GAZA – Kementerian Kesehatan Gaza memperingatkan sistem kesehatan di Jalur Gaza semakin mendekati titik kolaps setelah pasukan Israel menghancurkan gudang obat di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa, di tengah krisis parah kekurangan obat-obatan dan perlengkapan medis, lapor Anadolu pada Sabtu (1/8).
Sebelumnya pada hari yang sama, kementerian menyatakan tentara Israel menghancurkan dua gudang yang berisi obat-obatan esensial dan perlengkapan medis serta menyebabkan kerusakan berat pada dua gudang lainnya dalam serangan terhadap fasilitas penyimpanan di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Deir al-Balah.
Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Munir Al-Bursh, mengatakan kepada Anadolu serangan Israel tidak lagi hanya menyasar pasien, tenaga medis, dan rumah sakit, tetapi kini juga menargetkan gudang penyimpanan obat-obatan.
“Pendudukan Israel menargetkan gudang obat milik departemen ginjal yang berada di belakang gedung rawat jalan Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa, setelah sebelumnya mengeluarkan peringatan. Gudang tersebut hancur total,” ujarnya.
Al-Bursh menjelaskan serangan itu terjadi ketika sektor kesehatan Gaza sudah mengalami kekurangan 51 persen obat-obatan esensial dan 59 persen bahan medis habis pakai, sementara 22,5 persen peralatan laboratorium tidak dapat digunakan akibat tidak tersedianya suku cadang.
Ia menyebut serangan tersebut sebagai “pukulan langsung terhadap sisa-sisa jalur kehidupan yang masih bertahan di rumah sakit.”
Al-Bursh memperingatkan penghancuran gudang obat akan memperdalam krisis kemanusiaan, mempercepat runtuhnya sistem layanan kesehatan, serta merampas hak ribuan pasien untuk memperoleh pengobatan.
“Perang di sini tidak hanya menargetkan bangunan, tetapi juga obat-obatan, layanan kesehatan, dan kesempatan masyarakat untuk tetap hidup,” katanya.
Ia menyerukan agar gudang obat dan perlengkapan medis di Gaza dilindungi berdasarkan hukum humaniter internasional, yang melarang serangan terhadap fasilitas kesehatan maupun pasokan medis yang diperuntukkan bagi perawatan warga sipil.
Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa merupakan salah satu dari sedikit rumah sakit pemerintah yang masih beroperasi di Gaza setelah sebagian besar infrastruktur kesehatan di wilayah tersebut hancur akibat kampanye militer Israel yang dimulai pada 8 Oktober 2023.
Selama perang berlangsung, rumah sakit tersebut berulang kali menjadi sasaran serangan Israel yang mengakibatkan kerusakan pada bangunan serta menimbulkan korban di kalangan pasien dan tenaga medis.
Serangan terbaru ini terjadi ketika Israel terus memberlakukan blokade terhadap Jalur Gaza, menurut otoritas Palestina. Israel disebut belum memenuhi kewajibannya dalam perjanjian gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, termasuk membuka kembali perlintasan serta mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan, pangan, dan medis sesuai kesepakatan.
Menurut otoritas kesehatan Palestina, sejak Oktober 2023 lebih dari 73.000 warga Palestina telah terbunuh dan lebih dari 174.000 lainnya terluka, sementara sekitar 90 persen infrastruktur sipil Gaza telah hancur. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan biaya rekonstruksi wilayah tersebut mencapai sekitar 70 miliar dolar AS.


