Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dilaporkan memerintahkan militer untuk mempercepat kampanye serangan udara terhadap Iran selama 48 jam guna menghancurkan sebanyak mungkin industri persenjataan negara tersebut sebelum Amerika Serikat mendorong gencatan senjata.
Laporan ini disampaikan harian The New York Times pada Rabu.
Keputusan tersebut diambil setelah pemerintah Israel memperoleh salinan rencana perdamaian 15 poin yang disusun Amerika Serikat. Israel menilai rencana itu belum secara memadai menangani program nuklir dan kemampuan rudal balistik Iran.
Pejabat Israel juga khawatir Presiden AS, Donald Trump, dapat sewaktu-waktu mengumumkan pembicaraan damai.
Menanggapi laporan tersebut, juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, meminta publik berhati-hati. Ia menyebut telah melihat rencana yang beredar di media, namun belum pernah dikonfirmasi secara resmi.
“Ada beberapa bagian yang benar, tetapi tidak semua laporan yang saya baca sepenuhnya akurat,” ujarnya.
Netanyahu mengeluarkan instruksi itu dalam pertemuan di markas militer pada Selasa, setelah menerima paparan dari para komandan senior mengenai target-target yang masih bisa diserang.
Menurut lima pejabat keamanan nasional Israel yang dikutip laporan tersebut, langkah percepatan serangan mencerminkan keterbatasan posisi Israel dalam konflik ini. Keputusan untuk mengakhiri perang sepenuhnya berada di tangan Amerika Serikat, sehingga Netanyahu memiliki pengaruh terbatas atas akhir konflik.
Di sisi lain, terjadi perbedaan pandangan di kalangan pejabat Israel. Sebagian menginginkan waktu tambahan setidaknya satu minggu untuk menyelesaikan daftar target yang lebih luas, sementara yang lain mendorong penghentian konflik lebih cepat.
Tiga pejabat menyebutkan bahwa keuntungan militer terbesar telah dicapai pada pekan pertama perang. Namun, kekhawatiran kini meningkat terkait opini internasional, beban ekonomi, serta tekanan psikologis dan fisik terhadap masyarakat Israel.
Sejak 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel terus melancarkan serangan terhadap Iran yang dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke berbagai wilayah di kawasan, yang berdampak pada gangguan pasokan minyak global dan sektor penerbangan.
Sementara itu, Presiden Trump pada Senin dilaporkan menghentikan sementara serangan terhadap infrastruktur energi Iran. Kontak tidak langsung antara AS dan Iran melalui pihak perantara juga disebut masih berlangsung.


