Pengerahan ribuan pasukan Amerika Serikat ke kawasan Timur Tengah memicu kekhawatiran akan kemungkinan serangan darat ke Iran, meskipun Presiden AS, Donald Trump, masih mendorong jalur diplomasi untuk mengakhiri perang, lansir Bloomberg.
Iran secara terbuka menolak upaya pendekatan diplomatik Washington dan memperingatkan akan melakukan pembalasan besar-besaran jika pasukan darat AS benar-benar dikerahkan.
Tiga skenario berisiko
Sejumlah pejabat militer dan analis memprediksi tiga kemungkinan penggunaan pasukan AS, yang semuanya dinilai berisiko tinggi:
- Menguasai Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran.
- Membantu operasi perebutan material nuklir Iran.
- Dikerahkan di sepanjang pantai Iran untuk mematahkan kontrol Teheran atas Selat Hormuz.
Pakar pertahanan dari Brookings Institution, Michael O’Hanlon, menilai ketiga opsi tersebut memiliki peluang keberhasilan yang rendah.
“Semua opsi itu sangat berisiko,” ujarnya.
Pengerahan pasukan dan kekhawatiran politik
Pentagon telah mengirim dua unit Marine Expeditionary Unit yang terdiri dari sekitar 5.000 personel, serta lebih dari 1.000 prajurit dari Divisi Lintas Udara ke-82 ke kawasan.
Namun, langkah ini memicu kekhawatiran di kalangan politisi AS, baik dari Partai Republik maupun Demokrat.
Anggota Kongres dari Partai Republik, Nancy Mace, secara terbuka menolak kemungkinan pengerahan pasukan darat.
“Saya tidak akan mendukung pasukan darat di Iran,” ujarnya, seraya memperingatkan risiko konflik berkepanjangan seperti di Irak.
Ketua Komite Angkatan Bersenjata DPR AS, Mike Rogers, juga mengkritik kurangnya transparansi pemerintah terkait tujuan pengerahan pasukan tersebut.
Risiko militer dan ancaman Iran
Pengamat menilai medan perang saat ini jauh lebih kompleks, dengan ancaman drone yang masif dan potensi penggunaan ranjau laut oleh Iran di Teluk Persia.
Iran bahkan mengancam akan menambang seluruh wilayah Teluk jika terjadi pelanggaran wilayahnya.
Risiko korban jiwa juga dinilai tinggi, berpotensi melampaui korban yang telah jatuh sejauh ini.
Strategi dan dilema AS
Jika AS memilih untuk merebut Pulau Kharg, pasukan Marinir diperkirakan akan memimpin operasi. Pulau tersebut menangani sekitar 90 persen ekspor minyak Iran, sehingga menjadi target strategis utama.
Namun, analis menilai perubahan dari serangan udara ke perang darat akan mengurangi keunggulan militer AS dan meningkatkan risiko korban.
“Jika konflik berubah menjadi perang darat, keunggulan kita menurun dan korban akan meningkat,” kata Bradley Bowman dari Foundation for Defense of Democracies.
Dinamika diplomasi dan tekanan global
Sementara itu, Gedung Putih menyatakan pembicaraan dengan Iran masih berlangsung dan menunjukkan tanda-tanda kemajuan.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyebut pemerintah AS telah melakukan pembicaraan “produktif” dalam beberapa hari terakhir.
Di sisi lain, negara-negara Eropa terus mendorong penghentian konflik secara cepat, sementara negara-negara Teluk mulai mengeras terhadap Iran.
Duta Besar Uni Emirat Arab untuk AS, Yousef Al-Otaiba, menilai gencatan senjata saja tidak cukup dan menyerukan solusi yang menyeluruh terhadap ancaman Iran.
Peringatan dari mantan pejabat
Mantan Menteri Pertahanan AS, James Mattis, mengingatkan bahwa keberhasilan militer tidak selalu diikuti hasil strategis.
“Ada keberhasilan militer signifikan, tetapi tidak diimbangi hasil strategis,” ujarnya.
Ia juga mengkritik gagasan seperti perubahan rezim di Iran sebagai sesuatu yang tidak realistis.
Pengerahan pasukan AS ke kawasan memperlihatkan meningkatnya ketegangan dan membuka kemungkinan eskalasi konflik yang lebih luas.
Meski jalur diplomasi masih ditempuh, opsi militer — khususnya serangan darat — tetap menjadi risiko besar yang dapat memperpanjang konflik, meningkatkan korban, dan mengguncang stabilitas kawasan serta ekonomi global.


