HomeLiterasiFiksiYang Ditanam Ummu Khalil

Yang Ditanam Ummu Khalil

#CerpenJumat — Edisi 12: Suara dari Gaza


Ummu Khalil tidak pernah menjawab pertanyaan orang tentang tangan kirinya.

Jari manis dan kelingkingnya selalu menekuk sedikit, seperti menggenggam sesuatu yang tak terlihat. Anak-anak mengira itu karena umur. Perempuan-perempuan kamp mengira itu bekas luka perang. Tidak ada yang tahu bahwa kedua jari itu menekuk karena empat puluh tahun lamanya mereka terbiasa memegang gagang cangkul kecil.

Malam itu, ia duduk di depan tendanya memilin wol dalam gelap, dan Rasha datang membawa teh dalam gelas timah yang retak.

“Kau tidak tidur,” kata Rasha.

“Orang tua tidur sedikit. Kami sedang menabung.” Ummu Khalil menerima gelas itu tanpa terima kasih, yang di antara mereka berdua sudah menjadi bentuk terima kasih. “Duduk.”

Rasha duduk. Bayinya tertidur di gendongan, dan di pergelangan tangannya tasbih kayu itu berdenting pelan setiap kali ia bergerak.

“Abu Naji akan merobohkan dinding di tanah Yusuf,” kata Rasha. “Kata Widad, ada tunas hijau di bawahnya.”

Tangan Ummu Khalil berhenti memilin. Hanya sebentar. Tapi Rasha melihatnya.


“Aku punya kebun,” kata Ummu Khalil akhirnya, dan kalimat itu keluar seperti batu yang dilepas dari genggaman setelah terlalu lama. “Di timur. Dua puluh pohon zaitun, tujuh belas di antaranya lebih tua dariku.”

Rasha tidak menyela. Ia belajar sejak delapan bulan lalu bahwa ada kalimat yang harus dibiarkan selesai sendirian.

“Hari terakhir sebelum kami pergi, aku menanam satu bibit. Anakku yang paling kecil, Khalil, memaksa. Katanya, kalau kita pergi, harus ada yang tinggal menunggu.” Ia tertawa pendek, tanpa suara. “Dia baru sebelas tahun. Menanam bibit di tengah kekacauan, di tanah yang sudah penuh pohon. Aku marah. Aku bilang itu bodoh.”

“Lalu?”

“Lalu kami pergi.” Ummu Khalil menyeruput tehnya, yang sudah dingin. “Dan aku tidak pernah kembali melihatnya.”

“Kenapa?”

Pertanyaan itu menggantung lama di antara mereka, dalam bau asap kayu bakar dari tenda sebelah dan dingin malam yang merayap dari tanah.

“Karena kalau aku kembali dan pohonnya sudah mati,” kata Ummu Khalil pelan, “aku harus mengubur Khalil dua kali.”


Rasha menggeser duduknya sedikit, cukup dekat hingga lutut mereka bersentuhan, tidak lebih. Ia tidak mengucapkan kata-kata penghibur. Ia sudah terlalu sering menerima kata-kata semacam itu, dan tahu betapa ringannya mereka di tangan.

“Aku pernah menghindari jalan ke toko pamanku selama delapan bulan,” katanya.

“Aku tahu.”

“Kupikir kalau tidak melihat, ia tidak benar-benar…” Rasha menggeleng. “Ternyata yang kuhindari bukan tempatnya. Tapi kemungkinan bahwa aku akan menemukan sesuatu yang tidak mau kujawab.”

Ummu Khalil menatapnya, mata tajam itu melunak seperti sudah lama menunggu seseorang mengatakannya lebih dulu.

“Kau sudah menemukannya,” katanya. “Tasbih itu.”

“Itu bukan jawaban.”

“Bukan,” Ummu Khalil setuju. “Tapi kau bisa berjalan lagi, kan?”

Rasha tidak menjawab. Tetapi di pangkuannya, bayi itu menggeliat dan menghela napas kecil, dan keduanya menunggu sampai tidurnya tenang kembali.


“Aku akan tanya sesuatu,” kata Rasha. “Kau boleh marah.”

“Aku sudah tua. Marahku mahal.”

“Kalau tunas di tanah Yusuf itu tumbuh dari sesuatu yang ditanam ayahnya dua belas tahun lalu… bukankah itu artinya ada yang bisa bertahan?” Rasha memilih kata hati-hati. “Mungkin juga di timur.”

Ummu Khalil tidak langsung menjawab. Ia memandang jauh ke arah kegelapan di timur, ke arah yang sudah lama tidak boleh didekati, ke tempat yang bagi orang lain hanyalah garis di peta dan bagi dirinya adalah dua puluh pohon dengan satu yang bernama anaknya.

“Kalau ia hidup,” katanya akhirnya, “aku harus menjelaskan kenapa aku tidak datang.”

“Dan kalau mati?”

“Aku harus menjelaskan pada diriku kenapa aku tidak datang lebih cepat.”

Dua jawaban, dua beban. Rasha mengerti sekarang kenapa jari-jari itu menekuk. Bukan menggenggam cangkul. Menggenggam keputusan yang tak pernah jadi.


Subuh datang pelan, mewarnai tepi tenda dengan abu-abu muda. Rasha sudah pulang, tasbihnya berdenting menjauh di antara jemuran. Ummu Khalil masih duduk di tempatnya, dengan dua gelas timah kosong di sisinya dan benang wol yang tak jadi dipilin.

Dari tenda sebelah, suara kaleng dipukul sendok terdengar samar. Kelas Khadija sudah dimulai. Anak-anak mulai mengeja.

Ia berdiri, tongkatnya mengetuk tanah dua kali. Lalu ia masuk ke tendanya dan keluar lagi membawa sesuatu yang tidak pernah Rasha lihat: sebuah kantong kain kecil, lusuh di sudutnya, terikat dengan tali yang sudah mengeras oleh waktu.

Ia tidak membukanya. Ia hanya menimangnya sebentar di telapak tangan, seperti menimbang benda yang lebih berat dari ukurannya. Di dalamnya, sesuatu bergemerincik halus, kecil dan banyak, seperti biji-bijian kering.

Ia menyelipkannya ke dalam lipatan bajunya, berjalan ke arah tanah keluarga Yusuf, dan tidak menoleh ke belakang.


Minggu depan, dinding di tanah keluarga Yusuf akhirnya akan dirobohkan, dan Abu Naji akan menemukan bahwa seseorang sudah berdiri di sana sebelum fajar, membawa sesuatu yang bukan untuk digali, melainkan untuk dikembalikan.

ARTIKEL TERKAIT

Terkini