spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Wednesday, March 25, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeAnalisis dan OpiniANALISIS - Bagaimana kebijakan keamanan Iran di bawah Bagher Zolghadr?

ANALISIS – Bagaimana kebijakan keamanan Iran di bawah Bagher Zolghadr?

Di tengah menguatnya pembicaraan soal mediasi, saling kirim pesan, dan peluang dibukanya jalur negosiasi untuk menghentikan perang, Teheran justru memilih menempatkan sosok dari inti institusi keamanan di salah satu posisi paling sensitifnya.

Penunjukan Mohammad Bagher Zolghadr sebagai Sekretaris Dewan Tertinggi Keamanan Nasional, menggantikan Ali Larijani, menjadi penting bukan sekadar untuk mengisi kekosongan jabatan strategis. Ia mencerminkan pendekatan yang hendak ditempuh Iran dalam menghadapi fase ini.

Dewan Tertinggi Keamanan Nasional bukanlah lembaga administratif biasa. Ia adalah simpul pengambilan keputusan dalam sistem politik Iran—tempat bertemunya kebijakan luar negeri, keamanan, pertahanan, intelijen, hingga urusan domestik. Dari sinilah keputusan besar dirumuskan, terutama pada masa perang dan eskalasi.

Karena itu, siapa yang menjabat sekretaris jenderalnya bukan sekadar formalitas protokoler. Ia menjadi indikator arah dominan dalam sistem: apakah condong pada fleksibilitas dan kompromi, atau pada kontrol ketat dan pengamanan keputusan.

Dari sudut pandang ini, pilihan terhadap Zolghadr tak sulit dibaca. Ia bukan politisi yang beralih ke dunia keamanan, melainkan produk murni institusi militer dan keamanan. Kariernya ditempa di Garda Revolusi, lalu berlanjut ke posisi strategis di Kementerian Dalam Negeri, lembaga peradilan, dan badan tinggi negara lainnya.

Dengan latar seperti itu, ia lebih menyerupai figur “orang keras sistem” ketimbang “negosiator birokratis”.

Makna penunjukan ini tak hanya terletak pada riwayatnya, tetapi juga pada momentum. Ia muncul di tengah derasnya wacana negosiasi—namun dalam bingkai syarat Iran yang tinggi, suasana penuh kecurigaan, dan kehati-hatian agar diplomasi tidak menjadi pintu masuk penetrasi ke pusat pengambilan keputusan.

Pesannya jelas: Teheran tidak menutup jalur komunikasi, tetapi ingin mengelolanya dari posisi defensif, bukan keterbukaan.

Dalam konteks itu, penunjukan Zolghadr tampak sebagai bagian dari rekayasa jalur negosiasi itu sendiri, bukan langkah yang terpisah. Ketika negara menempatkan figur keamanan di pucuk lembaga strategis, ia sekaligus menegaskan bahwa setiap proses perundingan—jika terjadi—akan tetap berada dalam orbit pertimbangan militer dan keamanan.

Ini bukan berarti Iran menutup pintu politik atau memilih eskalasi semata. Lebih tepat dikatakan, Iran berupaya mengatur hubungan antara medan perang dan meja perundingan—agar yang kedua tidak mendahului yang pertama, atau memaksakan konsesi yang tak diinginkan.

Peran sekretaris dewan, dalam situasi seperti ini, melampaui koordinasi administratif. Ia menjadi penyaring pesan, penentu prioritas, penjaga ritme keputusan antar-lembaga, sekaligus penilai apakah fleksibilitas taktis memperkuat atau justru mengancam strategi.

Perbandingan dengan Larijani memperjelas pergeseran ini. Larijani dikenal sebagai figur yang luwes, mampu menjembatani keamanan dan politik, serta menggabungkan ketegasan dengan pragmatisme. Ia kerap menjadi penerjemah antara bahasa internal rezim dan kebutuhan manuver eksternal.

Sebaliknya, kehadiran Zolghadr menandakan prioritas baru: kohesi keputusan di atas fleksibilitas, kontrol kanal komunikasi sebelum ekspansi, dan memastikan negosiasi—jika berlangsung—tetap berada di bawah kendali institusi keamanan.

Dengan demikian, penunjukan ini bukan kontradiksi terhadap wacana perundingan, melainkan bagian dari syarat tak tertulis Iran. Negara yang bernegosiasi di tengah konflik biasanya tidak mencari figur kompromistis, melainkan sosok yang mampu mencegah negosiasi menjadi sumber instabilitas internal.

Dalam kerangka ini, Teheran tampaknya tidak memisahkan pengelolaan perang dan politik. Keduanya ingin berada di tangan yang sama—atau setidaknya dalam pola pikir yang serupa.

Sebelumnya, laporan media Amerika menyebut sebagian lingkaran di pemerintahan Donald Trump melihat Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, sebagai mitra potensial untuk negosiasi di tahap berikutnya. Namun, penunjukan Zolghadr bisa menggeser peran itu dari panggung depan.

Timing-nya mempertegas pesan. Situasi regional dan global masih kabur—diwarnai kabar mediasi, bantahan, pesan tak langsung melalui aktor regional, serta tarik-menarik antara retorika de-eskalasi dan syarat keras.

Dalam lanskap seperti ini, penunjukan sekretaris baru Dewan Keamanan Nasional bukan sekadar agenda institusional. Ia bisa dibaca sebagai upaya mendefinisikan ulang siapa yang berhak menentukan makna negosiasi itu sendiri: apakah sebagai jalan keluar politik, atau sekadar instrumen dalam pengelolaan konflik.

Pada akhirnya, arti penting penunjukan Zolghadr tak berhenti pada sosoknya, melainkan pada arah yang diwakilinya. Pilihan ini menunjukkan Iran ingin memasuki kemungkinan jalur politik dengan fondasi keamanan yang lebih rapat, kontrol keputusan yang lebih ketat, dan ruang manuver yang tetap berada dalam lingkar institusi keras.

Dengan kata lain, jika Teheran bersedia mendengar bahasa negosiasi, ia ingin berbicara dengan satu tangan tetap menggenggam kendali keamanan—bukan sebagai pihak yang tengah mencari jalan keluar cepat dari perang.

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler