KUPANG – International Networking for Humanitarian (INH) mulai melakukan respons kemanusiaan terhadap bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak Kamis (20/8). Pada hari pertama respons, INH mengerahkan sejumlah relawan melakukan kegiatan awal di wilayah Kabupaten Nagekeo.
Respons hari pertama difokuskan pada pendirian dan pengondisian pos bencana, sekaligus memastikan kebutuhan awal bagi masyarakat terdampak dapat segera dipenuhi. Tim INH juga melakukan pembelian kebutuhan untuk dapur umum serta logistik bantuan.
Kegiatan tersebut berlangsung di Desa Ngada dan Pasar Mbay, Kabupaten Nagekeo, NTT. Selain menjadi titik persiapan respons, lokasi tersebut digunakan tim untuk memenuhi kebutuhan operasional dalam mendukung pelayanan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak bencana.
Sebagai bagian dari kelanjutan respons, INH akan melaksanakan sejumlah kegiatan pada Jumat, 21 Agustus 2026, meliputi operasional dapur umum, distribusi logistik, serta distribusi air bersih kepada masyarakat yang membutuhkan.


Manajer program INH, Muhammad Hadyan menyebutkan “Kita telah menyiapkan salah satu pos kegiatan bencana yang berlokasi di RT 27, Danga, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Pos tersebut menjadi salah satu titik untuk mendukung koordinasi dan pelaksanaan respons kemanusiaan di lapangan.”
“Respons ini merupakan bagian dari upaya INH dalam membantu masyarakat terdampak bencana gempa bumi di NTT melalui pemenuhan kebutuhan dasar dan dukungan kemanusiaan secara bertahap sesuai kondisi di lapangan.” ungkapnya.
Diketahui, gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Kabupaten Nagekeo menyebabkan dampak besar terhadap masyarakat dan infrastruktur. Berdasarkan pembaruan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Kamis, 20 Agustus 2026 pukul 17.00 WIB, sebanyak 78 orang meninggal dunia, 953 orang mengalami luka-luka, dan 95.871 orang mengungsi.
Gempa tersebut tercatat terjadi pada 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB, dengan pusat gempa berada di wilayah Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Dampak bencana tercatat meluas ke 3 provinsi, 9 kabupaten, dan 1 kota. Sejumlah wilayah juga telah menetapkan status darurat bencana sebagai langkah penanganan terhadap dampak gempa.
Selain korban jiwa, gempa menyebabkan kerusakan besar pada permukiman warga. BNPB mencatat sedikitnya 38.898 rumah mengalami kerusakan, terdiri atas 14.735 rumah rusak berat, 9.178 rumah rusak sedang, dan 14.985 rumah rusak ringan.
Kerusakan juga terjadi pada berbagai fasilitas publik dan infrastruktur. Sebanyak 502 fasilitas pendidikan, 244 fasilitas kesehatan, 220 rumah ibadah, dan 294 unit kantor dilaporkan terdampak.
Selain itu, terdapat 31 fasilitas umum, 45 titik jalan, 16 jembatan, 10 fasilitas irigasi, satu gudang/ruang terdampak, dan satu pasar yang mengalami dampak akibat gempa. (ofr)


