BENGHAZI – Gelombang aksi solidaritas internasional terus menguat menyusul penahanan 11 relawan kemanusiaan yang tergabung dalam misi Global Sumud Land Convoy di Libya. Aktivis dari sedikitnya 13 negara kini menggelar aksi mogok makan global untuk menuntut pembebasan segera para relawan yang ditahan tanpa proses hukum yang jelas.
Dalam pernyataan resminya, Koalisi Global Sumud menyebut situasi para relawan semakin mengkhawatirkan setelah 10 orang di antaranya memasuki hari ketujuh aksi mogok makan kering (dry hunger strike) yang dimulai sejak 1 Juni 2026. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes terhadap penahanan, perlakuan yang mereka alami, serta tidak adanya akses terhadap bantuan hukum.
“Para relawan kini menghadapi risiko serius terhadap kesehatan mereka, termasuk kemungkinan gagal organ dan ancaman kematian apabila tidak segera dilakukan intervensi diplomatik,” demikian pernyataan yang disampaikan koalisi tersebut.
Sebagai bentuk dukungan terhadap para relawan yang ditahan, puluhan aktivis dari berbagai negara di lima benua turut melakukan mogok makan solidaritas. Peserta aksi berasal dari Kanada, Spanyol, Italia, Amerika Serikat, Afrika Selatan, dan sejumlah negara lainnya.
Selain aksi mogok makan, demonstrasi juga digelar di depan kedutaan besar Libya dan kantor kementerian luar negeri di berbagai negara. Para peserta aksi mendesak pemerintah masing-masing untuk meningkatkan tekanan diplomatik terhadap otoritas Libya agar segera membebaskan seluruh relawan yang ditahan.
Menurut Global Sumud Coalition, krisis ini bermula pada 19 Mei 2026 ketika seorang relawan kemanusiaan bernama Mehdi Bouzguenda dilaporkan ditangkap saat dalam perjalanan kembali ke Tunisia setelah mengikuti kegiatan konvoi kemanusiaan.
Lima hari kemudian, tepatnya pada 24 Mei, sepuluh relawan lainnya yang bertindak sebagai negosiator resmi Global Sumud Land Convoy dilaporkan ditahan di dekat Sirte. Mereka kemudian dipindahkan secara paksa ke fasilitas penahanan di Benghazi.
Pada 1 Juni, sepuluh relawan tersebut memulai aksi mogok makan kering sebagai bentuk protes atas penahanan yang mereka sebut tidak sah serta penolakan akses terhadap penasihat hukum.
Memasuki 7 Juni, aksi mogok makan tersebut telah berlangsung selama tujuh hari dan kondisi kesehatan para relawan disebut semakin kritis.
Dokter, Jurnalis dan Pembela HAM
Sebelas relawan yang ditahan berasal dari berbagai negara dan latar belakang profesi. Mereka terdiri dari dokter, pendidik, jurnalis, aktivis kemanusiaan, dan pembela hak asasi manusia.
Mereka adalah Achraf Khoja, Lucas Ezequiel Aguilera, Maria Paula Giménez, Ana Margarida França Santana Baptista, Domenico Centrone, Leonarda “Dina” Alberizia, Jenelle Jones, Matías Álvarez, Laura Kwoczała-Alsubaih, Alicia Armesto, serta Mehdi Bouzguenda.
Koalisi Global Sumud menegaskan bahwa para relawan tersebut datang ke Afrika Utara untuk menjalankan misi kemanusiaan dan menunjukkan solidaritas terhadap warga Gaza yang selama ini hidup di bawah blokade dan krisis kemanusiaan berkepanjangan.
Keluarga para relawan bersama Koalisi Global Sumud mendesak pemerintah negara asal para relawan, termasuk Tunisia, Argentina, Portugal, Italia, Amerika Serikat, Uruguay, Polandia, Spanyol, dan Kanada, agar segera meningkatkan upaya diplomatik guna memastikan pembebasan tanpa syarat terhadap seluruh tahanan.
Mereka mengajukan tiga tuntutan utama, yakni pembebasan segera dan tanpa syarat terhadap 11 relawan kemanusiaan, pemberian akses konsuler tanpa hambatan serta pemeriksaan kesehatan independen, dan dibukanya jalur komunikasi antara para tahanan dengan keluarga maupun penasihat hukum mereka.
Koalisi tersebut menilai penahanan para relawan merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengkriminalisasi gerakan solidaritas terhadap Palestina di berbagai negara.
“Upaya ini bertujuan membungkam aktivisme dan tuntutan atas kebebasan serta hak-hak rakyat Palestina,” demikian pernyataan mereka.
Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat tanggapan resmi dari otoritas Libya terkait tuntutan pembebasan para relawan maupun kondisi mereka selama masa penahanan. (cky)


