HomeAnalisis dan OpiniAnalisaAnalisis – Ketika Bom Justru Mempersatukan: Bagaimana Perang Mengubah Wajah Iran, dan...

Analisis – Ketika Bom Justru Mempersatukan: Bagaimana Perang Mengubah Wajah Iran, dan Apa Artinya bagi Gaza

Empat bulan setelah kehilangan pemimpin tertingginya dalam serangan kilat Amerika Serikat dan rezim Zionis, Iran yang diramalkan bakal runtuh justru menggelar pemakaman kenegaraan terbesar dalam sejarah modernnya — dihadiri delegasi dari lebih seratus negara. Inilah kisah tentang bagaimana empat asumsi Barat tentang Iran runtuh satu per satu, dan apa artinya bagi Gaza yang masih menunggu di reruntuhan.

Jumat pagi, 3 Juli 2026, televisi pemerintah Iran menyiarkan pemandangan yang empat bulan lalu nyaris mustahil dibayangkan: iring-iringan mobil diplomatik memasuki Kompleks Mosalla Imam Khomeini di Teheran, membawa utusan dari lebih seratus negara untuk memberi penghormatan terakhir kepada Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Ia gugur bersama sejumlah anggota keluarganya — termasuk cucu perempuannya yang masih bayi — dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan rezim Zionis pada 28 Februari 2026, serangan yang dalam hitungan jam meluluhlantakkan ratusan target militer dan menewaskan ribuan personel Korps Garda Revolusi Islam. Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev hadir mewakili Presiden Vladimir Putin. Delegasi tinggi Tiongkok, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, presiden dan perdana menteri dari Asia Tengah hingga Afrika, serta ulama Palestina dan petinggi Hizbullah turut berdiri di antara jutaan pelayat. Sebuah negara yang diprediksi akan ambruk oleh tekanan internal justru menggelar salah satu upacara kenegaraan terbesar yang pernah disaksikan Iran modern.

Pertanyaannya sederhana namun mengganggu: bagaimana mungkin sebuah rezim yang kehilangan pemimpin tertingginya dalam serangan kejutan, yang selama bertahun-tahun digambarkan media Barat sebagai isolasionis dan rapuh, justru keluar dari puing-puing perang dengan legitimasi internal yang tampak menguat dan peta aliansi yang justru melebar? Artikel ini menelusuri empat asumsi yang runtuh satu demi satu sepanjang perang 2026 — soal generasi muda, soal isolasi, soal kekuatan militer, dan soal siapa yang sesungguhnya memulai — sebelum sampai pada pertanyaan yang paling penting bagi kita: apa artinya semua ini bagi Gaza, yang tetap terkurung di bawah reruntuhan sementara dunia sibuk menyaksikan drama di Teheran.

Kita perlu jujur sejak awal: apa yang terjadi di Iran bukan dongeng sederhana tentang rakyat yang tiba-tiba jatuh cinta pada rezimnya. Ia jauh lebih rumit — campuran trauma kolektif, ketakutan, kalkulasi bertahan hidup, dan solidaritas defensif yang dipicu ancaman dari luar. Namun kerumitan itu sendiri adalah bantahan telak atas narasi yang selama ini dijual: bahwa satu serangan kejutan sudah cukup untuk meruntuhkan Republik Islam dari dalam.

Generasi yang Tak Pernah Mengenal Perang, Kini Menopangnya

Bagi generasi muda Iran yang lahir setelah perang Iran-Irak berakhir pada 1988, perang 2026 adalah pengalaman pertama mereka menyaksikan langit kota sendiri dihujani rudal. Mina, perempuan berusia 20-an di Teheran, terpaksa mengungsi ke Rasht di utara setelah depo minyak Shahran dibom dan apartemennya bergetar hingga ke pintu depan. Sahar, juga berusia 20-an, memilih bertahan di Teheran sembari mengaku kreativitasnya justru meningkat di tengah tekanan — ia membangun “rumah yang lebih indah” dalam permainan simulasi kehidupan untuk menghindari kenyataan di luar jendela. Shima harus membeli akses Starlink dengan harga mahal dari pihak yang bisa dipercaya, di tengah pemadaman internet yang menurut lembaga pemantau NetBlocks sempat menyisakan konektivitas hanya sekitar satu persen dari kondisi normal.

Media Barat seperti New York Times, Reuters, dan Radio Free Europe/Radio Liberty sendiri mendokumentasikan sesuatu yang mengejutkan banyak pengamat: aksi unjuk rasa pro-pemerintah di berbagai kota, warga mengibarkan bendera Republik Islam dan memegang potret Khamenei sebagai bentuk protes atas serangan Amerika Serikat dan rezim Zionis. Para akademisi menyebut fenomena ini rally around the flag effect — kecenderungan publik mengesampingkan perpecahan internal dan merapatkan barisan di belakang pemerintah ketika menghadapi ancaman dari luar, pola yang sama pernah terlihat pada Inggris era Thatcher saat perang Falkland maupun Rusia di awal invasi Ukraina 2022.

Iran yang diramalkan akan runtuh dalam hitungan hari oleh tekanan dari dalam, justru menggelar pemakaman kenegaraan yang diperkirakan dihadiri hingga dua puluh juta pelayat.

Kita tidak perlu naif membaca ini sebagai dukungan tunggal dan permanen. Di balik solidaritas yang tampak di permukaan, inflasi tinggi, pengangguran, dan depresiasi mata uang tetap menggerogoti kepercayaan publik yang sudah lama retak akibat gelombang protes nasional beberapa tahun terakhir. Sebagian pengamat bahkan memperkirakan generasi muda inilah yang justru berpotensi melahirkan oposisi baru yang lebih adaptif, memindahkan gerakan ke jaringan digital dan diaspora yang lebih sulit dipetakan aparat. Tetapi untuk saat ini, di tengah ancaman eksternal yang nyata dan mendadak, kalkulasi kolektif generasi muda Iran bergeser: stabilitas jangka pendek dan solidaritas nasional lebih diutamakan ketimbang tuntutan perubahan politik yang tertunda.

Dari Terisolasi ke Diserbu Pelayat Dunia

Narasi yang dijual bertahun-tahun oleh Washington dan sekutunya adalah bahwa Iran, di bawah rezim sanksi “tekanan maksimum” yang dihidupkan kembali Presiden Donald Trump, adalah negara terisolasi yang kian ditinggalkan dunia. Pemakaman Khamenei membantah narasi itu secara telanjang. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut delegasi dari lebih seratus sepuluh negara dijadwalkan hadir dalam rangkaian pemakaman enam hari yang dimulai 3 Juli dan berpuncak di Kompleks Makam Imam Reza, Mashhad, pada 9 Juli 2026.

Yang datang bukan sekadar simbolis. Dari Rusia hadir Dmitry Medvedev sebagai utusan khusus Putin. Dari Tiongkok, Wakil Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional He Wei. Presiden Tajikistan Emomali Rahmon, Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan, Presiden Kurdistan Irak Nechirvan Barzani, hingga pemimpin Turkmenistan Gurbanguly Berdimuhamedow turut berdiri di antara pelayat. Dari dunia Arab, Qatar dan Arab Saudi mengirim perwakilan tingkat wakil menteri, sementara Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif — negara yang menjadi mediator utama gencatan senjata — datang bersama Ketua Senat Yousaf Raza Gillani dan Panglima Angkatan Darat Asim Munir. Delegasi Afghanistan di bawah Taliban, Bangladesh, India, Malaysia, Myanmar, hingga Sekretaris Jenderal Organisasi Kerja Sama Islam dan Organisasi Kerja Sama Shanghai turut hadir. Dari front perlawanan Palestina, ulama Al-Quds, Ziyad al-Nakhalah dari Jihad Islam Palestina, serta petinggi Hizbullah berdiri di barisan yang sama.

Yang absen justru lebih menegaskan peta baru ini: tidak ada satu pun kepala negara atau kepala pemerintahan dari Amerika Serikat maupun Eropa Barat yang datang, dan sejumlah negara Barat bahkan tidak mengirim delegasi tingkat tinggi sama sekali. Ironi ini tak bisa disembunyikan — negara yang digambarkan Washington sebagai buronan yang dijauhi dunia, justru menyaksikan separuh dunia lainnya berbondong-bondong datang ke Teheran, sementara para arsitek serangan 28 Februari memilih berdiam di rumah.

Ketika Washington dan sekutu Baratnya memilih absen, separuh dunia lainnya justru berbondong-bondong datang ke Teheran untuk memberi penghormatan.

Mitos Militer Lemah yang Retak di Hadapan Fakta

Tidak ada yang bisa membantah betapa dahsyatnya pukulan pertama. Dalam dua belas jam pertama Operasi Epic Fury, militer Amerika Serikat melancarkan hampir sembilan ratus serangan, sementara Angkatan Udara rezim Zionis mengklaim menghantam lima ratus target dalam sortie tempur terbesar dalam sejarahnya, menjatuhkan lebih dari seribu dua ratus bom dalam dua puluh empat jam. Khamenei dan ribuan personel Korps Garda Revolusi Islam gugur sebagai syuhada dalam gelombang pertama serangan itu — termasuk warga sipil, seperti hampir seratus tujuh puluh orang yang tewas ketika sebuah sekolah perempuan di dekat pangkalan laut Minab, Bandar Abbas, turut menjadi sasaran.

Namun narasi “kemenangan cepat” yang diharapkan Washington tidak pernah terwujud sepenuhnya. Iran membalas dengan gelombang rudal dan drone ke wilayah pendudukan rezim Zionis, pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan, serta negara-negara Teluk yang dianggap bersekutu dengan Washington, sembari mengancam menutup Selat Hormuz — salah satu jalur minyak paling vital di dunia. Perang yang semula diperkirakan berlangsung singkat justru terus berlanjut dengan gencatan senjata yang berulang kali retak, hingga baru benar-benar diakhiri lewat nota kesepahaman yang ditandatangani Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada pertengahan Juni — hampir empat bulan setelah serangan pertama. Biaya perang bagi pembayar pajak Amerika Serikat ditaksir mencapai seratus tiga belas miliar dolar AS per pertengahan Juni. Sebuah negara yang disebut lemah tidak semestinya sanggup menyeret dua kekuatan militer terbesar dunia ke dalam konflik berlarut-larut selama itu.

Sabar Menunggu Diserang Lebih Dulu

Fakta kronologis juga layak diingat ulang di tengah gegap gempita pembenaran perang: sejak April 2025, Iran tengah menjalani perundingan nuklir dengan Washington, bahkan telah melalui Perang Dua Belas Hari pada Juni 2025 tanpa memulai lebih dulu serangan besar ke wilayah pendudukan. Ketika Trump di Pidato Kenegaraannya pada Februari 2026 menuduh Iran kembali membangun program nuklir dan rudal jarak jauh, langkah yang diambil bukan tuduhan lewat jalur diplomasi, melainkan otorisasi serangan kejutan pada 27 Februari malam waktu Washington — di tengah bulan suci Ramadan, dan di tengah proses negosiasi yang masih berjalan. Iran, dengan kata lain, berada di posisi yang menunggu untuk diserang lebih dulu, bukan pihak yang memulai.

Sejarah mencatat siapa yang menunggu dan siapa yang menyerang lebih dulu — sebuah fakta yang sering hilang di tengah gegap gempita pembenaran perang.

Duka Sebagai Perekat Kolektif

Ada sesuatu yang universal dalam cara sebuah bangsa berduka bersama. Otoritas Iran memperkirakan upacara pemakaman di Teheran saja akan dihadiri lebih dari sepuluh juta orang, dengan proyeksi lain menyebut angka hingga dua puluh juta jika dihitung sepanjang enam hari prosesi yang melintasi Teheran, Qom, kota-kota suci di Irak, hingga berakhir di Mashhad. Peti jenazah Khamenei dibalut bendera Iran, ditempatkan berdampingan dengan peti-peti kecil anggota keluarganya yang turut gugur dalam serangan Februari — termasuk cucu perempuannya yang masih bayi. Bagi banyak warga Iran yang selama berbulan-bulan hidup dengan pemadaman internet, sirene serangan udara, dan langit yang menghitam akibat kobaran depo minyak, prosesi ini menjadi ruang kolektif pertama untuk berduka secara terbuka sejak perang meletus.

Efek Riak ke Gaza: Ketika Perang Iran Justru Menutup Pintu Rafah

Inilah pertanyaan yang paling penting bagi kita di Indonesia: apa artinya kebangkitan simbolis Iran ini bagi Gaza, yang hingga hari ini masih terkurung di bawah blokade dan reruntuhan? Kehadiran Ziyad al-Nakhalah dari Jihad Islam Palestina serta ulama Al-Quds dalam pemakaman Khamenei adalah penegasan bahwa poros perlawanan — Iran, Hizbullah, faksi-faksi Palestina — tetap merapatkan barisan meski pemimpin simbolisnya telah gugur sebagai syuhada. Ini adalah pesan politik yang jelas: solidaritas terhadap Al-Quds dan anak-anak Palestina di Gaza tidak padam hanya karena kepemimpinan Teheran berganti ke tangan Mojtaba Khamenei.

Namun kita perlu jujur pada sisi lain dari koin ini, dan di sinilah dampaknya bukan lagi sekadar spekulasi geopolitik, melainkan fakta yang sudah terjadi di lapangan. Pada 8 Juni 2026, di tengah rentetan serangan rudal Iran ke wilayah pendudukan rezim Zionis, otoritas pendudukan menutup seluruh titik penyeberangan ke Gaza dan menghentikan pengiriman bantuan kemanusiaan, dengan dalih keamanan akibat perang Iran. Padahal sebelum penutupan itu pun, jumlah truk bantuan yang diizinkan masuk sudah jauh dari cukup — hanya sekitar seratus lima puluh hingga dua ratus lima puluh truk per hari, jauh di bawah enam ratus truk yang menjadi kebutuhan minimal warga Gaza untuk sekadar bertahan hidup layak. Dengan kata lain, perang yang membuat Iran tampak bangkit di Teheran, pada saat yang sama dipakai rezim Zionis sebagai alasan untuk semakin mempersempit ruang hidup warga Gaza.

Pada 8 Juni 2026, di tengah rudal Iran melintasi langit wilayah pendudukan, pintu-pintu Rafah justru ditutup rapat — dan yang membayar harganya adalah anak-anak Gaza, bukan Teheran maupun Tel Aviv.

Angka-angkanya menolak untuk diabaikan. Kantor berita Anadolu mencatat total korban tewas akibat perang sejak Oktober 2023 telah mencapai tujuh puluh tiga ribu tiga puluh dua jiwa per 22 Juni 2026. UNICEF melaporkan sedikitnya dua ratus enam puluh lima anak Palestina gugur sebagai syuhada sejak gencatan senjata diumumkan — rata-rata satu anak per hari selama lebih dari delapan bulan, di masa yang semestinya disebut “masa damai”. Sekitar enam ratus enam puluh ribu anak usia sekolah tidak bisa mengenyam pendidikan untuk tahun ketiga berturut-turut, sementara Komisi Penyelidikan Independen Internasional PBB untuk Wilayah Pendudukan Palestina menyimpulkan bahwa kekerasan terhadap anak-anak Palestina di Gaza terus berlangsung secara sistematis bahkan setelah gencatan senjata Oktober 2025. Di tengah semua ini, Badan Perdamaian atau Board of Peace yang dijanjikan sejumlah negara belum juga mencairkan sepeser pun dari total pledge tujuh belas miliar dolar AS, sementara sistem digital aneksasi di Tepi Barat justru diluncurkan bertepatan dengan Iduladha akhir Mei lalu.

Di sinilah letak kerentanan yang harus kita waspadai bersama: ketika perhatian global bergeser total ke drama geopolitik di Teheran, krisis yang lebih lama dan lebih dalam di Gaza kehilangan momentum sorotan internasional — pada saat yang sama, penutupan Rafah membuktikan bahwa Gaza dan Iran, disadari atau tidak, kini terikat dalam nasib yang sama: menjadi sandera dari kalkulasi geopolitik kekuatan-kekuatan besar.

Yang Tersisa untuk Kita Lakukan

  1. Salurkan bantuan langsung ke Gaza, bukan sekadar simbolis. Dengan hanya seratus lima puluh hingga dua ratus lima puluh truk bantuan yang diizinkan masuk per hari — jauh dari kebutuhan minimal enam ratus truk — dukungan konkret lewat zakat, infak, dan bantuan darurat melalui lembaga dengan jalur distribusi terverifikasi seperti INH, Sahabat Al-Aqsha, MER-C, Adara Foundation, BAZNAS, dan Dompet Dhuafa menjadi jauh lebih berarti daripada solidaritas di media sosial semata.
  2. Kawal isu ini secara kritis, bukan sekadar euforia geopolitik. Ikuti analisis hukum internasional dari akademisi seperti Hikmahanto Juwana dan Heribertus Jaka Triyana, serta pemantauan hak asasi manusia dari Usman Hamid dan Amnesty International Indonesia, agar solidaritas kita berpijak pada data dan argumen yang kokoh — termasuk terus menagih realisasi janji pendanaan Board of Peace yang hingga kini belum cair — bukan sekadar reaksi emosional sesaat.
  3. Jaga agar sorotan pada Gaza tidak ikut meredup bersama beralihnya berita utama dunia. Manfaatkan momentum perhatian publik terhadap Iran untuk terus mengangkat data konkret tentang anak-anak Palestina di Gaza — termasuk lebih dari enam ratus enam puluh ribu anak yang kehilangan pendidikan — dalam diskusi, mimbar, dan ruang publik kita, agar penutupan pintu Rafah pada 8 Juni tidak berlalu tanpa desakan balik dari kita di Indonesia.

Penutup: Pertanyaan yang Menggantung

Generasi muda Iran yang dulu tidak pernah mengenal deru sirene serangan udara, kini justru menjadi tulang punggung yang menopang negaranya melewati bulan-bulan tergelap dalam sejarah modernnya. Iran yang dulu digambarkan terisolasi dan ditinggalkan dunia, kini menyaksikan delegasi dari lebih seratus negara berbaris memberi penghormatan di Teheran. Iran yang dulu dianggap akan tunduk dalam hitungan hari, justru menyeret dua kekuatan militer terbesar dunia ke dalam konflik yang berlarut hingga hampir empat bulan. Dan Iran yang dituduh agresif, pada kenyataannya adalah pihak yang menunggu untuk diserang lebih dulu.

Empat asumsi ini runtuh satu demi satu di hadapan fakta yang tidak bisa disangkal siapa pun yang mau melihatnya jernih. Tetapi di tengah kita merayakan atau sekadar mencatat keruntuhan asumsi-asumsi itu, ada satu pertanyaan yang tidak boleh kita lupakan: sementara dunia berbondong-bondong datang ke Teheran untuk berduka bagi satu pemimpin yang gugur, siapa yang masih benar-benar menghitung hari demi hari penderitaan anak-anak Palestina di reruntuhan Gaza — dan akankah solidaritas yang kita saksikan di pemakaman itu benar-benar sampai ke tangan mereka yang paling membutuhkannya? (IW)

ARTIKEL TERKAIT

Terpopuler