Di balik angka korban dan puing bangunan, ada satu bangsa yang dipaksa membangun kehidupan sehari-hari di atas trauma yang bahkan tak sempat disebut ‘pasca’ — sebab peristiwanya belum juga usai
Pada 16 Agustus 2026, jurnalis Hossam Shaker menulis laporan lapangan untuk Middle East Eye yang tidak dibuka dengan angka, melainkan dengan bunyi: dengungan pesawat nirawak Israel yang oleh warga Gaza dijuluki “zanana” — suara yang menemani anak-anak Jalur Gaza siang dan malam, nyaris sejak mereka pertama kali membuka mata ke dunia. Sejak serangan Israel dimulai pada Oktober 2023, menurut laporan itu, tidak sekali pun sirene peringatan dibunyikan di wilayah pendudukan ini — bukan karena kelalaian teknis, melainkan karena gagasan peringatan itu sendiri telah kehilangan makna ketika pengeboman berlangsung nyaris tanpa jeda dan tidak ada satu pun tempat yang benar-benar aman untuk dituju. Fragmen kecil ini — dengungan yang tak pernah berhenti, ketiadaan sirene, ketiadaan perlindungan — adalah pintu masuk untuk pertanyaan yang jauh lebih sulit dijawab dengan statistik semata: apa yang sebenarnya terjadi pada jiwa jutaan manusia yang dipaksa hidup, hari demi hari, di dalam mesin kekerasan yang bahkan ketika disebut ‘gencatan senjata’ pun belum benar-benar berhenti merenggut nyawa mereka?
Sejak 10 Oktober 2025, Gaza secara resmi berada di bawah kesepakatan yang disebut gencatan senjata, bagian dari rencana dua puluh poin yang diprakarsai pemerintahan Donald Trump dan diafirmasi Dewan Keamanan PBB lewat Resolusi 2803. Namun kenyataan di lapangan jauh dari kata damai. Kementerian Kesehatan di Gaza mencatat, per awal Agustus 2026, total 73.381 warga Palestina tewas dan 174.231 lainnya terluka sejak 7 Oktober 2023 — dan sejak gencatan senjata itu sendiri diberlakukan, sedikitnya 1.254 orang tewas serta lebih dari 4.100 lainnya terluka akibat serangan yang terus berlanjut. Lembaga think-tank J Street, dalam laporan pemantauannya untuk periode April–Juli 2026, mencatat implementasi fase kedua rencana perdamaian nyaris tidak bergerak, sementara kedua pihak tampak lebih memilih status quo ketimbang konsesi berarti.
Artikel ini bukan sekadar menghitung ulang korban jiwa — angka itu penting, tapi tak cukup menjelaskan apa yang terjadi pada jiwa manusia yang hidup di bawahnya. Tesis yang ditelaah di sini bersifat argumentatif, bukan putusan final: bahwa penduduk Gaza, terutama anak-anak, tengah mengalami apa yang dalam literatur psikiatri disebut continuous traumatic stress (trauma berkelanjutan) — kerangka yang menantang model klasik PTSD, karena ‘pasca’-nya belum juga tiba. Ini adalah kerangka analitis dari kajian akademik terbaru, bukan diagnosis final atas tiap individu, dan data prevalensi gangguan jiwa di Gaza bervariasi lebar tergantung metode dan sumbernya — sesuatu yang akan kami tandai secara eksplisit di sepanjang tulisan ini.
Perlu juga digarisbawahi sejak awal: istilah ‘genosida’ yang dipakai media ini mengikuti penggunaan luas oleh sejumlah pakar PBB, organisasi hak asasi manusia, dan akademisi hukum internasional — namun secara hukum formal, kasus yang diajukan Afrika Selatan terhadap Israel di Mahkamah Internasional (ICJ) atas dugaan pelanggaran Konvensi Genosida 1948 masih berjalan dan belum sampai pada putusan akhir soal pokok perkara. Israel membantah tuduhan tersebut dan mempersoalkan yurisdiksi pengadilan. Fakta ini penting dipahami sebagai konteks, bukan untuk melemahkan kegentingan yang dialami warga Gaza, melainkan agar pembaca bisa membedakan mana klaim hukum yang sudah diputus dan mana yang masih dalam proses.
Dengungan yang Tak Pernah Berhenti: Ketika Rasa Aman Menjadi Kemewahan
Dalam laporannya, Shaker menggambarkan bagaimana dengungan “zanana” telah menjadi lanskap suara permanen di Gaza — pesawat nirawak yang berputar-putar di udara dan memantau setiap sudut wilayah selama 24 jam. Bagi anak-anak yang lahir atau tumbuh di tengah pengepungan panjang, sulit membayangkan dunia tanpa suara itu. Dalam kerangka psikologi klinis, paparan ancaman yang tak terputus semacam ini melatih sistem saraf untuk selalu dalam kondisi siaga — sebuah respons yang disebut hipervigilans. Respons ini sesungguhnya adaptif dalam situasi bahaya nyata, tetapi ketika ancaman itu tidak pernah benar-benar reda, ia berubah menjadi beban kronis yang mengikis kemampuan seseorang untuk beristirahat, berkonsentrasi, atau merasa aman bahkan di saat-saat yang secara objektif tenang.
Yang membuat kondisi ini berbeda dari pengalaman perang konvensional adalah ketiadaan sistem peringatan sama sekali. Sejak Oktober 2023, menurut catatan Shaker, tak sekali pun sirene dibunyikan di Gaza — sebuah kontras tajam dengan konvensi militer modern yang lazimnya menyediakan waktu bagi warga sipil untuk berlindung. Ketika lubang perlindungan pun berisiko runtuh oleh bom berdaya ledak tinggi, sebagaimana terlihat di sejumlah kamp pengungsian dan lingkungan permukiman, maka yang tersisa bagi warga sipil bukan strategi bertahan, melainkan penerimaan pasif atas ketidakpastian total.
Continuous Traumatic Stress: Ketika Psikiatri Klasik Kehabisan Kosakata
Sejumlah kajian akademik terbaru mengonfirmasi skala persoalan ini, meski dengan rentang angka yang perlu dibaca hati-hati. Sebuah tinjauan yang terbit di jurnal Current Psychiatry Reports pada Maret 2026 menyimpulkan bahwa antara 70 hingga 90 persen anak-anak di Jalur Gaza memenuhi kriteria PTSD atau menunjukkan gejala depresi dan kecemasan yang signifikan — rentang lebar itu sendiri mencerminkan perbedaan metode antarstudi, bukan satu angka pasti tunggal. Tinjauan yang sama mengusulkan kerangka continuous traumatic stress sebagai pendekatan yang lebih tepat ketimbang PTSD konvensional, karena model PTSD mengandaikan adanya jeda antara peristiwa traumatis dan proses pemulihan — jeda yang, di Gaza, nyaris tidak pernah tersedia.
Sebuah studi lintas-seksi yang dipublikasikan di jurnal Child and Adolescent Psychiatry and Mental Health awal 2026 memperkuat gambaran ini secara lebih spesifik: dari 933 anak pengungsi yang disurvei lewat laporan pengasuh, rata-rata usia 7,6 tahun, tercatat rata-rata 6,7 kali pengungsian paksa dan paparan terhadap 6,6 dari 10 jenis kejadian traumatis yang disurvei. Perlu dicatat, data semacam ini bersumber dari laporan pengasuh, bukan diagnosis klinis langsung terhadap anak, sehingga rentan bias persepsi orang tua yang sendiri dalam kondisi tertekan — sebuah keterbatasan metodologis yang diakui para penelitinya sendiri, dan patut menjadi catatan bagi siapa pun yang mengutip angka-angka ini.
Gaza Community Mental Health Programme (GCMHP), lembaga layanan kesehatan jiwa tertua di Gaza yang dipimpin psikiater Yasser Abu Jamei, pernah mencatat pada pertengahan dekade 2010-an bahwa sekitar 45 persen anak yang datang ke pusat layanan mereka menunjukkan gejala PTSD dan 10 persen lainnya mengalami ngompol berulang — angka dari periode sebelum eskalasi 2023 dan karena itu tak bisa mewakili kondisi saat ini, meski memberi gambaran tren jangka panjang. Abu Jamei sendiri kehilangan 28 anggota keluarga besarnya, termasuk 19 anak, dalam satu serangan udara pada 2014 — dan dalam esai yang ditulisnya pada 2026, ia menyebut proses trauma dan penyembuhan di Gaza akan berlangsung jauh melampaui momen gencatan senjata mana pun.
“Psikiatri konvensional bicara tentang trauma pascaperistiwa. Tapi bagaimana menyebut trauma yang peristiwanya belum juga usai?”
Generasi Yatim: Ketika Rumah dan Keluarga Sama-Sama Hilang
Angka anak yatim di Gaza terus direvisi naik, dan penting dibaca sebagai rentang yang berkembang, bukan angka final. UNICEF, dalam laporan situasi kemanusiaan November 2025, mencatat lebih dari 58.000 anak kehilangan salah satu atau kedua orang tua, dan sekitar 1,1 juta anak — hampir seluruh populasi anak di Gaza — membutuhkan layanan perlindungan serta dukungan kesehatan jiwa dan psikososial. Kementerian Pembangunan Sosial Palestina, dalam data April 2026, menyebut angka itu telah melewati 64.000, dengan lebih dari 55.000 di antaranya kehilangan kedua orang tua atau pencari nafkah utama. Selisih antarlaporan ini wajar mengingat kedua lembaga memakai periode dan metode pendataan berbeda, di tengah infrastruktur pencatatan sipil yang sebagian runtuh.
Tenaga medis di Gaza bahkan menciptakan akronim baru untuk kategori korban paling rentan: WCNSF, “Wounded Child, No Surviving Family” — anak yang selamat dari serangan namun tidak memiliki satu pun kerabat yang bisa merawatnya. Istilah klinis ini, sesingkat apa pun bunyinya, menyimpan realitas yang jauh lebih berat: anak-anak yang terbangun di rumah sakit tanpa nama, tanpa orang tua, dan kadang tanpa satu pun anggota tubuh yang utuh. Namun ada risiko yang perlu disadari ketika angka-angka ini terus dikutip berulang: semakin sering sebuah statistik direvisi naik, semakin besar pula kemungkinan ia berhenti terasa sebagai manusia dan mulai terasa sebagai deret angka semata — sebuah bahaya yang justru sering diingatkan oleh pekerja kemanusiaan sendiri, bukan diabaikan oleh mereka.
Tubuh sebagai Arsip: Ketika Gigi, Kulit, dan Kaki Menyimpan Sejarah Kekerasan
Laporan Shaker turut merekam bagaimana trauma psikologis di Gaza kerap mewujud dalam bentuk fisik yang mudah luput dari perhatian dunia luar. Kerusakan gigi massal muncul setelah klinik gigi hancur dan blokade membatasi masuknya pasta gigi maupun peralatan kesehatan dasar — hal sesepele menggosok gigi berubah jadi kemewahan tak terjangkau. Perempuan dan anak perempuan menanggung beban struktural lebih berat: ketiadaan privasi, air bersih, dan perlengkapan kebersihan pribadi memaksa mereka menjalani kebutuhan paling dasar dalam kondisi yang merendahkan martabat. Warga yang berulang kali mengungsi digambarkan berjalan dengan sandal usang atau bahkan tanpa alas kaki. Gambaran ini bersifat jurnalistik-kualitatif, bukan survei epidemiologis berskala besar, sehingga sebaiknya dibaca sebagai ilustrasi pola umum — namun justru di situlah kekuatannya: menangkap sesuatu yang sulit direkam angka korban tewas semata.
Ironi Sebuah ‘Gencatan Senjata’: Trauma yang Tak Kunjung Diberi Ruang untuk Pulih
Salah satu argumen yang layak dipertimbangkan — murni argumentatif, belum tentu terbukti secara klinis — adalah bahwa hidup di bawah gencatan senjata yang masih merenggut nyawa setiap hari bisa jadi secara psikologis lebih melelahkan ketimbang perang yang jelas statusnya. Ketidakpastian kronis, saat warga tak pernah benar-benar tahu apakah hari ini aman, dikenal dalam literatur trauma sebagai salah satu pemicu stres paling merusak, karena otak tak pernah mendapat sinyal jelas untuk ‘menurunkan kewaspadaan’. Al Jazeera melaporkan awal Agustus 2026 bahwa serangan Israel justru meningkat setelah peta jalan fase kedua diumumkan, dengan sedikitnya 26 warga Palestina tewas dalam satu akhir pekan — sementara sejumlah analis menilai Netanyahu punya insentif politik domestik, menjelang pemilu Israel Oktober 2026, untuk mengulur implementasi penuh kesepakatan itu.
Namun gambaran ini tidak lengkap tanpa mengakui dinamika internal Palestina sendiri. Antara Maret dan Agustus 2025, sejumlah gelombang protes anti-Hamas berlangsung di dalam Jalur Gaza — dipicu kelelahan panjang akibat perang — di mana warga menuntut Hamas mengakhiri kekuasaannya dan mengupayakan penghentian perang. Fakta ini penting sebagai penyeimbang narasi: penderitaan kolektif warga Gaza tidak serta-merta berarti dukungan bulat terhadap seluruh aktor politik yang mengklaim mewakili mereka, dan psikologi kolektif masyarakat Gaza juga diwarnai frustrasi terhadap tata kelola internal, bukan semata kemarahan terhadap pihak luar.
“Gencatan senjata yang masih merenggut lebih dari seribu nyawa dalam sepuluh bulan bukanlah kedamaian — ia adalah perang dengan nama baru, dan barangkali justru itulah yang membuatnya lebih sulit untuk dijalani secara psikologis.”
Batas-Batas Ketahanan: Ketika ‘Resiliensi’ Tak Boleh Jadi Alasan untuk Diam
Riset lama tim GCMHP bersama peneliti seperti Raija-Leena Punamäki sejak akhir 1990-an menemukan bahwa keterlibatan aktif sosial-politik dan kedekatan relasi keluarga menjadi faktor protektif bagi ketahanan psikologis remaja Gaza. Temuan ini kerap dikutip untuk menonjolkan daya tahan masyarakat Palestina. Namun ada bahaya laten dalam narasi ketahanan yang terlalu diagungkan: ia berisiko dipakai — sadar maupun tidak — untuk melonggarkan tekanan internasional, seolah karena warga Gaza ‘terbukti tangguh’, penderitaan mereka tak lagi mendesak dihentikan. Ketahanan bukan bukti kekerasan bisa ditoleransi, melainkan bukti betapa besar kapasitas manusia dipaksa bekerja lembur hanya untuk bertahan hidup. Pekerja kesehatan jiwa Gaza sendiri tak kebal dari beban ini: trauma sekunder menjadi persoalan tersendiri yang jarang disorot, di tengah kolapsnya hampir seluruh infrastruktur layanan kesehatan jiwa akibat blokade dan pengeboman terhadap rumah sakit serta klinik.
Genosida di Meja Hijau: Psikologi Kolektif dan Proses Hukum yang Berjalan Lambat
Sejak Afrika Selatan mengajukan gugatan terhadap Israel di Mahkamah Internasional pada 29 Desember 2023 atas dugaan pelanggaran Konvensi Genosida 1948, proses hukum itu telah melalui serangkaian penundaan panjang. Israel baru menyerahkan tanggapan tertulisnya (counter-memorial) pada 12 Maret 2026, dan pada 21 Mei 2026 Mahkamah menetapkan tenggat baru hingga November 2027 bagi Afrika Selatan untuk menyerahkan repliknya — artinya putusan atas pokok perkara kemungkinan besar baru keluar akhir 2027 atau awal 2028, menurut proyeksi sejumlah pengamat hukum internasional. Israel mempersoalkan yurisdiksi Mahkamah dan membantah niat genosida.
Ini bukan sekadar catatan prosedural. Argumen yang bisa diajukan — meski belum terbukti secara empiris — adalah bahwa keterlambatan proses akuntabilitas hukum turut membentuk psikologi kolektif korban: rasa ketidakadilan berlarut-larut, tanpa kepastian kapan pengakuan resmi akan datang, adalah luka tersendiri yang berbeda dari luka fisik akibat serangan. Akademisi hukum internasional Indonesia seperti Hikmahanto Juwana dan Heribertus Jaka Triyana dari UGM kerap menekankan pentingnya publik memahami proses ICJ secara akurat — termasuk fakta bahwa proses ini, betapa pun lambat, tetap preseden penting karena baru pertama kali sebuah negara digugat resmi atas tuduhan genosida yang sedang berlangsung di hadapan pengadilan tertinggi PBB.
Yang Tersisa untuk Kita Lakukan
- Salurkan dukungan psikososial yang spesifik, bukan sekadar donasi umum
UNICEF mencatat sekitar 1,1 juta anak Gaza membutuhkan layanan kesehatan jiwa dan dukungan psikososial. Lembaga seperti INH, MER-C, Sahabat Al-Aqsha, atau Adara Foundation memiliki jalur bantuan kemanusiaan ke Gaza; saat menyalurkan donasi, tanyakan secara spesifik apakah ada program trauma-healing atau dukungan psikososial bagi anak, bukan hanya bantuan pangan dan medis darurat semata.
- Ikuti perkembangan kasus genosida di ICJ secara akurat dan sebarkan informasinya
Proses Afrika Selatan v. Israel di Mahkamah Internasional masih berjalan setidaknya hingga akhir 2027. Opini publik internasional yang terinformasi dengan benar — bukan simpang siur — terbukti memengaruhi tekanan diplomatik dalam kasus-kasus hukum internasional semacam ini. Rujukan seperti tulisan Hikmahanto Juwana dan Heribertus Jaka Triyana bisa membantu memahami tahapan proses ini tanpa berlebihan maupun meremehkan maknanya.
- Salurkan zakat dan infak secara terarah untuk program pengasuhan anak yatim Gaza
Dengan lebih dari 58.000 hingga 64.000 anak Gaza kehilangan salah satu atau kedua orang tua menurut data UNICEF dan Kementerian Pembangunan Sosial Palestina, BAZNAS, Dompet Dhuafa, dan Rumah Zakat memiliki program zakat-infak yang bisa diarahkan khusus untuk pengasuhan jangka panjang anak yatim Palestina, bukan hanya bantuan sesaat.
Penutup: Pertanyaan yang Tak Bisa Kami Jawab dengan Jujur
Dengungan “zanana” itu, menurut laporan Shaker, masih terdengar di langit Gaza bahkan setelah dunia menyebutnya sedang ‘berdamai’. Anak-anak yang lahir setelah Oktober 2023 kini berusia hampir tiga tahun, dan bagi mereka, suara pesawat nirawak yang berputar tanpa henti adalah bagian dari apa yang mereka kenal sebagai dunia yang normal — sebagaimana anak-anak di tempat lain mengenal suara lalu lintas atau kicau burung.
Kami tidak bisa, dengan jujur, mengatakan satu generasi ini akan ‘pulih’ dalam pengertian yang biasa kita pahami. Literatur psikiatri tentang continuous traumatic stress sendiri masih relatif muda, dan belum ada konsensus penuh tentang bagaimana pemulihan bisa dimulai ketika sumber traumanya — blokade, pendudukan, kekerasan berulang — belum juga berakhir secara struktural, bukan hanya secara militer. Yang bisa kami katakan adalah bahwa jarak antara angka 73.381 jiwa yang tercatat tewas dan jutaan jiwa yang masih hidup dengan trauma yang belum sempat disebut ‘pasca’, adalah jarak yang terlalu sering diabaikan dalam pemberitaan yang berhenti pada statistik. Proses hukum di Den Haag akan terus berjalan, mungkin hingga 2028; anak-anak Gaza, sementara itu, terus tumbuh besar di dalam ruang tunggu yang sama.
Pertanyaannya, pada akhirnya, bukan lagi semata apakah dunia suatu hari akan mengakui secara hukum apa yang terjadi di Gaza sebagai genosida. Pertanyaannya adalah: ketika pengakuan itu — jika ia datang — akhirnya tiba, akan seperti apa jiwa yang tersisa untuk benar-benar merasakan artinya?


