GAZA – Tentara Israel membangun penghalang darat di dalam Jalur Gaza yang membentang ratusan meter yang disebut sebagai “garis kuning” di dua lokasi, demikian dilaporkan harian Israel Haaretz pada Rabu (22/7), lapor Anadolu.
Garis kuning merupakan batas wilayah tempat tentara Israel seharusnya mundur berdasarkan fase pertama rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menghentikan genosida Israel terhadap warga Palestina di Gaza.
Mengutip hasil investigasi yang didasarkan pada citra satelit terbaru, Haaretz melaporkan  penghalang tersebut terutama terdiri atas tanggul tanah dan parit, serta telah memperluas wilayah yang berada di bawah kendali tentara Israel hingga mencapai 65 persen dari luas Jalur Gaza.
Setelah mengumumkan penarikan pasukan ke garis kuning pada Oktober 2025, militer Israel menyatakan  mereka menguasai 53 persen wilayah Gaza.
Menurut surat kabar tersebut, jalur penghalang itu di beberapa bagian membentang ratusan meter melewati garis kuning hingga memasuki wilayah yang saat gencatan senjata diumumkan ditetapkan berada di bawah kendali Hamas.
Di salah satu titik di Gaza selatan, penghalang tersebut melintasi garis kuning sejauh lebih dari satu kilometer, tulis Haaretz.
Laporan itu menyebutkan  tentara Israel telah bekerja selama berbulan-bulan untuk membangun penghalang yang membentang beberapa kilometer di dalam Jalur Gaza.
Pada awalnya, penghalang itu dibangun tepat di sepanjang garis kuning, dengan penyimpangan terdalam ke wilayah yang ditetapkan berada di bawah kendali Hamas mencapai 180 meter, menurut surat kabar tersebut.
Namun, citra satelit yang diambil Planet Labs pada Juli menunjukkan  kini penghalang tersebut telah membentang ratusan meter melewati garis kuning di dua lokasi di Gaza selatan.
Di Khan Younis, sebagian penghalang membentang sekitar 400 meter melewati garis kuning di sepanjang Jalan Salah al-Din, jalur utama yang menghubungkan Gaza utara dan selatan.
Sementara di Rafah, penghalang tersebut melintasi garis kuning sejauh sekitar 1.300 meter pada salah satu titik, menurut Haaretz.
Meski gencatan senjata telah berlaku, tentara Israel terus melancarkan serangan harian di Gaza yang menewaskan sedikitnya 1.168 warga Palestina dan melukai 3.798 lainnya, berdasarkan data Kementerian Kesehatan Gaza.
Sejak genosida Israel dimulai pada 8 Oktober 2023, hampir 73.300 warga Palestina telah terbunuh dan 174.000 lainnya terluka, sementara sekitar 90 persen infrastruktur sipil di Gaza mengalami kerusakan atau hancur.


