#CerpenJumat — Edisi 7: Suara dari Gaza
Rasha lewat sebentar pagi itu, hanya untuk mengantar Bilal yang menitip jeriken kosong pada tetangga, dan Umm Bilal sempat melihat tasbih kayu masih melingkar di pergelangan tangannya, sudah agak longgar karena terlalu sering dipegang. Ia tidak lagi berjalan memutar menghindari reruntuhan toko pamannya. Ia hanya berjalan lurus, seperti orang yang sudah menaruh bebannya di tempat yang benar—bukan hilang, hanya tidak lagi dipanggul sendirian.
“Masih menunggu?” tanya Umm Bilal pelan, sekadar basa-basi yang tulus.
“Masih,” jawab Rasha, tersenyum tipis. “Tapi sekarang aku menunggu sambil hidup. Bukan cuma menunggu.”
Ia berlalu, dan Umm Bilal menatap punggungnya sebentar sebelum kembali ke urusannya sendiri—hari itu, urusannya adalah mengantar Rana ke kelas Ustadzah Khadija, yang katanya hari ini akan kedatangan murid baru.
Samir sudah berdiri di ambang pintu sejak sebelum kelas dimulai, seperti minggu lalu. Bedanya, hari ini ia membawa tas kecil yang isinya hanya satu buku tulis kosong dan satu pensil pendek, digenggam erat seperti barang berharga yang bisa direbut kapan saja.
Khadija tidak langsung menyapanya. Ia membiarkan anak-anak lain masuk lebih dulu, menyiapkan papan tulis, dan baru setelah suasana kelas mulai riuh dengan obrolan kecil, ia berjalan pelan ke arah pintu, berdiri di sebelah Samir tanpa memaksanya bicara.
“Kau boleh berdiri di situ selama yang kau mau,” kata Khadija akhirnya. “Ibu tidak akan menyeretmu masuk.”
Samir menatap ke dalam ruangan, matanya berhenti lama di langit-langit yang retak di sudut kanan. “Sekolahku dulu juga begitu,” katanya pelan, hampir tak terdengar. “Retak dulu, sebelum akhirnya…”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Khadija menunggu, tidak mendesak. Hujan gerimis mulai turun lagi di luar, membasahi tanah yang masih menyimpan bau debu kering dari hari-hari sebelumnya, menciptakan aroma tanah basah yang tajam bercampur dengan bau terpal plastik yang mulai lapuk oleh cuaca.
“Aku ada di dalam waktu itu,” lanjut Samir akhirnya, suaranya bergetar kecil. “Aku dan dua temanku, Adam sama Firas. Kami sembunyi di bawah meja waktu suara pertama terdengar. Guru kami bilang itu aman, meja itu kuat.”
Ia berhenti lagi, jarinya mencengkeram tali tasnya lebih erat.
“Aku yang keluar duluan. Aku yang paling dekat pintu.” Matanya mulai berkaca-kaca, tapi ia menahan diri untuk tidak menangis, seperti anak-anak lain di kamp yang sudah belajar terlalu dini caranya menahan air mata di depan orang lain. “Mereka masih di dalam waktu atapnya jatuh.”
Khadija berjongkok, menyejajarkan diri dengan tinggi Samir, tidak menyentuhnya, hanya berada di sana, dekat, membiarkan hening berjalan sebentar sebelum bicara.
“Itu bukan salahmu,” katanya, suaranya pelan tapi tegas, tanpa nada kasihan yang berlebihan yang biasanya justru membuat anak-anak merasa lebih buruk, bukan lebih baik. “Meja itu memang seharusnya aman. Tidak ada yang tahu itu tidak akan cukup kuat.”
“Tapi kenapa aku yang selamat?” Suara Samir pecah untuk pertama kalinya, kecil tapi tajam, pertanyaan yang jelas sudah lama ia simpan sendirian, mungkin bertanya pada dirinya sendiri setiap malam tanpa pernah berani mengucapkannya keras-keras pada siapa pun.
Khadija tidak punya jawaban yang bisa memuaskan pertanyaan sebesar itu—tidak ada yang punya, bahkan untuk dirinya sendiri, soal kenapa ia yang masih berdiri di sini sementara Lina tidak. Ia hanya meraih tangan Samir yang gemetar, menggenggamnya pelan.
“Ibu juga bertanya hal yang sama tentang putri Ibu,” katanya jujur. “Ibu belum punya jawabannya. Tapi Ibu belajar, kadang kita tidak harus tahu jawabannya untuk tetap melangkah.”
Dari dalam kelas, suara anak-anak yang mulai membaca bersama-sama terdengar samar, dipandu Widad yang hari itu diminta Khadija memimpin sebentar sementara ia berbicara dengan Samir di pintu—suara Widad yang tegas memimpin teman-temannya mengeja kata demi kata, sedikit terlalu keras, seperti berusaha menutupi kegugupannya sendiri jadi “guru dadakan”.
Samir mendengarkan suara itu lama, matanya masih basah tapi sudah tidak lagi menahan napas seketat tadi.
“Kalau aku masuk,” katanya pelan, “dan atapnya jatuh lagi—”
“Terpal ini tidak akan menjatuhkan apa-apa,” potong Khadija lembut. “Tapi Ibu tidak akan bohong bilang tidak ada risiko sama sekali di dunia ini, Samir. Yang Ibu bisa janjikan, kalau kau di dalam, kau tidak akan sendirian menghadapinya.”
Samir berdiri lama di ambang pintu itu, hujan gerimis makin rapat di luar, membasahi ujung sepatunya yang sudah kedodoran. Ia menatap ke dalam sekali lagi—ke arah Widad yang masih memimpin bacaan, ke arah Rana yang tersenyum kecil sambil mengikuti, ke arah bangku-bangku beton yang menunggu kosong.
Lalu, pelan-pelan, satu langkah, lalu satu langkah lagi, ia melangkah masuk sepenuhnya, berdiri di dekat dinding dulu, belum berani duduk di bangku, tapi sudah di dalam—sudah cukup jauh dari pintu untuk pertama kalinya sejak delapan bulan.
Khadija tidak bertepuk tangan, tidak membuat keributan yang bisa membuatnya malu. Ia hanya berjalan masuk di belakangnya, melanjutkan pelajaran seolah tidak terjadi apa-apa istimewa—meski di dalam dadanya, sesuatu yang lama membeku mulai mencair sedikit.


