Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan penangguhan operasi militer yang menargetkan fasilitas dan jaringan energi di Iran selama 10 hari.
Trump menyatakan keputusan tersebut diambil sebagai respons atas permintaan langsung dari pemerintah Iran. Dalam unggahannya di platform Truth Social, ia menyebut penangguhan akan berlangsung hingga Senin, 6 April, pukul 20.00 waktu Pantai Timur Amerika Serikat.
Ia juga menegaskan bahwa proses perundingan antara kedua pihak masih berlangsung dan “berjalan sangat baik”, sembari mengkritik sejumlah pemberitaan media yang ia sebut menyesatkan terkait jalannya negosiasi.
Menganalisis langkah tersebut, koresponden Al Jazeera di Washington, Fadi Mansour, menilai durasi 10 hari itu sejalan dengan kerangka waktu yang sebelumnya ditetapkan Trump untuk mengakhiri konflik, yakni sekitar empat hingga enam pekan.
Menurut Mansour, keputusan ini menjadi sinyal paling positif sejauh ini dalam dinamika diplomasi antara Washington dan Teheran.
Penangguhan ini merupakan yang kedua kalinya diumumkan Trump. Sebelumnya, pada awal pekan, ia memerintahkan penundaan serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari, sembari membuka ruang bagi kelanjutan dialog sepanjang pekan.
Di sisi lain, Iran telah memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap jaringan listriknya akan dibalas dengan menargetkan fasilitas energi di kawasan.
Sejak 28 Februari, konflik bersenjata yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran telah menewaskan ratusan orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta sejumlah pejabat keamanan, dan menyebabkan kerusakan luas.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke wilayah Israel, serta menyerang apa yang disebutnya sebagai pangkalan dan kepentingan Amerika Serikat di sejumlah negara Arab.
Namun, sebagian serangan tersebut juga menimbulkan korban jiwa dan kerusakan pada fasilitas sipil, yang kemudian menuai kecaman dari negara-negara terdampak dan disertai seruan untuk menghentikan eskalasi konflik.


