Friday, March 28, 2025
HomeBeritaMedia internasional: Situasi di Gaza menuju perang total setelah gagalnya perpanjangan gencatan...

Media internasional: Situasi di Gaza menuju perang total setelah gagalnya perpanjangan gencatan senjata

Surat kabar dan media internasional menyoroti dampak kegagalan Israel dalam mematuhi perjanjian gencatan senjata dan pertukaran tahanan dengan perlawanan Palestina di Gaza, serta meningkatnya kekhawatiran akan meluasnya konflik.

Harian The New York Times Amerika Serikat menulis bahwa pertempuran di Gaza sedang meluncur menuju perang total. Surat kabar itu menunjukkan ketidakjelasan mengenai akhir dari eskalasi ini.

Menurut surat kabar tersebut, meningkatnya ketegangan telah menimbulkan kepanikan dan ketakutan di kalangan warga Palestina.

Rakyat Palestina sebelumnya berharap bisa menikmati jeda lebih lama dari perang. Banyak yang pesimis terhadap kemungkinan penyelesaian krisis dalam waktu dekat.

Sementara itu, The Washington Post melaporkan bahwa serangan Israel yang kembali digencarkan di Gaza semakin memperburuk penderitaan warga yang sudah mengalami trauma dan kelelahan.

Akibatnya, sekitar 70.000 warga Palestina telah mengungsi setelah Israel memblokir masuknya semua bahan makanan dan bahan bakar ke Gaza selama lebih dari 2 minggu.

Para analis menilai bahwa kemungkinan perpanjangan gencatan senjata kini semakin kecil. Sementara peluang Israel untuk melanjutkan serangan besar-besaran ke Gaza justru semakin besar.

Mantan diplomat Israel, Alon Pinkas, mengatakan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memanfaatkan keputusan untuk melanjutkan perang di Gaza demi kepentingan pribadinya, bukan berdasarkan pertimbangan militer yang sah.

Dalam opininya yang diterbitkan di The Independent Inggris, Pinkas berpendapat bahwa kembalinya perang bertujuan untuk mengalihkan perhatian dari keputusan Netanyahu yang kontroversial dalam memecat Kepala Shin Bet, Ronen Bar.

Analisis yang dimuat di The Jerusalem Post menegaskan bahwa pemecatan Bar merupakan strategi Netanyahu untuk menghindari penyelidikan atas tanggung jawabnya terkait serangan 7 Oktober 2023.

Menurut analisis tersebut, tanpa penyelidikan terhadap Netanyahu, akan sulit untuk mencegah bencana serupa terjadi di masa depan.

Lebih jauh, pemecatan Bar dan penunjukan sosok yang loyal kepada Netanyahu diprediksi akan memberikan dampak negatif terhadap lembaga keamanan.

Selain itu, dinilai juga membahayakan keamanan nasional Israel dalam jangka panjang.

Dalam konteks yang sama, pakar hukum dari Institut Demokrasi Israel, Amir Fuchs, mengatakan bahwa Netanyahu sedang mencoba mengatasi masalahnya.

Netanyahu mencoba untuk mengonsolidasikan kekuasaan sebanyak mungkin dan menyingkirkan pejabat-pejabat profesional.

Dalam laporan The Guardian, Fuchs menyatakan bahwa tindakan tersebut bukan demi kepentingan negara Israel.

“Tetapi hanya untuk kepentingan pribadi Netanyahu dan pemerintahannya,” katanya.

Dalam opini yang dimuat di situs The Hill, penulis Alexander Longarov berpendapat bahwa Israel harus menyelesaikan masalah Palestina untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Longarov menekankan bahwa ketidakmampuan Israel dalam menjamin keamanan warganya telah menyebabkan dampak serius terhadap kohesi internal dan stabilitas lembaga-lembaga negara.

Hal ini, katanya, dapat dilihat dari gejolak yang terjadi selama perang di Gaza dan krisis politik terbaru yang ditandai dengan pemecatan Kepala Shin Bet.

ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Most Popular