HomeLiterasiFiksiSetengah Jeriken

Setengah Jeriken

#CerpenJumat — Edisi 3: Suara dari Gaza


Bilal sudah berdiri di antrean sejak sebelum azan Subuh, jeriken kuning kosong di tangannya, dan matahari belum juga naik penuh ketika ia menghitung: masih ada dua puluh tujuh orang di depannya.

Ibunya bilang, kalau truk air datang tepat waktu, satu jeriken penuh cukup untuk tiga hari—cukup untuk minum, untuk membasuh wajah Rana yang demam sejak semalam, untuk sisa air minum ayah yang bekerja bongkar puing sampai sore. Tapi truk air belakangan ini tidak pernah datang tepat waktu, dan ketika datang, jumlahnya selalu lebih sedikit dari yang dijanjikan.

“Kau kakak sekarang,” kata ibunya pagi itu, menyelipkan gelas timah kecil bergambar bintang ke saku Bilal—gelas yang dulu jadi gelas susu Bilal sendiri waktu ia sebesar Rana. “Bawa ini juga. Untuk mengukur, biar adil.”

Bilal tidak sepenuhnya paham kenapa gelas kecil itu penting. Tapi ia menyimpannya, dan berjalan ke titik distribusi sambil menyeret jeriken yang lebih besar dari langkahnya sendiri.


Matahari makin tinggi, dan antrean nyaris tidak bergerak. Debu yang diterbangkan angin menempel di tenggorokan, membuat suara-suara di sekitarnya terdengar serak—anak-anak yang mulai rewel, ibu-ibu yang berdebat pelan soal siapa yang lebih dulu datang, seorang lelaki tua yang terus mengipas dirinya dengan kertas koran lama.

“Truk selalu telat kalau anginnya dari selatan,” gerutu Abu Ramzi, pedagang kecil yang lapaknya biasa dikunjungi anak-anak menukar barang, berdiri tak jauh dari Bilal dengan dua jeriken sekaligus. Suaranya berat, sedikit mengejek dunia. “Bawa dua, kalau satu penuh, satu lagi buat cadangan. Itu baru namanya pintar.”

Di sisi lain, seorang perempuan muda menggendong bayi yang menangis lemah, suaranya lebih halus tapi tegas, “Jangan ajari anak-anak serakah, Abu Ramzi. Kita di sini menunggu giliran, bukan berlomba.”

Bilal memandangi keduanya bergantian, tidak tahu harus memihak yang mana. Ia hanya menggenggam gelas timah di sakunya, membiarkan pinggirannya yang sedikit penyok menekan telapak tangannya.


Ketika truk akhirnya datang—terlambat tiga jam dari biasanya—kabar buruk menyebar lebih cepat dari air itu sendiri: pasokan kali ini setengah dari jumlah normal. Petugas distribusi, seorang pemuda dengan rompi kotor, berteriak di atas keributan, “Setengah jeriken per keluarga! Hanya setengah! Yang di belakang, mungkin tidak kebagian!”

Antrean yang tadinya tertib mulai goyah. Seseorang mendorong dari belakang. Seorang anak menangis karena terjepit. Bilal memegang erat jerikennya, maju selangkah demi selangkah, jantungnya berdebar bukan karena panas matahari saja.

Ketika gilirannya tiba, ia mengulurkan jeriken dengan tangan gemetar. Air mengalir—tidak penuh, hanya sampai separuh, seperti yang diteriakkan petugas tadi—dan berhenti. Bilal berdiri mematung sebentar, menatap jeriken yang terasa terlalu ringan untuk tiga hari, terlalu ringan untuk Rana yang demam.

Ia berjalan menjauh dari antrean, dan di situlah ia melihatnya: perempuan yang tadi menggendong bayi, berdiri di ujung barisan yang sudah tidak lagi dilayani. Petugas sudah menutup keran. Truk sudah kosong.

Perempuan itu tidak berteriak, tidak memohon. Ia hanya berdiri, menatap jeriken kosongnya sendiri, sementara bayinya merengek lemah di gendongannya—suara tangis yang sudah kehabisan tenaga untuk menangis penuh.


Bilal berdiri di antara dua jarak: rumah, di mana Rana menunggu dengan demam dan ibunya menghitung hari; dan perempuan itu, yang bayinya bahkan belum cukup kuat untuk menangis dengan benar.

Ia mengingat kata ibunya. Bawa ini juga, untuk mengukur, biar adil. Ia pikir waktu itu gelas timah kecil itu hanya untuk membagi air antara dirinya dan Rana. Ia tidak pernah membayangkan “adil” bisa berarti sejauh ini.

Tangannya bergerak sebelum pikirannya selesai memutuskan. Ia berjongkok, membuka tutup jerikennya, dan menuangkan air—setengah dari yang setengah, diukur pelan-pelan pakai gelas timah bergambar bintang itu—ke dalam botol kosong yang disodorkan perempuan itu dengan mata tak percaya.

“Untuk bayinya,” kata Bilal, suaranya lebih kecil dari yang ia inginkan. “Bukan semuanya. Aku… aku juga punya adik di rumah.”

Perempuan itu menatapnya lama, bibirnya bergetar, lalu mengangguk cepat-cepat, seperti takut kalau ia bicara terlalu lama tawaran itu akan ditarik kembali. “Semoga Allah menjaga adikmu,” bisiknya, suaranya nyaris hilang ditelan angin yang masih membawa debu dan bau logam jeriken yang panas disengat matahari.


Bilal pulang dengan jeriken yang kini hanya seperempat penuh, gelas timah bergambar bintang tergenggam erat di tangannya yang basah oleh sisa tetesan air. Setiap langkah terasa berat, bukan karena beban jeriken—yang justru lebih ringan dari biasanya—tapi karena bayangan wajah ibunya nanti, dan Rana yang masih demam menunggu di dalam tenda.

Ibunya berdiri di depan tenda begitu melihatnya datang, dan matanya langsung menangkap jeriken yang jauh dari penuh. Ia tidak bertanya dulu. Ia hanya menatap wajah anaknya, membaca sesuatu di sana yang tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata.

“Ada yang lebih membutuhkan,” kata Bilal pelan, menunduk, siap menerima kemarahan yang mungkin akan datang.

Ibunya diam cukup lama hingga Bilal mengira ia salah bicara. Lalu, perlahan, ibunya mengambil jeriken itu dari tangannya, dan menyelipkan tangannya yang lain ke rambut Bilal yang penuh debu.

“Ambilkan Rana air minum dulu,” katanya, suaranya tidak marah, hanya lelah dan sesuatu yang lain yang Bilal belum cukup umur untuk menamainya. “Sisanya kita atur nanti.”


Minggu depan, perempuan yang menerima air dari Bilal akan mengetuk pintu tenda keluarganya sebelum fajar, membawa sesuatu di tangannya yang tak pernah mereka duga akan kembali.

ARTIKEL TERKAIT

Terkini