GAZA CITY — Antara 2003 dan 2011, setidaknya empat warga negara asing non-Muslim tewas di Jalur Gaza saat terlibat dalam aksi solidaritas atau peliputan jurnalistik terkait konflik Israel-Palestina. Tiga di antaranya — Rachel Corrie, Tom Hurndall, dan James Miller — tewas di tangan militer Israel dalam rentang waktu kurang dari dua bulan pada 2003. Satu lainnya, Vittorio Arrigoni, dibunuh delapan tahun kemudian oleh kelompok militan Salafi yang menculiknya di Gaza.
Keempatnya berasal dari organisasi yang sama: International Solidarity Movement (ISM), kelompok yang dipimpin aktivis Palestina dan mengorganisasi relawan internasional untuk melakukan aksi non-kekerasan di wilayah pendudukan.
Rachel Corrie: Dihadang Buldoser di Rafah
Rachel Corrie, warga Amerika Serikat berusia 23 tahun asal Olympia, Washington, tiba di Gaza pada akhir Januari 2003 sebagai relawan ISM. Ia adalah mahasiswi Evergreen State College yang tengah mengerjakan proyek akhir untuk membangun hubungan kota kembar antara Olympia dan Rafah.
Pada 16 Maret 2003, Corrie berada di kawasan Hi es-Salam, Rafah, bersama tujuh relawan ISM lain, mencoba mencegah buldoser lapis baja milik militer Israel menghancurkan rumah keluarga Nasrallah. Mengenakan rompi oranye menyala dan membawa pengeras suara, ia berdiri di depan buldoser tersebut. Buldoser itu tidak berhenti, menabraknya, lalu mundur di atas tubuhnya. Corrie meninggal tak lama kemudian.
Militer Israel menyebut kematian itu sebagai kecelakaan. Pengadilan Distrik Haifa pada 2012 memutuskan tidak ada unsur kelalaian dari pihak pengemudi, dan Mahkamah Agung Israel menolak banding keluarga Corrie pada 2015.
Tom Hurndall dan James Miller: Tiga Minggu yang Sama
Kurang dari sebulan setelah kematian Corrie, dua warga Inggris tewas di lokasi yang sama. Tom Hurndall, mahasiswa fotografi berusia 21 tahun, tiba di Rafah pada 6 April 2003. Pada 11 April, saat berjalan bersama relawan ISM lain di tengah tembakan tentara Israel, ia berusaha memindahkan tiga anak Palestina yang membeku ketakutan ke tempat aman. Ia tertembak di kepala oleh seorang tentara Israel dan mengalami koma selama sembilan bulan sebelum meninggal di London pada Januari 2004.
Tiga minggu setelah Hurndall ditembak, James Miller, juru kamera dokumenter berusia 34 tahun, tewas ditembak di Rafah pada 2 Mei 2003 saat memfilmkan penghancuran rumah warga Palestina untuk sebuah saluran televisi kabel AS. Ia mengenakan rompi bertanda pers dan membawa bendera putih saat kejadian. Film dokumenter yang sedang ia garap, “Death in Gaza,” kemudian meraih tiga penghargaan Emmy secara anumerta.
Pada 2006, juri pengadilan koroner di St Pancras, London, memutuskan bahwa baik Hurndall maupun Miller dibunuh secara sengaja. Seorang sersan tentara Israel, Taysir Wahid, sebelumnya telah dijatuhi hukuman oleh pengadilan militer Israel atas kematian Hurndall dengan dakwaan pembunuhan tidak disengaja (manslaughter), bukan pembunuhan berencana.
Vittorio Arrigoni: Dibunuh Kelompok Salafi, Bukan Israel
Kasus Vittorio Arrigoni berbeda dari ketiga kasus sebelumnya. Aktivis dan jurnalis Italia berusia 36 tahun ini masuk ke Gaza pada 2008 melalui kapal Free Gaza Movement yang menerobos blokade laut Israel. Selama tiga tahun di Gaza, Arrigoni menulis untuk media Italia Il Manifesto dan PeaceReporter, serta terlibat dalam advokasi hak nelayan Gaza terhadap pembatasan wilayah tangkap oleh angkatan laut Israel.
Pada 14 April 2011, Arrigoni diculik oleh kelompok militan Salafi yang menamakan diri Tawhid wal-Jihad. Kelompok itu menuntut Hamas membebaskan pemimpin mereka yang ditahan, dan mengancam akan membunuh Arrigoni jika tuntutan tidak dipenuhi dalam 30 jam. Sebelum tenggat itu berakhir, aparat keamanan Hamas menemukan jasadnya di sebuah rumah kosong di Gaza utara — dicekik atau digantung.
Pemerintah Hamas mengecam pembunuhan itu dan memburu pelakunya. Pengadilan militer di Gaza kemudian menjatuhkan hukuman seumur hidup kepada dua orang dan hukuman penjara kepada dua lainnya atas penculikan dan pembunuhan Arrigoni.
Empat Nama, Dua Narasi Berbeda
Keempat kasus ini menunjukkan bahwa kekerasan yang menimpa warga asing di Gaza tidak berasal dari satu sumber tunggal. Corrie, Hurndall, dan Miller tewas akibat tindakan militer Israel selama gelombang penghancuran rumah di sepanjang koridor Philadelphi pada masa Intifada Kedua. Arrigoni, sebaliknya, dibunuh oleh kelompok ekstremis lokal yang berseberangan dengan Hamas maupun dengan warga Gaza pada umumnya — pembunuhannya dikecam luas oleh masyarakat Palestina sendiri.
Sejak saat itu, pola kehadiran aktivis dan jurnalis asing di Gaza terus berlanjut, termasuk dalam berbagai upaya memecah blokade laut lewat kapal-kapal flotilla pada dekade berikutnya. Konflik yang berlangsung sejak Oktober 2023 kembali menempatkan isu keselamatan warga asing dan jurnalis di Gaza sebagai perhatian internasional, di tengah angka korban jiwa warga Gaza yang menurut data Kementerian Kesehatan setempat telah melampaui 73.000 jiwa hingga pertengahan 2026.


