Amerika Serikat kembali menegaskan keterbukaannya untuk jalur diplomasi dengan Iran, di tengah konflik berkepanjangan antara Washington dan Teheran yang juga melibatkan Israel. Pernyataan ini muncul ketika Presiden AS, Donald Trump, kembali melontarkan ancaman terhadap infrastruktur sipil Iran.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, mengatakan dalam wawancara dengan Al Jazeera pada Kamis bahwa Trump sebelumnya telah mengupayakan dialog dengan Iran sebelum perang pecah. Namun, ia menuduh Teheran tetap melanjutkan ambisinya untuk mengembangkan senjata nuklir.
“Presiden selalu terbuka terhadap diplomasi, tetapi ia juga menegaskan bahwa tujuan-tujuannya akan tetap dicapai,” ujar Pigott.
Dalam pidato kepada publik pada Rabu malam, Trump kembali mengklaim bahwa Amerika Serikat berada di posisi unggul dalam konflik tersebut. Meski demikian, ia tidak merinci bagaimana perang itu akan diakhiri. Trump juga tidak menyampaikan rencana pembukaan kembali Selat Hormuz, yang sebelumnya ditutup Iran dan menyebabkan lonjakan harga energi global.
Konflik antara AS, Israel, dan Iran dimulai pada 28 Februari, hanya beberapa hari setelah putaran negosiasi di Jenewa yang disebut berjalan positif oleh mediator Oman dan pejabat Iran.
Sebelumnya, pada tahun lalu, Israel juga melancarkan serangan terhadap Iran di tengah berlangsungnya pembicaraan nuklir antara Washington dan Teheran. Dalam konflik tersebut, AS mengebom tiga fasilitas nuklir utama Iran dalam operasi yang diberi nama “Midnight Hammer”.
Pigott menegaskan bahwa Trump lebih mengutamakan jalur diplomasi. Ia menyebut bahwa presiden telah berupaya membuka ruang dialog bahkan setelah serangan pada Juni 2025.
“Pintu diplomasi kembali dibuka, tetapi kami melihat rezim Iran tetap melanjutkan upaya menuju kepemilikan senjata nuklir,” katanya.
Iran membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan damai. Di sisi lain, Israel diyakini memiliki persenjataan nuklir yang tidak pernah secara resmi diakui.
Menariknya, kepala intelijen AS sebelumnya, Tulsi Gabbard, pernah menyatakan di hadapan anggota parlemen bahwa Iran tidak sedang membangun senjata nuklir. Ia juga menambahkan bahwa hingga saat ini tidak ada indikasi Iran kembali mengembangkan kapasitas pengayaan uranium pascaserangan AS.
Meski demikian, Iran tetap bersikeras mempertahankan haknya untuk memperkaya uranium di dalam negeri. Teheran juga menolak bernegosiasi terkait program misil dan dukungannya terhadap kelompok-kelompok yang memusuhi Israel, seperti Hezbollah dan Hamas.
Pigott menegaskan bahwa AS tetap aktif melakukan pendekatan diplomatik di kawasan Timur Tengah, sembari berupaya melemahkan kemampuan militer Iran.
Sementara itu, Iran membalas serangan dengan meluncurkan rudal dan drone ke berbagai target di kawasan, termasuk aset militer AS serta fasilitas energi dan sipil seperti hotel dan bandara.
Pernyataan Pigott muncul tak lama setelah Trump membagikan rekaman serangan AS terhadap sebuah jembatan sipil utama di Iran, disertai peringatan akan serangan lanjutan.
“Sudah saatnya Iran membuat kesepakatan sebelum semuanya terlambat,” tulis Trump dalam unggahan media sosialnya.
Dalam pidato sebelumnya, Trump juga mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik serta fasilitas desalinasi air milik Iran.
Sejumlah pakar hukum internasional menilai bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil dapat dikategorikan sebagai bentuk hukuman kolektif dan melanggar hukum internasional.
Analis dari Stimson Center, Barbara Slavin, menilai Trump tengah berupaya mencari jalan keluar dari konflik tanpa terlihat gagal.
“Trump tampaknya sedang mencari cara untuk mengakhiri perang tanpa dianggap sebagai kegagalan total,” ujarnya.


