Oleh: Negar Mojtahedi
Hamas menyatakan mundur dari pemerintahan Gaza. Namun, apakah kelompok itu benar-benar melepaskan kekuasaan atau berpaling dari sekutu lamanya di Teheran?
Pengumuman Hamas, mereka membubarkan badan pemerintahan yang mengelola Gaza selama hampir dua dekade dipandang sebagai konsesi politik penting dalam peta jalan yang didukung Amerika Serikat untuk masa depan wilayah tersebut.
Namun, para analis yang diwawancarai Iran International menilai langkah itu lebih bersifat kosmetik. Struktur militer Hamas tetap utuh dan hubungan jangka panjang kelompok tersebut dengan Iran tidak mengalami perubahan berarti.
Menurut mereka, Iran bukan meninggalkan Hamas, melainkan hanya mengubah prioritasnya dengan menempatkan Hizbullah dan Lebanon di posisi lebih penting dibanding Gaza, sembari tetap menjaga hubungan dengan Hamas secara diam-diam.
“Ini bahkan bukan simbolis, ini kebohongan,” kata Beni Sabti, peneliti Iran di Institute for National Security Studies (INSS). “Persoalan utamanya bahkan bukan soal pelucutan senjata. Ideologinya masih tetap ada.”
Pengumuman tersebut memang membubarkan badan pemerintahan sipil Hamas, tetapi tidak menjawab apakah kelompok itu bersedia menyerahkan senjata dan melepaskan kendali atas aparat keamanan di Gaza.
Bagi Sabti, justru di situlah inti persoalannya.
“Iran bekerja di balik layar, termasuk untuk Hamas,” ujarnya.
Hubungan dengan Teheran Masih Berjalan
Perkembangan terbaru menunjukkan hubungan Hamas dan Iran tetap aktif meski retorika publik Teheran terdengar lebih tenang.
Sebelum memorandum Iran-AS ditandatangani, juru bicara militer Hamas mengatakan para pejabat Iran berjanji membantu mewujudkan gencatan senjata di Gaza.
Perwakilan Hamas juga menghadiri pemakaman Ali Khamenei di Teheran dan bertemu sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf.
Menurut Sabti, kontak tersebut menunjukkan Iran tidak mengubah strategi jangka panjangnya. Teheran hanya menyusun ulang prioritas sementara.
“Hizbullah adalah yang paling penting,” katanya, seraya menegaskan Iran secara historis tidak pernah meninggalkan kelompok-kelompok proksinya.
Tekanan Politik terhadap Hamas
Pengumuman Hamas juga muncul di tengah tekanan yang semakin besar.
Kelompok itu menghadapi proses politik masa depan Gaza yang didukung Amerika Serikat, tekanan berkelanjutan dari Mesir dan Qatar, meningkatnya persaingan politik dari Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas.
Analis Timur Tengah dari ISGAP, Dalia Ziada, menilai pengumuman Hamas dibuat untuk merespons tekanan tersebut tanpa memberikan konsesi utama yang dituntut Israel dan sebagian besar komunitas internasional.
“Mereka dipaksa mengatakan sesuatu, bukan melakukan sesuatu,” ujarnya.
Menurut Ziada, Hamas belum menyetujui pelucutan senjata, pembubaran sayap militernya, maupun penghapusan jaringan loyalis yang tersebar di berbagai lembaga sipil Gaza.
“Komunitas internasional memperlakukan Hamas sebagai entitas politik. Padahal tidak. Ini adalah milisi perlawanan,” katanya.
Hamas Tetap Menjadi Mitra Instrumen Iran
Mantan pejabat intelijen Israel, Avi Melamed, juga menilai pengumuman Hamas tidak dapat dianggap sebagai penyerahan kekuasaan yang sesungguhnya.
“Saya rasa tidak ada yang benar-benar menganggapnya serius,” katanya.
Menurut Melamed, Iran memandang Hamas sebagai mitra strategis, bukan sekadar mitra ideologis.
“Hubungan itu selalu jelas. Hamas adalah mitra yang berguna bagi rezim Iran.”
Ia menambahkan, bagi Teheran, Hizbullah tetap menjadi aset paling berharga dalam jaringan regionalnya, sementara Hamas berada satu tingkat di bawahnya.
“Hamas dan Jihad Islam mengetahui posisi mereka dalam rantai tersebut,” ujar Melamed.
Hierarki itulah, menurutnya, yang menjelaskan mengapa Lebanon mendapat perhatian utama dalam memorandum Iran-AS, dan tidak meninggalkan Gaza.
Perubahan Substantif
Pengumuman Hamas mungkin dapat mengurangi tekanan diplomatik dan membuka ruang bagi perundingan mengenai masa depan Gaza.
Namun, tanpa pelucutan senjata, para analis menilai langkah tersebut tidak banyak mengubah keseimbangan kekuatan di lapangan.
Hamas mungkin mundur dari pemerintahan sipil Gaza, tetapi struktur militernya tetap utuh. Dan meskipun Teheran kini lebih banyak diam di ruang publik, hanya sedikit pihak yang memperkirakan hubungan Iran dengan Hamas akan benar-benar berakhir.

