GAZA MEDIA | Kolom Sejarah
GAZA CITY — Pada 15 Agustus 2005, Israel memulai penarikan seluruh warga sipil dan pasukan keamanannya dari Jalur Gaza. Dalam waktu kurang dari sepuluh hari, 21 permukiman Yahudi yang telah dibangun sejak awal 1970-an dikosongkan secara paksa. Peristiwa ini dikenal sebagai Hitnatkut — “Pelepasan Diri” — dan menjadi penarikan permukiman Israel pertama dan satu-satunya dari wilayah Palestina yang diduduki sejak 1967.
Gush Katif: Permukiman di Atas Gaza yang Diduduki
Kehadiran Israel di Gaza dimulai setelah Perang Enam Hari 1967. Pada 1970, pemerintah Golda Meir memutuskan mendirikan permukiman Nahal (unit militer-pertanian) di Jalur Gaza, dengan Kfar Darom sebagai yang pertama — dibangun kembali di atas lokasi permukiman Yahudi lama yang sempat dievakuasi saat Perang 1948.Kfar Darom pertama kali didirikan pada 1946 sebagai bagian dari Operasi Sebelas Titik di Negev, lalu dievakuasi pada 1948 saat Perang Kemerdekaan Israel, sebelum pemerintah Golda Meir memutuskan mendirikannya kembali bersama Netzarim pada 1970. Mkatif
Gagasan strategis di baliknya datang dari Yigal Allon, yang mengajukan pendirian dua permukiman Nahal di tengah Jalur Gaza pada 1968, dengan tujuan memutus kesinambungan wilayah antara permukiman Arab di utara dan selatan Gaza demi kepentingan keamanan Israel. Rencana ini kemudian berkembang menjadi lima “jari” permukiman yang menjangkau berbagai bagian Jalur Gaza.Permukiman Netzer Hazani, Katif, Kefar Darom, dan Ganei Tal dibangun di antara Deir al-Balah dan Khan Yunis, sementara Gan Or, Gadid, Bedolah, Atzmona, Morag, Pe’at Sadeh, dan Rafiah Yam dibangun di antara Khan Yunis dan Rafah. Sebagian besar permukiman berdiri sepanjang 1980-an, dengan Dugit sebagai yang terakhir pada 1990. AlchetronEncyclopedia.com
Pada puncaknya, kawasan yang dikenal sebagai Gush Katif ini dihuni oleh sekitar 8.000–8.500 pemukim — kurang dari dua persen dari total pemukim Israel di seluruh wilayah pendudukan — yang menguasai sekitar 18 persen luas Jalur Gaza seluas 365 kilometer persegi, sementara populasi Palestina yang jauh lebih padat berdesakan di sisa wilayahnya.
Keputusan Sharon dan Rencana Pemisahan Diri
Pada Desember 2003, Perdana Menteri Ariel Sharon mengumumkan niat Israel untuk menarik diri secara sepihak dari Gaza. Rencana ini disahkan kabinet pada Juni 2004 dengan tenggat evakuasi penuh sebelum akhir September 2005, dan disetujui Knesset pada Oktober 2004 dengan hasil pemungutan suara 67 berbanding 45.
Rencana Pemisahan Diri disusun tanpa koordinasi erat dengan Otoritas Palestina, meski belakangan sejumlah koordinasi teknis dilakukan menjelang pelaksanaannya — termasuk pelatihan sepuluh batalion polisi Otoritas Palestina oleh instruktur Mesir, Amerika Serikat, dan Eropa untuk mencegah penjarahan di area yang ditinggalkan. Pemerintah menawarkan paket kompensasi finansial bagi pemukim yang bersedia pindah secara sukarela, namun sebagian besar menolak hingga tenggat mendekat.
Delapan Hari yang Menentukan
Evakuasi resmi dimulai 15 Agustus 2005, setelah penyeberangan Qissufim ditutup pada tengah malam 14 Agustus dan surat perintah pengosongan dibagikan ke seluruh 21 permukiman. Saat tenggat 15 Agustus terlampaui, sekitar dua pertiga pemukim masih bertahan, sehingga militer memberi waktu tambahan sebelum mulai mengevakuasi paksa pada 17 Agustus.
Proses berlangsung lebih cepat dari perkiraan. Beberapa permukiman seperti Peat Sadeh dan Rafiah Yam kosong secara sukarela dalam beberapa hari pertama. Pada 18 Agustus, enam permukiman besar dievakuasi sekaligus, termasuk Neve Dekalim — permukiman terbesar di Gush Katif — dan Kfar Darom, yang paling lama bertahan secara historis. Sepanjang minggu itu, tentara Israel juga menewaskan lima anggota Jihad Islam dalam bentrokan terpisah di Gaza.
Sumber-sumber mencatat tanggal penyelesaian evakuasi pemukim secara sedikit berbeda — sebagian menyebut 22 Agustus, sebagian 23 Agustus, dan satu sumber menyebut 24 Agustus — namun seluruhnya sepakat bahwa proses pengosongan permukiman rampung dalam rentang waktu tersebut. Pembongkaran rumah dan bangunan berlanjut setelahnya menggunakan lebih dari 200 alat berat, sementara pasukan Israel resmi meninggalkan Jalur Gaza pada 12 September 2005, mengakhiri kehadiran militer langsung Israel di darat Gaza selama 38 tahun.
Berbeda dari kekhawatiran akan terjadi kekerasan besar antarwarga Israel sendiri, proses pemindahan berlangsung relatif tanpa kekerasan fisik berarti, meski diwarnai protes emosional dan aksi pembangkangan sipil dari kelompok penentang yang menganggap penarikan ini sebagai kapitulasi terhadap perlawanan Palestina.
Kekosongan yang Diperebutkan
Penarikan Israel tidak disertai penyerahan kendali penuh atas perbatasan kepada Otoritas Palestina. Pada akhir Agustus 2005, Knesset memutuskan menyerahkan pengawasan perbatasan Gaza-Mesir kepada personel keamanan Mesir, alih-alih mempertahankannya di tangan Israel seperti rencana semula. Sementara itu, Israel tetap menguasai wilayah udara, laut, serta sebagian besar titik penyeberangan darat Gaza — kendali yang kelak menjadi dasar status Gaza sebagai wilayah yang tetap berada di bawah pendudukan secara de facto, meski tanpa pemukim maupun pasukan darat permanen.
Rumah-rumah pemukim dihancurkan sebelum penyerahan, namun setelah perundingan internasional, sekitar 3.000 rumah kaca pertanian bekas milik pemukim dibiarkan utuh dan diserahkan untuk dimanfaatkan warga Palestina — sebuah simbol harapan ekonomi pascapenarikan yang sebagian besar gagal terwujud akibat blokade yang menyusul kemudian.
Kekosongan politik yang ditinggalkan penarikan sepihak ini turut membentuk jalannya sejarah Gaza berikutnya: kemenangan Hamas dalam pemilu legislatif Palestina Januari 2006, disusul pengambilalihan penuh Jalur Gaza oleh kelompok tersebut pada 2007, yang kemudian memicu blokade darat, laut, dan udara oleh Israel dan Mesir yang berlangsung hingga kini — dua dekade setelah pemukim terakhir meninggalkan Gush Katif.


