Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Jumat mendesak Amerika Serikat untuk meninggalkan tuntutan yang berlebihan guna mencapai kesepakatan, sehari setelah perundingan antara kedua pihak digelar di Jenewa.
Araghchi dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Mesir, Badr Abdel Aaty, mengatakan bahwa keberhasilan jalur ini memerlukan keseriusan dan sikap realistis dari pihak lain serta menghindari langkah-langkah yang tidak diperhitungkan dan tuntutan yang berlebihan, menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran.
Menteri Mesir tersebut juga membahas, dalam dua panggilan telepon terpisah dengan mitranya dari Iran dan Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, perkembangan terbaru terkait putaran ketiga perundingan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat.
Abdel Aaty menegaskan posisi tetap Mesir yang mendukung upaya diplomatik untuk menyelesaikan isu-isu yang masih tertunda, serta menekankan pentingnya melanjutkan jalur perundingan dan menghindari eskalasi di kawasan.
Ia juga menekankan pentingnya menyelesaikan perbedaan yang masih ada dalam perundingan antara Amerika Serikat dan Iran serta mencapai solusi kompromi, jauh dari opsi militer dan dampak buruknya.
Pada Kamis, setelah berakhirnya putaran ketiga perundingan dengan Washington di Jenewa, Araghchi mengatakan bahwa upaya diplomatik dengan Amerika Serikat telah menunjukkan kemajuan lebih lanjut, dan menjelaskan bahwa perundingan ditutup dengan saling pengertian.
Vance: “Saya Tidak Tahu”
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Oman, Badr Al Busaidi, dijadwalkan bertemu dengan Wakil Presiden AS J.D. Vance di Washington pada Jumat untuk membahas upaya mencapai kesepakatan nuklir dengan Iran, menurut CNN, dengan tujuan menghindari kemungkinan serangan militer AS terhadap Iran.
Jaringan tersebut mencatat bahwa Presiden Donald Trump terus mempertimbangkan opsi untuk mengambil tindakan militer terhadap Iran.
Mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut dan tidak disebutkan namanya, CNN melaporkan bahwa Laksamana Brad Cooper, Komandan Komando Pusat AS, telah memberi pengarahan kepada Trump mengenai opsi militer yang mungkin terhadap Iran pada Kamis.
Pada hari yang sama, Vance menepis kemungkinan Amerika Serikat akan terseret ke dalam perang jangka panjang di Timur Tengah setelah kemungkinan serangan terhadap Iran.
Dalam pernyataannya kepada The Washington Post, Vance mengatakan bahwa opsi yang tersedia mencakup peluncuran serangan militer untuk memastikan Teheran tidak memperoleh senjata nuklir, atau menyelesaikan masalah tersebut secara diplomatik. Ia menambahkan, “Saya tidak tahu apa yang akan diputuskan Presiden Trump terkait Iran. Saya pikir kita semua lebih memilih opsi diplomatik,” seraya menyatakan bahwa hal itu bergantung pada “apa yang dilakukan dan dikatakan oleh pihak Iran.”
Vance juga mengatakan bahwa kesalahan masa lalu tidak boleh diulangi, namun pada saat yang sama tidak boleh ditafsirkan secara berlebihan. Ia menyatakan, “Hanya karena seorang presiden pernah melakukan kesalahan dalam konflik militer, bukan berarti kita tidak akan pernah terlibat dalam konflik militer lagi. Kita harus berhati-hati, dan saya yakin Presiden Trump bersikap hati-hati.”
Di tingkat internasional, Kementerian Luar Negeri China menyatakan bahwa meningkatnya kehadiran militer AS di kawasan Asia-Pasifik merugikan perdamaian dan stabilitas regional.
China juga memperingatkan warganya agar tidak bepergian ke Iran dan mendesak warga negaranya yang berada di sana untuk segera meninggalkan negara tersebut.
Perundingan yang Berlanjut
Perundingan antara Teheran dan Washington kembali dilanjutkan di Oman pada 6 Februari setelah sempat terhenti menyusul serangan Israel-AS terhadap Iran pada Juni 2025. Putaran kedua perundingan kemudian digelar di Jenewa pada 18 Februari dengan mediasi Oman.
Amerika Serikat menuntut Iran untuk sepenuhnya menghentikan kegiatan pengayaan uranium, memindahkan uranium yang telah diperkaya ke luar negeri, serta meninggalkan program rudal balistiknya, sembari mengancam akan menggunakan kekuatan militer.
Dalam konteks ini, Amerika Serikat — dengan dorongan dari Israel — dalam beberapa pekan terakhir memperkuat pasukan militernya di Timur Tengah dan memberi sinyal kemungkinan tindakan militer terhadap Iran untuk memaksanya menghentikan program nuklir dan rudalnya serta dukungannya terhadap kelompok-kelompok sekutu di kawasan.
Di pihak lain, Teheran menilai bahwa Washington dan Israel mengada-adakan dalih untuk campur tangan dan mengganti rezimnya. Iran juga mengancam akan merespons setiap serangan militer, meskipun terbatas, sembari tetap menuntut pencabutan sanksi ekonomi Barat sebagai imbalan atas pembatasan program nuklirnya.


