spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Tuesday, March 24, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeBeritaANALISIS - Apakah AS dan Iran sepakat mengakhiri perang?

ANALISIS – Apakah AS dan Iran sepakat mengakhiri perang?

Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus menyatakan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama 24 hari dengan Iran semakin dekat. Di sisi lain, berbagai negara regional dan internasional berpacu dengan waktu untuk menjembatani kesenjangan besar antara Amerika Serikat dan Iran.

Meski Trump berbicara tentang “titik-titik kesepakatan utama” dan komunikasi yang produktif, pihak Teheran secara tegas membantah adanya negosiasi langsung dengan Washington. Iran bahkan menilai pernyataan dari Gedung Putih sebagai upaya memanipulasi pasar keuangan dan minyak global.

Mediasi kawasan

Sejumlah negara di kawasan bergerak aktif mencari solusi atas krisis yang mengancam stabilitas global ini. Negara-negara seperti Turki, Mesir, Pakistan, Oman, dan Qatar menjadi aktor utama dalam upaya mediasi.

Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, melakukan komunikasi intensif dengan sejumlah pejabat, termasuk Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty, untuk menyatukan pandangan terkait gencatan senjata.

Sementara itu, Mesir menyatakan tengah berupaya mencegah situasi mencapai titik tanpa kembali dan menghindari kekacauan regional yang lebih luas. Seorang pejabat Iran juga mengungkapkan bahwa pertukaran pesan antara Teheran dan Washington telah terjadi melalui jalur tidak langsung, termasuk melalui Turki dan Mesir.

Pakistan muncul sebagai salah satu pemain penting dalam krisis ini. Perdana Menteri Pakistan dilaporkan telah berkomunikasi langsung dengan pemimpin Iran, sementara militer Pakistan juga menjalin kontak dengan pihak AS. Islamabad bahkan berupaya menawarkan diri sebagai tuan rumah bagi kemungkinan perundingan di masa depan.

Di sisi lain, Qatar dan Oman juga melakukan pembicaraan terpisah dengan kedua pihak untuk mendorong tercapainya kesepahaman, khususnya terkait pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Israel Terkejut, Iran Tegas Membantah

Menurut laporan media AS, pembicaraan tidak langsung dilakukan melalui perantara yang bertemu dengan utusan AS serta pejabat Iran secara terpisah. Namun, perkembangan ini disebut mengejutkan Israel, yang mengaku tidak mengetahui bahwa proses diplomasi bergerak secepat itu.

Di tengah optimisme AS, Iran tetap pada sikapnya. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa tidak ada negosiasi dengan Washington. Mereka menyebut klaim Trump sebagai “berita palsu” untuk mengalihkan perhatian dari tekanan yang dihadapi AS dan Israel.

Iran mengakui menerima pesan melalui negara-negara sahabat, namun menegaskan bahwa setiap komunikasi tetap berpegang pada prinsip nasional, termasuk peringatan keras terhadap kemungkinan serangan lanjutan.

Syarat berat dan hambatan utama

Salah satu hambatan terbesar dalam proses mediasi adalah tingginya tuntutan dari pihak Iran untuk mengakhiri perang dan membuka Selat Hormuz. Iran menolak usulan pengawasan internasional atas selat tersebut dan justru menginginkan sistem yang memungkinkan mereka memungut biaya dari kapal yang melintas.

Selain itu, Iran menuntut jaminan tidak akan ada serangan lanjutan, penutupan pangkalan militer AS di kawasan Teluk, kompensasi atas kerusakan akibat serangan udara, serta pengakuan atas apa yang mereka sebut sebagai agresi.

Sebaliknya, AS tetap bersikukuh pada tuntutannya, termasuk pembukaan penuh Selat Hormuz, penghentian program rudal Iran, serta penghentian pengayaan uranium.

Prospek ke depan

Meski mendapat perhatian dan harapan dari komunitas internasional, termasuk Inggris, Jerman, dan Rusia, peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat dinilai masih kecil.

Perbedaan tajam antara tuntutan kedua pihak membuat proses negosiasi berjalan alot. Di tengah situasi ini, negara-negara mediator berupaya memanfaatkan jeda waktu yang diumumkan Trump untuk membangun kepercayaan.

Namun, sikap Iran yang tetap tegas dan strateginya memanfaatkan posisi Selat Hormuz serta pengaruhnya terhadap pasar energi global menunjukkan bahwa konflik ini berpotensi berlangsung lebih lama.

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler