GAZA CITY — Serangan udara Israel menghantam sebuah kafe di kawasan pelabuhan Gaza City pada Selasa (18/8/2026) waktu setempat, menewaskan sekitar enam warga Palestina dan melukai lebih dari 10 orang lainnya. Militer Israel menyatakan serangan tersebut menyasar pertemuan komandan Pasukan Nukhba, unit elite Hamas yang memimpin serangan 7 Oktober 2023.
Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza City melaporkan menerima lima jenazah dan 13 orang luka-luka, salah satunya kemudian meninggal dunia pada malam harinya sehingga jumlah korban tewas bertambah menjadi enam orang, dalam serangan yang menurut lembaga pertahanan sipil yang dikelola Hamas menewaskan enam orang dan melukai 14 lainnya. Sasaran serangan adalah kafe bernama “Sweet and Bitter” yang berada di kawasan pelabuhan nelayan, sebelah barat Gaza City.
Kronologi Serangan
Saksi mata di lokasi kejadian, Mohamed Al-Ghoul, kepada kantor berita AFP menyebut pesawat tempur Israel menembakkan dua rudal ke arah kafe “Sweet and Bitter” di pelabuhan barat Gaza City.
Militer Israel (IDF) dalam pernyataannya mengonfirmasi bahwa serangan tersebut menyasar pertemuan komandan dan operator Pasukan Nukhba Hamas yang tengah merencanakan serangan terhadap pasukan Israel di Jalur Gaza. IDF menyebut target serangan mencakup seorang komandan kompi Nukhba, tiga komandan peleton, dan sejumlah operator teror lainnya.
Militer Israel juga mengklaim salah satu target dalam serangan itu pernah ikut serta dalam serangan ke wilayah Israel pada 7 Oktober 2023. Sementara itu, sumber Hamas kepada CNN menyebut kelompok yang menjadi target sebenarnya adalah tim dukungan logistik nonkombatan yang sedang menyusun rencana pengumpulan dan penyimpanan senjata sesuai kesepakatan gencatan senjata terbaru.
CNN melaporkan seorang anak laki-laki berusia 13 tahun beserta ayahnya turut menjadi korban tewas, sementara lebih dari selusin orang lainnya luka-luka.
Reaksi dan Konteks Politik
Hamas dan Jihad Islam Palestina menuduh Israel merusak proses perdamaian yang sudah tersendat, menyebut serangan itu sebagai “pelanggaran nyata terhadap upaya mediator untuk memperkokoh kesepakatan gencatan senjata dan memastikan pelaksanaannya”, serta menyerukan langkah lebih tegas untuk menghentikan pelanggaran tersebut sepenuhnya. CNN
Serangan ini terjadi satu hari setelah utusan Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner, mendesak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar menahan diri dari serangan yang hampir terjadi setiap hari di Gaza, yang sejak gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober telah menewaskan lebih dari 1.200 orang. Kushner disebut mendesak Netanyahu agar “tidak menciptakan hambatan” bagi rencana gencatan senjata yang sudah lama mandek. Trump sendiri, dalam wawancara dengan Fox News, turut menyatakan bahwa Israel seharusnya menghentikan serangan di Gaza.
Di sisi lain, Netanyahu disebut tetap bersikeras bahwa militer Israel tidak akan menarik diri dari Gaza kecuali Hamas terlebih dahulu setuju melucuti senjatanya, sementara Hamas menegaskan hanya akan menyerahkan senjata setelah Israel menarik pasukannya.
Kondisi Terkini
Peristiwa ini menambah panjang daftar pelanggaran gencatan senjata yang diberlakukan sejak 10 Oktober 2025. Menurut otoritas kesehatan Gaza, ofensif militer Israel sepanjang perang telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina, dengan hampir seluruh penduduk Gaza kini hidup di sebidang wilayah sempit sepanjang pesisir.
Militer Israel mengklaim bahwa akibat tekanan AS belakangan ini, pihaknya telah mengurangi skala operasi militer di Jalur Gaza dan hanya melakukan serangan udara terbatas.


