Pada hari Sabtu tanggal 11 April 2026, di sebuah ruang konferensi tertutup di kompleks pemerintahan Islamabad, tiga delegasi diplomatik tingkat tinggi duduk di meja perundingan yang sama. Dari Amerika Serikat: Wakil Presiden JD Vance, Utusan Khusus Steve Witkoff, dan penasihat senior Jared Kushner. Dari Iran: Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf yang memimpin delegasi tujuh puluh orang termasuk perwakilan senior Pasukan Pengawal Revolusi Iran, bersama Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi. Mediator pertemuan adalah Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, Field Marshal Asim Munir, dan Deputy PM dan Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar. Pada hari ketiga setelah penandatanganan gencatan senjata dua minggu yang berhasil menghentikan ancaman Trump untuk “menghancurkan seluruh peradaban Iran dalam satu malam,” ketiga delegasi membawa ke meja dokumen-dokumen yang menentukan masa depan kawasan Timur Tengah.
Delegasi Amerika membawa dokumen lima belas poin. Delegasi Iran membawa dokumen sepuluh poin. Empat puluh tiga hari setelah Operation Epic Fury menewaskan Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026, kedua dokumen ini menyajikan rancangan rinci tentang bagaimana perang AS-Iran dapat diakhiri — dan tentang siapa yang akan mendapat manfaat, siapa yang akan kehilangan, dan siapa yang bahkan tidak diundang ke ruangan.
Yang paling penting tentang dua dokumen ini bukan apa yang ada di dalamnya, tetapi siapa yang tidak ada di luarnya. Tidak ada delegasi Palestina di ruangan Islamabad. Tidak ada perwakilan rakyat Gaza yang sedang dibombardir setiap hari. Tidak ada Otoritas Palestina, tidak ada Hamas, tidak ada keluarga syuhada. Yang ada hanya dua negara besar yang sedang merundingkan masa depan dunia Arab di atas tubuh dua juta penduduk Gaza yang tidak diberi suara untuk membela diri mereka sendiri.
Lima Belas Tuntutan Trump
Pada 25 Maret 2026, dua minggu sebelum gencatan senjata diumumkan, Departemen Luar Negeri Amerika di bawah Marco Rubio menyampaikan kepada Iran melalui mediator Pakistan sebuah dokumen rancangan dengan lima belas poin. Inilah apa yang diinginkan administrasi Trump dari Iran sebagai harga gencatan senjata permanen.
Poin satu hingga lima berkaitan dengan program nuklir Iran. Iran harus membongkar total tiga fasilitas nuklir utamanya — Natanz, Fordow, dan Isfahan. Iran harus menghentikan total pengayaan uranium di tanahnya sendiri. Iran harus menangguhkan program rudal balistik, termasuk pembatasan jangkauan dan jumlah rudal. Iran harus mengizinkan Badan Energi Atom Internasional memonitor seluruh infrastruktur nuklirnya yang tersisa. Marco Rubio sendiri merumuskan: “Iran tidak boleh pernah memiliki senjata nuklir, selamanya.”
Poin enam adalah jantung dari kebijakan AS terhadap Palestina, dan harus dibaca dengan teliti: Iran harus menghentikan dukungan finansial, militer, dan politik kepada kelompok-kelompok perlawanan di kawasan, termasuk Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan Hamas di Palestina. Poin tujuh menetapkan Selat Hormuz sebagai “zona maritim bebas” yang harus selalu terbuka tanpa biaya transit. Poin delapan adalah yang paling eksplosif secara politis: Iran harus mengakui hak rezim Zionis untuk berdiri sebagai negara di tanah Palestina yang diduduki sejak 1948.
“Iran harus menghentikan dukungan kepada Hamas. Dan Iran harus mengakui hak Israel untuk berdiri. Inilah harga gencatan senjata yang Trump tetapkan.”
Tujuh poin terakhir berkaitan dengan kerangka waktu dan kompensasi: gencatan senjata awal tiga puluh hari, ekstensif relief sanksi sebagai imbalan kepatuhan, dukungan Amerika untuk reaktor sipil Bushehr, dan ratifikasi resolusi PBB. Dalam satu kalimat: bongkar nuklir Anda, lepaskan proksi Anda, akui rezim Zionis, dan kami akan mencabut sanksi yang melumpuhkan ekonomi Anda selama dua dekade.
Sepuluh Tawaran Iran
Pada 7 April 2026, satu setengah jam sebelum tenggat waktu ancaman Trump untuk memulai serangan baru, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengeluarkan dokumen tandingan: sepuluh poin yang merangkum apa yang Tehran bersedia tawarkan.
Pertama, AS harus menarik pasukan tempurnya dari kawasan Teluk — dari basis di Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Yordania. Kedua, AS harus mencabut seluruh sanksi primer dan sekunder yang diberlakukan sejak 1979, dan membayar kompensasi atas kerugian perang. Ketiga — di sini posisi Iran berbenturan langsung dengan AS — Iran tetap memiliki hak kedaulatan untuk memperkaya uranium di tanahnya sendiri, sesuai Perjanjian Non-Proliferasi yang Iran tanda tangani pada 1968. Keempat, Iran mempertahankan kendali atas Selat Hormuz sebagai perairan teritorial yang terletak di pantai Iran sendiri.
Kelima, AS harus menghentikan serangan terhadap Iran dan sekutu-sekutunya. Frasa “sekutu-sekutu” di sini secara eksplisit mencakup Hamas di Palestina, Hizbullah di Lebanon, dan kelompok-kelompok perlawanan lain yang Iran dukung. Ini adalah cerminan langsung dari poin enam Trump — tetapi dari sisi yang berlawanan. Trump menuntut Iran berhenti mendukung Hamas. Iran menuntut AS berhenti menyerang Hamas. Kedua tuntutan menempatkan Hamas sebagai objek negosiasi — bukan sebagai aktor independen yang punya hak menentukan nasib sendiri.
“Hamas hadir di kedua daftar. Tetapi tidak hadir di salah satu kursi. Inilah anatomi kolonialisme modern: yang dirundingkan adalah masa depan satu bangsa, tetapi yang merundingkan adalah dua kekuatan asing yang tidak mengenal bangsa itu dari dekat.”
Lima poin terakhir Iran meliputi: gencatan senjata mengikat di Lebanon untuk melindungi Hizbullah, gencatan senjata awal tiga puluh hari, resolusi PBB yang mengikat, pembekuan aset Iran dicairkan kembali, dan komitmen Iran tidak mengembangkan senjata nuklir di samping hak mempertahankan kapasitas enrichment sipil. Pada 7 April 2026, dalam wawancara Sky News, Trump menyebut sepuluh poin Iran sebagai “workable basis.” Sehari kemudian, di Truth Social, Trump menulis “there will be no enrichment of Uranium” — langsung membantah poin tiga Iran.
Empat Titik yang Tidak Bisa Dikompromikan
Membandingkan dua dokumen ini menghasilkan pemetaan yang sangat tajam tentang di mana negosiasi akan macet.
Pertama, nuklir. AS menuntut Iran menghentikan total pengayaan uranium. Iran menuntut hak kedaulatan untuk memperkaya. Iran memiliki sekitar 450 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen — sesuai laporan IAEA Maret 2026, stockpile ini cukup untuk membuat sembilan hingga sebelas senjata nuklir. AS tidak dapat menerima Iran mempertahankan kapasitas ini. Iran tidak dapat menyerahkannya tanpa kehilangan satu-satunya kartu pengelak terhadap regime change. Tidak ada area abu-abu.
Kedua, proksi. AS menuntut Iran berhenti mendukung Hamas, Hizbullah, dan Houthi. Iran menuntut AS dan Israel berhenti menyerang ketiga kelompok itu. Kedua tuntutan mendefinisikan kelompok-kelompok ini sebagai variabel dalam persamaan AS-Iran, bukan aktor independen. Bagi Hamas yang baru saja menyatakan kemenangan “Perang Ramadan” melalui pemimpinnya Khalil al-Hayya pada 5 Juni 2026, posisi ini sangat tidak menyenangkan. Mereka bukan subjek perundingan; mereka adalah sandera dari perundingan.
Ketiga, Hormuz. AS menuntut Selat Hormuz menjadi “zona maritim bebas” yang selalu terbuka tanpa biaya. Iran bersedia membuka selat tetapi dengan ketentuan “melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran” — implikasinya, Iran tetap mengontrol siapa yang lewat. Sejak gencatan senjata 8 April 2026, intelijen Israel melaporkan bahwa IRGC menarik biaya dari kapal-kapal tanker. Trump menulis di Truth Social pada 10 April: “Mereka sebaiknya berhenti sekarang.” Iran tidak berhenti.
Keempat, Israel. AS menuntut Iran mengakui hak rezim Zionis untuk berdiri sebagai negara. Iran selama empat puluh tujuh tahun sejak Revolusi Islam 1979 secara konstitusional menolak mengakui legitimasi rezim Zionis. Tidak ada Pemimpin Tertinggi Iran, dari Khomeini hingga Mojtaba Khamenei sekarang, yang akan menerima poin ini tanpa kehilangan legitimasinya sendiri. Ini bukan tentang strategi. Ini tentang teologi revolusioner yang menjadi tulang punggung Republik Islam sejak hari pertama.
Mengapa Kushner dan Witkoff Menggagalkan Talks
Pada 13 April 2026, dua hari setelah round pertama negosiasi Islamabad, jurnal Arab Al Majalla mempublikasikan analisis yang sangat tajam tentang dinamika di dalam ruangan. Berdasarkan wawancara dengan pejabat keamanan Pakistan yang hadir di pertemuan, sumber Al Majalla mengungkap kenyataan yang akan menentukan jalan negosiasi berikutnya:
“Pihak Iran berhasil membangun rapport dengan JD Vance. Tetapi mereka merasa tangan Vance terikat oleh kehadiran Kushner dan Witkoff — dua utusan yang di kalangan diplomatik Iran dianggap mewakili kepentingan Israel, bukan kepentingan Amerika.”
Jared Kushner, sebagaimana sudah kami analisis dalam kolom sebelumnya, adalah menantu Trump dengan latar belakang real estate Manhattan yang secara terbuka menyebut Gaza sebagai “waterfront property yang sangat berharga.” Steve Witkoff adalah teman dekat Trump yang berbasis di industri properti Florida dan kemudian beralih ke jabatan utusan diplomatik. Kedua orang ini, dalam kalkulasi Tehran, memimpin negosiasi tidak dengan mandat Amerika tetapi dengan mandat informal Tel Aviv. Vance — yang sebenarnya bersedia mencari deal pragmatis — terikat oleh kehadiran dua orang yang menyumbat ruang kompromi.
Inilah mengapa, meskipun round pertama berjalan dengan rapport personal yang baik, tidak ada terobosan substantif. Pada 24 Mei 2026, Axios mempublikasikan kesepakatan tentatif yang dekat ditandatangani: ekstensi gencatan senjata enam puluh hari, pembukaan Hormuz tanpa biaya, pencairan blokade Amerika atas pelabuhan Iran, izin Iran menjual minyak secara bebas. Tetapi yang tidak tercakup adalah inti dari empat titik inkompatibilitas: nuklir, proksi, kontrol Hormuz, dan pengakuan Israel.
Pada 28 Mei 2026, kedua belah pihak kembali bertukar tembakan di pagi hari di perairan Teluk — memicu media menggambarkan situasi sebagai “melemparkan negosiasi kembali ke ketidakpastian.” Pola yang akan berulang dalam beberapa minggu ke depan: deal hampir tercapai, lalu terhambat, lalu didekati lagi, lalu terhambat lagi. Skenario paling mungkin: kompromi yang menyelesaikan masalah Hormuz dan minyak — isu-isu penting bagi ekonomi global dan reputasi politik Trump — sambil menunda isu nuklir, proksi, dan Israel ke negosiasi berkelanjutan yang mungkin tidak pernah menghasilkan resolusi definitif.
Empat Dampak Konkret pada Masa Depan Gaza
Apa yang skenario ini berarti bagi dua juta penduduk Jalur Gaza dan tiga juta penduduk Tepi Barat?
Pertama, demiliterisasi Hamas yang dijanjikan Board of Peace tidak akan terjadi. Selama Iran tetap menolak menarik dukungannya kepada Hamas — dan tidak ada formula yang mungkin memaksa Iran tanpa eksistensial threat baru ke rezim Tehran — Hamas akan tetap memiliki backstop politis untuk menolak melucuti senjata. Trump dapat terus berteriak “hell to pay,” tetapi tidak ada kebijakan konkret yang akan memaksa Hamas berlutut tanpa eskalasi militer baru yang Trump sendiri telah enggan lakukan setelah pengalaman Operation Epic Fury.
Kedua, rekonstruksi Gaza akan tetap tertahan tanpa batas. Brankas Board of Peace yang seharusnya membiayai $17 miliar rekonstruksi tetap kosong sempurna karena donor dunia melihat ketidakpastian negosiasi AS-Iran sebagai sinyal stabilitas regional jauh dari pasti. Tanpa stabilitas, tidak ada investasi. Tanpa investasi, tidak ada rekonstruksi. Tanpa rekonstruksi, dua juta penduduk Gaza tetap hidup di reruntuhan rumah mereka tanpa janji yang dapat diandalkan.
Ketiga, sementara perhatian internasional terbatas pada Hormuz dan negosiasi nuklir, rezim Zionis menggunakan kesempatan ini untuk mempercepat agenda aneksasi yang sedang berjalan. Sistem digital pendaftaran tanah yang diluncurkan pada Iduladha 27 Mei 2026 dirancang mengonversi 35 persen Tepi Barat menjadi “tanah negara Israel” dalam empat tahun ke depan. Setiap bulan yang berlalu tanpa intervensi internasional adalah bulan tambahan bagi sistem itu untuk mengonsumsi lebih banyak plot tanah Palestina.
Keempat — dan yang paling pedih: rakyat Palestina sebagai bangsa secara struktural diabaikan dari kerangka diplomatik yang sedang dibangun. Tidak ada poin di daftar AS maupun Iran yang menyebutkan kemerdekaan Palestina, pengakuan negara Palestina, akhir blokade Gaza, pembebasan tahanan politik, atau hak kembali pengungsi. Yang ada hanya “Hamas” sebagai variabel yang harus dikendalikan, didukung, atau dilucuti — tetapi tidak pernah “Palestina” sebagai bangsa yang harus dimerdekakan. Inilah luka yang paling dalam: Palestina sebagai bangsa telah dihapus dari kosakata negosiasi besar.
Yang Tersisa untuk Kita Lakukan
Apa yang dapat dilakukan oleh seseorang di Jakarta, Surabaya, atau Makassar yang membaca dua dokumen tuntutan ini dan menyadari bahwa Palestina sebagai bangsa telah dihapus dari kalkulasi mereka?
Pertama, tolak narasi bahwa “gencatan senjata AS-Iran sama dengan perdamaian di Gaza.” Setiap kesepakatan yang ditandatangani tanpa mencantumkan kemerdekaan Palestina secara eksplisit adalah pengakuan diam-diam bahwa rakyat Palestina dapat diabaikan dari arsitektur perdamaian regional. Pers Indonesia harus terus menekankan: tidak ada perdamaian Timur Tengah sejati tanpa keadilan struktural bagi Palestina, dan tidak ada keadilan struktural tanpa pengakuan kemerdekaan negara Palestina dengan ibu kota di Yerusalem.
Kedua, perkuat dukungan diplomatik Indonesia untuk menempatkan kemerdekaan Palestina sebagai isu yang tidak terpisah dari diskusi regional. Diplomasi Menteri Luar Negeri Sugiono harus konsisten menempatkan ini di setiap forum bilateral dan multilateral. Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia memiliki bobot yang dapat dipakai untuk mendesak negara-negara mediator seperti Pakistan, Mesir, Turki, dan Qatar memasukkan klausul Palestina dalam setiap negosiasi besar di kawasan.
Ketiga, lanjutkan dukungan langsung kepada infrastruktur kemanusiaan Gaza. Sementara kalkulasi geopolitik bergulir di Islamabad, kebutuhan dasar dua juta penduduk Gaza tetap berlanjut setiap hari. Lembaga seperti BAZNAS, Dompet Dhuafa, MER-C, dan Rumah Zakat memiliki kapasitas teruji menyalurkan bantuan langsung. Setiap rupiah yang masuk adalah pernyataan bahwa nasib Palestina tidak sepenuhnya bergantung pada kalkulasi Vance, Witkoff, Kushner, atau Araqchi di Islamabad.
Pada hari Sabtu tanggal 11 April 2026 di ruang konferensi tertutup Islamabad, delapan orang berkemampuan penuh duduk di meja yang sama untuk merundingkan masa depan kawasan yang dihuni oleh lebih dari empat ratus juta orang. JD Vance. Steve Witkoff. Jared Kushner. Mohammad Bagher Ghalibaf. Abbas Araqchi. Shehbaz Sharif. Asim Munir. Ishaq Dar. Delapan nama. Delapan paspor. Tiga delegasi. Tetapi tidak satu pun dari mereka membawa paspor Palestina.
Pada hari yang sama, di tenda darurat di Khan Younis di Jalur Gaza, seorang ibu yang baru saja kehilangan suaminya dalam serangan udara rezim Zionis tiga minggu sebelumnya berdiri di hadapan kompor minyak tanah untuk merebus air bagi keempat anaknya. Ia tidak tahu bahwa dua dokumen sedang dirundingkan di Islamabad yang akan menentukan masa depannya. Ia tidak tahu bahwa nama “Hamas” muncul di kedua dokumen tetapi nama “Palestina” tidak muncul di salah satu pun. Ia hanya tahu air harus direbus, anak harus diberi makan, hari ini harus dilalui.
Inilah yang akhirnya akan menentukan masa depan Palestina. Bukan dokumen lima belas poin Trump. Bukan dokumen sepuluh poin Iran. Bukan tanda tangan yang mungkin atau mungkin tidak diberikan di Islamabad pada minggu-minggu mendatang. Yang akan menentukan adalah kesabaran ibu-ibu Palestina yang setiap pagi merebus air untuk anak-anak mereka di tenda-tenda darurat, ayah-ayah yang masih membersihkan reruntuhan untuk mencari peninggalan keluarga, dan kakek-nenek yang masih menyimpan kunci rumah mereka dari Nakba 1948 sebagai janji bahwa mereka suatu hari akan pulang.
Pertanyaan yang harus kita ajukan, sebelum dua tanda tangan dibubuhkan di atas dua dokumen yang tidak memiliki kata “Palestina” di dalamnya, sederhana sekali: jika dua negara besar dapat duduk di satu meja untuk merundingkan masa depan kawasan tanpa mengundang satu pun perwakilan Palestina, apa yang membuat kita berpikir bahwa kesepakatan apa pun yang mereka hasilkan akan membawa perdamaian sejati bagi mereka yang paling kehilangan dalam permainan mereka? (IW)


