spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Friday, March 27, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeBeritaAnalis militer sebut Israel kewalahan hadapi “Serangan Jenuh” Iran

Analis militer sebut Israel kewalahan hadapi “Serangan Jenuh” Iran

 

Wilayah Israel bagian tengah dinilai sebagai titik paling lemah dalam menghadapi serangan rudal Iran. Hal ini diduga karena sistem pertahanan udara Israel tidak beroperasi secara terpadu di kawasan tersebut.

Pada Kamis, warga Israel menghadapi gelombang serangan rudal yang diluncurkan oleh Iran, kelompok Hizbullah di Lebanon, serta sejumlah faksi bersenjata dari Irak. Serangan itu menyebabkan kerusakan di berbagai wilayah.

Media Israel melaporkan adanya kerusakan di kawasan Hasharon dan Gush Dan, yang diduga akibat rudal klaster Iran. Sementara itu, serpihan rudal dilaporkan jatuh di enam lokasi di wilayah metropolitan Tel Aviv.

Selain kerusakan material, serangan tersebut juga menyebabkan sedikitnya 13 orang terluka di wilayah utara dan tengah Israel.

Pengamat militer, Brigadir Jenderal (Purn) Nidal Abu Zaid, menilai bahwa wilayah tengah Israel tampak paling rentan dalam menghadapi serangan tersebut.

Dalam analisisnya, Abu Zaid menyebut Iran tengah menguji kemampuan sistem pertahanan Israel di berbagai wilayah—utara, tengah, dan selatan. Dari pengamatan tersebut, Iran diduga menemukan bahwa sistem pertahanan di wilayah tengah tidak bekerja secara terintegrasi.

Di kawasan ini, pertahanan udara Israel mengandalkan sistem Iron Dome dan David’s Sling. Kedua sistem tersebut dirancang untuk menghadapi jenis ancaman tertentu di area spesifik. Namun, menurut Abu Zaid, kemampuan ini dapat dilemahkan melalui taktik “serangan jenuh” (saturation attack), yaitu meluncurkan serangan dalam jumlah besar secara bersamaan.

Taktik inilah yang disebut digunakan oleh Iran dan Hizbullah. Dalam satu hari, wilayah tengah Israel dilaporkan mengalami hingga tujuh gelombang serangan rudal, yang berhasil menembus pertahanan dan mencapai sejumlah titik di kawasan Tel Aviv, sehingga menimbulkan kerusakan signifikan.

Iran juga dilaporkan menggunakan rudal dengan hulu ledak klaster, yang semakin sulit dicegat oleh sistem pertahanan udara Israel.

Mengutip laporan harian Haaretz, sekitar 36 rudal klaster berhasil menghindari sistem pertahanan udara dan menghantam sekitar 190 titik di berbagai wilayah Israel, terutama di Tel Aviv dan sekitarnya.

Akibat serangan tersebut, jumlah korban tewas dilaporkan mencapai 15 orang sejak awal konflik, dengan sekitar 5.000 orang mengalami luka-luka.

Di wilayah Galilea, dua warga Israel juga dilaporkan terluka akibat serangan roket Hizbullah. Beberapa roket bahkan dilaporkan berhasil mencapai wilayah Tel Aviv, yang kembali dikaitkan dengan taktik serangan jenuh terhadap sistem pertahanan di wilayah utara.

Sementara itu, Garda Revolusi Iran menyatakan telah meluncurkan 129 gelombang serangan dalam 24 jam terakhir. Hizbullah disebut menambah 83 serangan, sementara kelompok bersenjata Irak turut melancarkan serangan tambahan, sehingga total mencapai sekitar 230 operasi dalam satu hari.

Komando militer Iran juga menyatakan bahwa serangan dilakukan secara terkoordinasi dengan Hizbullah, termasuk menargetkan fasilitas militer Israel.

Bahkan, Iran mengklaim telah menargetkan kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln (CVN-72), dengan rudal darat-ke-laut, yang disebut memaksa kapal tersebut mengubah posisinya di laut.

Di sisi lain, otoritas pertahanan sipil Israel melaporkan adanya korban luka akibat jatuhnya serpihan rudal di sejumlah lokasi, termasuk kota Petah Tikva, Kafr Qasim, serta beberapa permukiman di wilayah utara Tepi Barat.

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler