlanjutnya pelanggaran gencatan senjata yang mulai berlaku 10 Oktober 2025.
Sumber medis di Rumah Sakit al-Shifa menyatakan korban luka mencapai 15 orang, sebagian dirawat di unit perawatan intensif. Sejumlah perempuan dan anak-anak termasuk di antara korban. Kantor berita Anadolu, WAFA, dan TRT melaporkan enam korban tewas, sementara Pertahanan Sipil Gaza menyebut angka tujuh yang kemudian bertambah menjadi delapan setelah seorang korban kritis meninggal beberapa jam kemudian.
Pusat Hak Asasi Manusia Palestina (PCHR) mendokumentasikan delapan korban tewas dan mengidentifikasi mereka, termasuk anggota keluarga Qaddoum. Di antara yang tewas seketika terdapat dua perempuan dan seorang anak perempuan berusia delapan tahun.
Tenda di Tengah Pesta Pernikahan
Koresponden Al Jazeera Hani Mahmoud, yang melaporkan dari Kota Gaza, mengatakan ledakan besar memicu kepanikan di kompleks sekolah PBB yang menampung pengungsi. Menurutnya, serangan menargetkan sebuah tenda di samping tenda lain tempat sedang berlangsung acara pernikahan.
“Warga terlihat berlarian keluar dari lokasi pengungsian menuju jalanan, di mana kendaraan sipil langsung dikerahkan untuk mengangkut korban luka,” kata Mahmoud.
Militer Israel, dalam pernyataan kepada kantor berita AFP, menyatakan pihaknya “menargetkan teroris di sektor itu” tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Serangan ini adalah satu dari beberapa serangan yang dilaporkan terjadi di Jalur Gaza pada Sabtu. Serangan terpisah di kawasan Khan Younis, Gaza selatan, menewaskan seorang pria yang dijadwalkan menikah pada hari yang sama. Di lingkungan Tuffah, Kota Gaza, tank dan drone quadcopter Israel melepaskan tembakan di dekat sebuah rumah sakit anak.
Eskalasi di Tengah Gencatan Senjata
Juru bicara Hamas, Hazam Qassem, dalam pernyataannya mengecam serangan tersebut dan menuduh Israel “berupaya merusak dan menghancurkan” kesepakatan gencatan senjata.
Sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, sedikitnya 951 warga Palestina tewas dan 2.984 lainnya terluka dalam serangan Israel yang hampir terjadi setiap hari, menurut data otoritas Palestina. Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan jumlah total korban tewas sejak Oktober 2023 telah mencapai sekitar 72.961 jiwa, dengan lebih dari 173.000 orang terluka.
Serangan ini berlangsung saat Hamas menggelar pertemuan dengan mediator dan faksi Palestina lain di Mesir untuk membahas implementasi penuh tahap pertama kesepakatan gencatan senjata. Pembahasan mencakup pembukaan kembali lintas perbatasan, pemasukan bantuan kemanusiaan, serta isu tahap kedua yang menyangkut penempatan pasukan internasional dan perlucutan senjata faksi-faksi Palestina. Transisi ke tahap kedua telah mandek selama berbulan-bulan, dan lebih dari separuh wilayah Gaza masih berada di bawah kendali militer Israel. (IW)


