Wednesday, January 28, 2026
HomeBeritaUNRWA: Lebih 12.000 anak Palestina terusir paksa di Tepi Barat

UNRWA: Lebih 12.000 anak Palestina terusir paksa di Tepi Barat

 

Lebih dari 12.000 anak Palestina saat ini hidup dalam kondisi “pengungsian paksa” di Tepi Barat akibat operasi militer Israel yang masih berlangsung di wilayah utara daerah pendudukan tersebut. Hal itu disampaikan Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Minggu, seperti dilaporkan Anadolu.

Sejak 21 Januari 2025, militer Israel melancarkan operasi di Tepi Barat bagian utara. Operasi tersebut bermula di kamp pengungsi Jenin, kemudian meluas ke kamp Nur Shams dan Tulkarem.

Pasukan Israel memberlakukan pengepungan terhadap ketiga kamp tersebut, disertai penghancuran besar-besaran terhadap infrastruktur, rumah, dan pertokoan. Berdasarkan data resmi, kondisi ini telah menyebabkan sekitar 50.000 warga Palestina mengungsi.

“Lebih dari 12.000 anak masih berada dalam kondisi pengungsian paksa di Tepi Barat yang diduduki,” demikian pernyataan UNRWA melalui platform media sosial X.

Menanggapi situasi tersebut, UNRWA menyatakan telah meluncurkan program pendidikan darurat bagi anak-anak pengungsi sejak Februari 2025.

Badan tersebut menjelaskan, layanan pendidikan diberikan melalui ruang belajar sementara, pembelajaran daring, distribusi materi belajar mandiri, serta dukungan psikososial bagi para siswa terdampak.

UNRWA juga mencatat, sekitar 48.000 anak mengikuti pendidikan di sekolah-sekolah yang dikelolanya di seluruh wilayah Tepi Barat yang diduduki.

Menurut data Palestina, sejak Oktober 2023, pasukan Israel dan pemukim ilegal telah menewaskan sedikitnya 1.105 warga Palestina di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, melukai hampir 11.000 orang, serta menahan sekitar 21.000 orang.

Pada Juli tahun lalu, Mahkamah Internasional (ICJ) dalam pendapat hukumnya menyatakan pendudukan Israel atas wilayah Palestina sebagai tindakan ilegal dan menyerukan pengosongan seluruh permukiman Israel di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler