HomeBaitul MaqdisYerusalem: Kota yang Diperebutkan Tiga Agama

Yerusalem: Kota yang Diperebutkan Tiga Agama

YERUSALEM — Kota ini berdiri di atas punggung bukit gersang Pegunungan Yudea, jauh dari pantai dan tanpa sungai besar yang mengalir melintasinya. Namun selama lebih dari tiga milenium, Yerusalem menjadi pusat rujukan spiritual bagi Yudaisme, Kristen, dan Islam sekaligus — dan berpindah tangan lewat penaklukan militer setidaknya sepuluh kali dalam sejarah tercatatnya.

Artikel ini menelusuri lapisan-lapisan sejarah kota tersebut: dari permukiman Kanaan kuno, kehancuran dua Bait Suci, era Bizantium-Kristen, penaklukan Islam awal, Perang Salib, hingga pembagian kota pada abad ke-20 yang status akhirnya masih belum disepakati secara internasional hingga hari ini.

Dari Yebus ke Kota Daud

Bukti arkeologis menunjukkan permukiman di lokasi ini sudah ada sejak sekitar 4.000 tahun lalu, dengan referensi tertulis tertua pada teks-teks kutukan Mesir (Execration Texts) dari abad ke-19 SM. Kota kuno ini dikenal sebagai Yebus, dihuni oleh bangsa Yebusit — salah satu kelompok Kanaan — yang membangun benteng di sekitar Mata Air Gihon.

Menurut narasi Alkitab Ibrani, Raja Daud merebut Yebus sekitar tahun 1000 SM melalui terowongan air bawah tanah dan menjadikannya ibu kota kerajaan bersatu Israel, menamainya “Kota Daud”. Putranya, Salomo, kemudian membangun Bait Suci Pertama di sekitar tahun 960 SM di atas bukit yang kini dikenal sebagai Temple Mount atau Haram al-Sharif. Para sejarawan mencatat bahwa detail biblika ini sulit diverifikasi secara independen lewat sumber non-Alkitab dari periode itu, sehingga sebagian akademisi memperlakukannya sebagai tradisi keagamaan sekaligus catatan historis yang masih diperdebatkan tingkat akurasinya.

Kehancuran Dua Bait Suci

Tahun 586 SM, pasukan Babel di bawah Nebukadnezar II menghancurkan Bait Suci Pertama dan mengasingkan sebagian penduduk Yehuda ke Babel. Setelah Persia di bawah Cyrus Agung menaklukkan Babel pada 539 SM, orang Yahudi diizinkan kembali dan membangun Bait Suci Kedua, selesai sekitar 516 SM.

Enam abad kemudian, Kekaisaran Romawi menghancurkan kota ini lagi. Pengepungan yang dipimpin Titus pada tahun 70 M berlangsung sekitar empat bulan, menewaskan puluhan ribu penduduk dan meratakan Bait Suci Kedua — peristiwa yang hingga kini diperingati dalam kalender Yahudi sebagai Tisha B’Av. Enam puluh tahun kemudian, setelah Pemberontakan Bar Kokhba (132–135 M) ditumpas, Kaisar Hadrian membangun ulang kota sebagai koloni Romawi bernama Aelia Capitolina dan melarang orang Yahudi tinggal di dalamnya kecuali pada satu hari dalam setahun.

Era Bizantium dan Situs-Situs Kristen

Setelah Kaisar Konstantin mengesahkan Kristen sebagai agama yang dilindungi pada 325 M, Yerusalem berubah wajah. Ibunya, Helena, melakukan ziarah ke kota ini sekitar 326–328 M dan menurut tradisi gereja menemukan lokasi penyaliban dan makam Yesus. Konstantin memerintahkan pembangunan kompleks basilika di lokasi tersebut, yang selesai dan ditahbiskan pada 335 M sebagai Gereja Makam Kudus (Church of the Holy Sepulchre) — hingga kini situs paling suci dalam Kristen bagi banyak denominasi.

Selama periode Bizantium, kota berkembang sebagai pusat ziarah Kristen dengan ratusan gereja dan biara. Populasi Yahudi tetap terbatas mengikuti larangan era Romawi, meski secara bertahap kembali menetap di sekitar kota.

Penaklukan Islam dan Piagam Umar

Antara 636–638 M, pasukan Kekhalifahan Rasyidin di bawah panglima Abu Ubaidah ibn al-Jarrah dan Khalid ibn al-Walid mengepung kota yang saat itu dikuasai Bizantium. Uskup Sophronius menyerahkan kota langsung kepada Khalifah Umar ibn al-Khattab, yang datang ke Yerusalem untuk menerima penyerahan tersebut. Umar menandatangani perjanjian — dikenal sebagai Piagam Umar (Umariyya Covenant) — yang menjamin kebebasan beragama bagi penduduk Kristen dan Yahudi dengan imbalan pembayaran jizyah.

Umar dibawa berkeliling ke lokasi bekas Bait Suci, yang saat itu telantar, lalu memerintahkan pembersihan area tersebut dan pembangunan masjid kayu sederhana di sana. Umar menolak salat di Gereja Makam Kudus atas undangan Sophronius, khawatir hal itu akan dijadikan alasan bagi umat Muslim generasi berikutnya untuk mengklaim gereja tersebut sebagai masjid. Lebih dari lima dekade kemudian, pada 691 M, Khalifah Umayyah Abd al-Malik ibn Marwan menyelesaikan pembangunan Kubah Batu (Dome of the Rock) di atas batu karang yang sama, disusul perluasan Masjid al-Aqsa.

Perang Salib dan Rebutan Silih Berganti

Pada 15 Juli 1099, pasukan Salib Pertama yang dipimpin Godfrey dari Bouillon merebut kota setelah pengepungan sekitar lima minggu. Penaklukan ini diikuti pembantaian massal terhadap penduduk Muslim dan Yahudi — dicatat oleh saksi mata Kristen sendiri, Raymond of Aguilers, dengan deskripsi kekerasan yang ekstensif. Yerusalem kemudian menjadi ibu kota Kerajaan Latin Yerusalem selama hampir satu abad.

Setelah kemenangan telak Saladin atas pasukan Salib di Pertempuran Hattin pada Juli 1187, ia mengepung Yerusalem dan merebutnya kembali pada awal Oktober 1187. Berbeda dengan 1099, Saladin mengizinkan penduduk Kristen meninggalkan kota dengan membayar tebusan, tanpa pembantaian massal — kontras yang dicatat berulang kali oleh sejarawan sebagai salah satu alasan reputasinya dihormati bahkan oleh musuhnya di Eropa.

Dari Ottoman hingga Pembagian Modern

Kota ini berpindah ke tangan Mamluk, lalu Ottoman sejak 1517, dengan tembok kota yang berdiri sekarang dibangun oleh Sultan Suleiman I pada 1530-an. Setelah Perang Dunia I, Inggris mengambil alih lewat Mandat Palestina (1920–1948).

Rencana Pembagian PBB pada 29 November 1947 mengusulkan Yerusalem sebagai corpus separatum — wilayah internasional terpisah yang tidak menjadi bagian dari negara Yahudi maupun Arab yang diusulkan. Rencana itu tidak pernah terlaksana. Perang 1948 membagi kota secara de facto: bagian barat dikuasai Israel, bagian timur — termasuk Kota Tua dengan seluruh situs suci tiga agama — dikuasai Yordania, dikukuhkan lewat Perjanjian Gencatan Senjata Rhodes 1949.

Dalam Perang Enam Hari Juni 1967, Israel merebut Yerusalem Timur dari Yordania dan tak lama kemudian mencaploknya secara resmi, memperluas batas kota. Aneksasi ini tidak diakui oleh mayoritas komunitas internasional, termasuk Amerika Serikat pada masanya, dengan alasan pelarangan perolehan wilayah lewat perang menurut hukum internasional. Dewan Keamanan PBB berulang kali menegaskan posisi ini lewat berbagai resolusi sejak 1967, sementara status akhir kota — termasuk klaim Israel atasnya sebagai ibu kota bersatu dan klaim Palestina atas Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara masa depan — tetap menjadi salah satu isu paling rumit dalam perundingan Israel-Palestina hingga kini.

Penutup

Tiga agama besar dunia menempatkan situs-situs paling sucinya berdampingan dalam radius kurang dari satu kilometer persegi di Kota Tua Yerusalem: Tembok Barat, Gereja Makam Kudus, dan Haram al-Sharif dengan Kubah Batu serta Masjid al-Aqsa. Sejarah panjang perebutan kota ini — oleh Israel kuno, Babel, Persia, Romawi, Bizantium, Rasyidin, Umayyah, Tentara Salib, Ayyubiyah, Mamluk, Ottoman, Inggris, dan negara-negara modern — menjelaskan mengapa status kota ini tetap menjadi salah satu simpul paling tegang dalam konflik Israel-Palestina, termasuk dalam kaitannya dengan Jalur Gaza yang jaraknya kurang dari 100 kilometer ke arah barat daya.

ARTIKEL TERKAIT

Terkini