Maroko

Ribuan Warga Maroko Gelar Pawai Tolak Normalisasi Dengan Zionis

GAZA MEDIA, RABATH – Ribuan warga Maroko turun ke jalanan Rabath, dalam aksi pawai protes penolakan terhadap keputusan normalisasi dengan penjajah zionis, dalam peringatan tahun pertama kesepakatan normalisasi.

Pawai digagas Front Maroko Bela Palestina Tolak Normalisasi, mengusung tema: “Pertempuran Berlanjut Gagalkan Normalisasi Dan Kerjasama Militer.” Sebagai penolakan terhadap keputusan normalisasi yang disebut sebagai langkah putus asa, seperti dikutip dari Palinfo.

Aksi pawai berlangsung di 40 kota, diikuti sejumlah elemen social, menolak keputusan normalisasi. Pasukan keamanan Maroko melakukan pengepungan aksi dan melarang aksi di beberapa lokasi, menangkap dan menyerbu para demonstran, seperti dilansir sejumlah akun medsos, baik lembaga maupun personal.

Para peserta aksi meneriakan, “Rakyat Ingin Mengaggalkan Normalisasi.” “Wahai Zionis, wahai bangsa terkutuk, Palestina berada di mata kami.” “Palestina Melawan, Rezim Menawar.” Para demonstran menegaskan bahwa bangsa Maroko berlepas diri dari keputusan normalisasi dengan penjajah zionis, dan menyatakan dukungan kepada persoalan Palestina.

Dalam orasi di kota Rabath, Kepala Lembaga Maroko Pembela Persoalan Umat, Abdul Shamad Fathi mengatakan, “Zionis yang menjajah bumi Palestina terus berupaya menjajah Maroko, merusak ekonomi, politik dan social.”

Kami menolak normalisasi, karena tujuannya bukan untuk kepentingan Palestina, dan juga bukan untuk kepentingan Maroko, kami menuntut tanggungjawab kepada pihak yang menandatangani normalisasi ini, tegas Fathi.[]

Normalisasi Olahraga, Perjanjian Rahasia Maroko dan Israel

GAZA MEDIA, RABAT – Surat kabar Israel Yedioth Ahronoth mengungkapkan bahwa Asosiasi Sepak Bola Israel telah menandatangani perjanjian rahasia dengan Federasi Sepak Bola Maroko, (7/12).

Surat kabar Israel ini menambahkan, hari ini, Senin, bahwa perjanjian itu ditandatangani selama upacara rahasia di Rabat dan bendera Israel dan Maroko dikibarkan selama penandatanganannya, seperti dikutip dari Palinfo.

Menurut surat kabar tersebut, kedua federasi sepak bola ini berusaha menjaga kerahasiaan perjanjian karena sensitifitas politik. FIFA dan Asosiasi Sepak Bola Eropa dan Afrika diklaim bekerja sama dalam mencapai kesepakatan ini. Sepak Bola untuk Harapan: Kemanusiaan dan Perdamaian, begitu temanya.

Menurut Yedioth Ahronoth; Presiden Asosiasi Sepak Bola Israel menandatangani perjanjian dengan timpalannya dari Maroko Fawzi Kaja, yang menegaskan bahwa raja Maroko memberikan persetujuannya untuk perjanjian ini dengan tujuan memperkuat hubungan antara kedua negara melalui olahraga.

Surat kabar itu melaporkan bahwa duta besar Israel untuk Maroko berpartisipasi dalam upacara penandatanganan perjanjian. Mengutip pejabat yang terlibat dalam rincian negosiasi rahasia tentang perjanjian itu dinilai sebagai hal yang sangat penting.

Dia menekankan bahwa kedua federasi belum dapat menetapkan tanggal untuk pertandingan antara Israel dan tim Maroko karena banyaknya jumlah pertandingan untuk kedua tim yang diizinkan tahun depan.

Diharapkan tim Israel dari pemain di bawah usia 17 tahun akan tiba di Maroko bulan depan untuk mengadakan pertandingan melawan tim Maroko. Sementara tim pemuda UEA akan tiba di Israel untuk berpartisipasi dalam kompetisi musim dingin di Israel dan ini menjadi tim Arab pertama yang berpartisipasi dalam kompetisi ini.

Yediot melihat bahwa perjanjian ini akan membantu upaya menghapus Israel dari FIFA, dan tim kerja sama gabungan akan dibentuk antara federasi Maroko dan Israel dan mereka akan segera mulai bekerja. Perjanjian itu memungkinkan para pemain Israel untuk mengakses markas tim nasional di ibukota Maroko.

Salah satu ketentuan perjanjian tersebut mengatur kerjasama di bidang arbitrase, dimana wasit Israel akan dikirim ke Liga Maroko untuk melakukan penyempurnaan. Sementara tim gabungan akan bekerja sama di bidang kemajuan, kedokteran olahraga, dan pelatihan manajer sepak bola selain mengembangkan sepak bola wanita dan orang-orang dengan kebutuhan khusus.[]

Israel Akan Meresmikan Hubungan Pertahanan Dengan Maroko Pada Kunjungan Menteri

GAZA MEDIA, MAROKO – Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz menuju ke Maroko untuk “memformalkan” kerja sama keamanan antara kedua negara. Perjalanan dua hari, dimulai pada Selasa, dilakukan kurang dari setahun setelah Maroko menormalkan hubungan dengan Israel dalam kesepakatan yang ditengahi oleh pemerintahan mantan Presiden AS Donald Trump.Sebagai imbalannya, Washington mengakui kedaulatan kerajaan Afrika Utara atas wilayah Sahara Barat yang disengketakan.

Gantz, menteri pertahanan Israel pertama yang melakukan kunjungan resmi ke Maroko, akan menandatangani “sebuah nota kesepahaman yang akan menguraikan kerja sama pertahanan antara kedua negara”, kata kantornya.Perjalanan itu bertujuan untuk “menetapkan dasar bagi semua kerja sama keamanan di masa depan antara Israel dan Maroko”, kata seorang sumber yang mengetahui kunjungan itu.

“Sampai sekarang ada beberapa tingkat kerja sama, ini benar-benar meresmikannya,” kata sumber itu. Maroko menguasai sebagian besar Sahara Barat dan menganggap bekas jajahan Spanyol sebagai wilayah kedaulatannya. Ketegangan berkobar antara Maroko dan Aljazair, yang mendukung gerakan kemerdekaan Front Polisario Sahara Barat.Aljazair memutuskan hubungan diplomatik dengan Maroko pada Agustus dengan alasan “tindakan bermusuhan” sebuah tuduhan yang dibantah oleh Rabat.

Awal bulan ini, Aljazair menuduh Maroko membunuh tiga warga sipil Aljazair di jalan raya gurun, meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi. Kepala Polisario Brahim Ghali mengatakan pekan lalu bahwa gerakan tersebut telah memutuskan untuk meningkatkan operasi militer.

Konflik Israel-Palestina terus memobilisasi masyarakat sipil, Islamis dan sayap kiri jauh di Maroko, dengan seruan untuk demonstrasi 29 November menentang “normalisasi merayap dengan Israel” dan untuk mendukung Palestina.

Menurut Maddy-Weitzman, sementara Rabat belum meninggalkan perjuangan Palestina, “terlalu banyak kepentingan lain yang dimainkan, terlalu banyak manfaat lain yang bisa diperoleh dengan kalibrasi ulang”. “Sebagian besar negara di kawasan tidak ingin disandera lagi dalam masalah ini, mereka ingin mengejar kepentingan mereka seperti yang mereka definisikan, dan pada titik waktu ini jelas Israel memiliki banyak hal untuk ditawarkan,” katanya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken memberikan pujian pada hari Senin untuk proposal Maroko di Sahara Barat, menandakan dukungan baru meskipun ketegangan meningkat atas wilayah itu dengan Aljazair. []

Lembaga Peduli Umat di Maroko, Kutuk Kunjungan Gantz

GAZA MEDIA, RABAT – Lembaga Maroko untuk Dukungan Masalah Umat mengutuk kunjungan Menteri Pertahanan Israel ke Maroko. Rakyat Maroko kembali diminta untuk waspada dan melawan rencana Israel yang ingin merusak stabilitas kawasan, seperti dikutip dari Palinfo.

Dalam pernyataan yang diterima, lembaga Maroko tersebut menyatakan, “Dalam langkah yang tidak diperhitungkan akibatnya, dan kelanjutan dari proses normalisasi yang memalukan dengan entitas Zionis yang telah merebut tanah Palestina, dimulai dengan pembukaan otoritas Maroko dengan Kantor Penghubung dan pertukaran diplomat. Kemudian melakukan penetrasi tatanan masyarakat di tingkat pendidikan, sosial, wisata, seni dan olahraga, dan media, serta pertukaran perdagangan, kunjungan publik dan rahasia, pertukaran informasi dan yang lain, hari ini rezim Maroko bergerak tanpa rasa malu untuk melakukan normalisasi militer dengan para pembunuh anak-anak dan perampas tanah Isra dan Miraj.”

Lembaga pembela umat itu menganggap kunjungan tersebut bertentangan dengan keinginan dan aspirasi rakyat Maroko yang menentang segala bentuk normalisasi dengan Zionis dan atas pengkhianatan kami terhadap rakyat Palestina. Ketabahan dan perlawanan mereka untuk pembebasan dan pembentukan negara merdeka.

Lembaga itu juga meminta masyarakat Maroko untuk berpartisipasi dalam berjaga pada Rabu malam di depan gedung parlemen di Rabat dan secara intensif berpartisipasi dalam kegiatan Hari Nasional di semua kota pada kesempatan Hari Solidaritas Internasional dengan rakyat Palestina.

Lembaga itu juga menyerukan agar menjadikan dua aksi di dua tempat sebagai kesempatan mengecam kunjungan Menteri Pertahanan penjajah Zionis dan semua bentuk normalisasi yang memalukan.[]